VELMORA

Erysin
Chapter #3

Bab 2. Penjara di Balik Lentera

🕊️✨





Velmora terlelap dalam buaian malam, setelah pesta gemerlap mereda. Lentera-lentera kertas, yang menjadi saksi bisu kemeriahan, kini tinggal bara samar yang hanyut di permukaan sungai.


Namun, di balik kediaman Velmora, malam menyimpan rahasia kelam. Lorong bawah tanah menyambut dengan udara dingin dan lembap, seolah menyimpan napas masa lalu yang terlupakan. Obor-obor yang tertancap di dinding memantulkan cahaya tak stabil, menciptakan bayangan menari, seolah menyaksikan drama yang akan segera terungkap.


Seorang wanita bertopeng digiring masuk. Pengawal-pengawal kekar mencengkeram lengannya, menyeretnya tanpa ampun. Gaun hitamnya tercabik, rambutnya berantakan, namun sorot matanya menolak menyerah. Bara amarah membara di balik tatapannya, menolak padam meski dikelilingi kegelapan.


"Lepaskan aku!" serunya. Suaranya menggema di lorong, penuh keberanian meski napasnya terengah. Seolah setiap kata adalah tantangan, deklarasi bahwa ia tak akan menyerah begitu saja.


"Diam!" bentak seorang penjaga. "Berhenti melawan, atau kau akan menyesal!"


Wanita itu dipaksa berlutut di lantai batu yang dingin. Tali kasar melilit pergelangan tangan dan kakinya, mengunci setiap gerakan. Ia menggertakkan gigi, menolak menunduk. Ia tak akan memberi mereka kepuasan melihatnya tunduk dan ketakutan.


"Bajingan!" geramnya. "Kalian pikir bisa menakutiku dengan ini?"


Seorang penjaga hendak melayangkan tangan, namun langkah ringan menghentikannya. Lucien masuk, berdiri tenang di sisi pintu. Tatapannya dingin, cukup untuk menghentikan gerakan mereka. Ia adalah bayangan setia, selalu di sisi tuan mudanya, siap melakukan apa pun yang diperintahkan.


"Tidak ada yang menyentuhnya tanpa izin tuan muda," katanya singkat. Suaranya datar, tanpa emosi, namun penuh otoritas.


Keheningan turun, hanya diselingi derak api obor. Lalu terdengar langkah lain, lebih berat, lebih berwibawa. Langkah yang menggema di lorong, mengumumkan kedatangan seseorang yang memiliki kekuatan dan kendali penuh:


Aurelian.


Ia muncul dari balik kegelapan, mantel hitam membungkus tubuhnya. Cahaya obor menyapu wajahnya yang dingin, sorot matanya tajam bagaikan bilah pisau. Ia berhenti di depan wanita itu, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Wanita bertopeng itu menatapnya dengan kebencian terbuka. "Lepaskan aku, pengecut!"


Aurelian tak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit, lalu dengan gerakan cepat meraih topeng yang melekat di wajahnya. Ditariknya kasar, seolah ingin membuka semua rahasia yang tersembunyi di balik topeng itu.


Topeng itu jatuh.


'Naeris...'


Sesaat, napas ruangan seperti terhenti.


Wajah wanita itu terbuka. Wajah yang dulu pernah hadir dalam hidupnya dan setelah bertahun-tahun, kini kembali menatapnya dengan api kebencian.


Aurelian terdiam sejenak, namun cepat menguasai diri. Rahangnya mengeras, sorot matanya tak berubah. Seolah pertemuan itu tak berarti apa-apa, hanya formalitas yang harus ia jalani.


Wanita itu tersenyum tipis, getir. "Akhirnya kita bertemu, Aurelian."


Kalimatnya bagai pisau berlapis madu: dingin, namun manis beracun, sindiran yang menusuk jantungnya.


Lucien yang berdiri di sisi hanya menunduk sedikit, menyembunyikan kilasan getir di matanya. Ia tahu lebih banyak dari siapa pun di ruangan itu. tahu kisah lama yang mengikat keduanya. Namun bibirnya terkunci. Rahasia itu bukan untuk telinga para penjaga. Ia hanya bisa menyaksikan drama ini dari pinggir, tanpa bisa ikut campur.


Di bawah cahaya obor, atmosfer terasa semakin pekat. Mereka tak lagi sekadar tahanan dan tuan rumah– tapi dua jiwa yang berdiri di ujung pisau masa lalu, saling menatap seperti musuh yang ditakdirkan.


Aurelian berdiri di depan Naeris, sorot matanya tak beranjak dari wajah wanita yang kini terikat itu. Sebelum berkata apa pun, ia menoleh sedikit ke arah Lucien. Ia hanya mengangkat dua jarinya pelan– isyarat singkat yang hanya bisa dipahami orang kepercayaannya.


Lucien mengangguk, lalu melambaikan tangan. Para penjaga segera keluar dengan langkah berat, meninggalkan keheningan dan sisa bau besi dari obor yang menyala. Ruangan itu kini menjadi arena pribadi bagi mereka berdua.


Namun, ketika Aurelian kembali menoleh, tatapannya menemukan Lucien yang masih berdiri di sana, tak bergerak. Keraguan terpancar jelas di matanya. Ia tahu apa yang akan dilakukan tuan mudanya, dan ia tak yakin apakah itu keputusan yang tepat.


"Tuan muda…" suaranya pelan, nyaris seperti bisikan, "kau yakin?"


Aurelian menatapnya datar. "Aku tak akan mengulanginya." Suaranya tegas, tanpa keraguan.

Lihat selengkapnya