VELMORA

Erysin
Chapter #4

Bab 3. Dua Wajah Velmora

🕊️✨



Pagi di kota Velmora bergerak dengan dua wajah yang kontras. Di luar tembok tinggi kediaman keluarga Ashbourne, pasar sudah riuh. Teriakan para pedagang sayur, derap langkah kuli pelabuhan yang memikul peti berat, serta bunyi roda kereta kuda yang bergesekan dengan jalanan berbatu, semua bercampur menjadi satu simfoni kehidupan yang kasar namun nyata.


Namun, di dalam halaman mansion yang luas ini, dunia seakan terpisah. Suasana tenang, teratur, dan dingin. Tidak ada keramaian, hanya ketenangan yang dijaga ketat oleh tembok-tembok tinggi dan aturan tak tertulis.


Di teras timur yang menghadap taman batu, sebuah meja bundar telah ditata rapi. Asap tipis mengepul dari cangkir-cangkir porselen, namun hanya satu yang benar-benar disentuh: cangkir keramik hitam di hadapan Aurelian. Teh pahit tanpa gula, kebiasaan yang tak pernah berubah setiap pagi.


Pria itu duduk tegak, jemarinya yang panjang menelusuri baris-baris catatan di atas map terbuka. Matanya dingin, fokus seolah seluruh dunia hanya terdiri dari angka dan laporan. Ia tak pernah menyentuh hidangan sarapan yang mengepul di hadapannya; baginya, pekerjaan adalah satu-satunya sarapan yang ia butuhkan.


Langkah kaki yang ringan memecah keheningan. Gaun berwarna ungu keperakan berkilau tertimpa sinar matahari pagi. Altheira datang, dengan segala kemewahan yang melekat pada dirinya. Rambutnya disanggul rapi dengan sisir giok, anting safir berkilauan setiap kali ia menggerakkan kepala.


“Pagi yang indah” sapanya manis, namun matanya langsung mencari sorot mata pria di hadapannya.


Aurelian menutup map itu perlahan, sekilas menoleh. “Pagi,” jawabnya singkat, lalu kembali menyesap tehnya.


Altheira menarik kursi dan duduk dengan anggun, menyibakkan ujung gaunnya agar terlihat sempurna. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja pelan, seolah butuh perhatian lebih. “Banyak yang membicarakan pesta semalam,” katanya dengan nada suara yang ringan, namun terselip rasa ingin tahu yang tajam.


Aurelian mengangkat alis, memberi isyarat agar ia melanjutkan.


“Rumornya beredar luas… katanya penyanyi tamu itu nekat mencoba melukaimu.” Altheira tertawa kecil, menunduk sedikit. “Orang-orang memang suka memperindah cerita, seolah hidup ini adalah sandiwara.”


Aurelian meletakkan cangkirnya kembali ke atas piring kecil. Suara porselen yang beradu terdengar jelas di tengah keheningan. Wajahnya tak berubah, tetap datar dan sulit dibaca.


“Rumor selalu mencari panggungnya sendiri,” ucapnya pelan. “Apa yang didengar orang dan apa yang sebenarnya terjadi… jarang sekali adalah hal yang sama.”


Altheira menahan senyumnya agar tetap terlihat manis, meski jemarinya yang memegang sendok mulai memutih karena mengepal kuat. “Tapi aku melihat caramu menatapnya,” desisnya pelan, matanya tak lepas dari wajah Aurelian. “Tatapan itu… berbeda. Seakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar curiga.”


Udara di meja itu mendadak membeku. Aurelian kembali membuka map di hadapannya, membalik lembar demi lembar tanpa tergesa, seolah ucapan wanita itu hanyalah angin lalu. Diamnya justru membuat suasana semakin menegang.


Akhirnya, ia bersuara, “Mataku terbiasa membaca ancaman, Altheira. Hanya itu.”


Altheira mencondongkan tubuh sedikit, senyumnya tetap terpasang namun sorot matanya menyimpan bara cemburu. “Tentu, aku mengerti. Hanya saja… aku tidak suka mendengar orang-orang membicarakanmu dengan perempuan macam itu. Apalagi hanya seorang penyanyi keliling yang tak jelas asal-usulnya.”


Ia menekankan kata terakhir dengan nada merendahkan, seperti duri halus yang diselipkan manis dalam percakapan.


Aurelian tak bereaksi berlebihan, ia hanya menutup map itu rapat-rapat, tanda diskusi ini sudah cukup baginya. Namun bagi Altheira, diamnya pria itu justru terasa seperti jarum yang menusuk dada.


Ketegangan itu akhirnya terputus ketika pintu geser di sisi teras terbuka. Lucien melangkah masuk dengan pakaian yang rapi namun sederhana, wajahnya tanpa ekspresi, selalu menjadi bayangan yang setia. Ia membungkuk sopan.


“Tuan Muda,” sapanya datar. “Laporan patroli malam. Mengenai keamanan pintu utara dan pergerakan orang asing di distrik pusat.”


Ia meletakkan sebuah map hitam bersegel di sisi meja, tepat di hadapan tuannya. Pandangan mereka bertukar sekilas, sebuah isyarat bisu yang hanya mereka berdua yang mengerti.


Altheira hanya melirik sekilas, lalu kembali memainkan gelasnya. “Urusan negara lagi?” gumamnya, nada suaranya sulit dibedakan antara candaan atau sindiran.

Lihat selengkapnya