VELMORA

Erysin
Chapter #5

Bab 4. Duka yang Tertinggal



🕊️✨




Di luar, Velmora bangun dengan riuh yang biasa: derap kuda di jalan berbatu, teriakan pedagang, dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Dunia terus berputar, seakan tak peduli apa yang tersembunyi di balik tembok tinggi sebuah kediaman.


Namun di dalam mansion Ashbourne, waktu berjalan dengan irama yang lain– pelan, senyap, dan terasa begitu berat. seolah menekan dada setiap orang yang berada di dalamnya.


Sejak fajar menyingsing, seluruh tirai jendela ditutup rapat. Cahaya matahari yang biasanya menerangi lantai marmer kini tertahan oleh kain hitam tebal, hanya mampu merembes tipis dan jatuh pucat. Koridor-koridor terasa mencekam; langkah para pelayan dipaksa sehalus mungkin, bahkan napas mereka seakan ditahan. Semua orang tahu: hari itu adalah hari duka tuan muda mereka.


Ruang berkabung terletak di sayap timur, berlantai kayu tua yang selalu berderit pelan meski telah dipoles berulang kali. Aroma dupa memenuhi seluruh ruangan, bercampur dengan wangi kayu cendana yang dibakar sejak dini hari. Udara di dalam terasa pekat, seakan memaksa siapa pun yang hadir untuk ikut menunduk dalam diam.


Di tengah ruangan berdiri altar kayu sederhana. Di atasnya, bingkai foto ayah dan ibu Aurelian terpajang tegak, diapit dua lilin tinggi yang nyalanya bergoyang tak menentu ditiup angin dari celah dinding. Di bawahnya, deretan papan kayu berukir nama-nama leluhur disusun bertingkat. setiap goresan menyimpan cerita yang terputus paksa di satu malam berdarah bertahun-tahun lalu.


Aurelian bersimpuh di depannya.


Diam.


Tak bergerak.


Sejak langit masih gelap.


Jubah hitamnya jatuh lurus tanpa hiasan. Rambutnya menutupi sebagian wajah yang tak memperlihatkan apa pun. Jemarinya mengambil sebatang dupa, mendekatkannya ke nyala api. menahannya sejenak, lalu menancapkannya perlahan.


Asap putih naik berputar.


Tipis.


Tenang.


Namun tak pernah benar-benar lurus.


Dan entah sejak kapan, bayangan itu kembali.



---


Hujan turun membasahi halaman mansion Ashbourne. Angin menderu kencang, seakan alam pun menangis memprediksi malapetaka yang akan datang.


Namun di tengah halaman batu itu, dua sosok tengah sibuk dengan dunianya sendiri, tak menyadari bahwa waktu sedang menghitung detik terakhirnya.


“Luruskan pergelangan tanganmu, Aurelian. Jangan kaku, tapi jangan pula lembek. Pedang adalah perpanjangan dari nyawamu.”


Ayahnya, Tuan Valerian Ashbourne, berdiri tegap dengan jubah latihan berwarna putih bersih. Di hadapannya, Aurelian kecil – baru menginjak usia empat belas tahun – bernapas terengah sambil memegang gagang pedang kayu dengan kedua tangan.


“Tapi Ayah, lenganku sudah berat…” rengek anak itu, wajahnya memerah menahan lelah.


Tuan Valerian tersenyum tipis, lalu mendekat dan membetulkan posisi tangan putranya dengan lembut namun tegas.


“Keluarga Ashbourne adalah pelindung. Jika kau lemah, kau tak akan bisa melindungi apa yang berharga. Ingat, pedang ini bukan untuk membunuh, tapi untuk menjaga.”


“Menjaga… Ayah dan Ibu?” tanya Aurelian, matanya berbinar polos.


“Benar. Menjaga kehormatan, dan menjaga orang yang kau cintai.”


Tepukan pelan mendarat di bahu putranya, menjadi tanda latihan usai. Mereka berdua tertawa kecil, suara tawa yang hangat bersahutan meski hujan di luar semakin deras.


Aurelian tak tahu… bahwa itu adalah tawa terakhir yang akan ia dengar seumur hidupnya.


---


Malam semakin larut. Aurelian sudah terbaring di kamar, memejamkan mata dengan pedang kayu itu masih terpeluk erat di samping bantal.


Di luar, angin malam berembus pelan melewati celah jendela, membawa suara samar dedaunan yang bergesekan.


Mansion perlahan tenggelam dalam sunyi– sunyi yang biasanya menjadi tanda bahwa dunia sedang beristirahat.


Namun malam itu, sunyi itu terasa sedikit berbeda.


Terlalu berat.


Seolah ada sesuatu yang menunggu di baliknya.


DOR!!


Suara keras memecah keheningan. Pintu utama hancur diserang. Kedamaian itu lenyap seketika, berganti menjadi neraka yang nyata.


Teriakan. Jeritan. Bau darah yang tajam mulai menyebar memenuhi udara.


Aurelian melompat bangun. Dengan tubuh yang gemetar hebat, ia mengintip keluar dari celah pintu kamarnya.


Di ruang tengah, puluhan pria bertopeng hitam menyerbu masuk. Mereka bersenjata lengkap, membantai siapa saja yang menghadang tanpa ampun. Pengawal dan pelayan tumbang satu per satu.


Dan di sana… di tengah kekacauan itu… ia melihatnya.

Lihat selengkapnya