🕊️✨
Ruang medis pribadi terletak di sayap dalam mansion, jauh dari hiruk-pikuk aula utama. Jendelanya besar, menghadap taman belakang yang masih basah oleh embun pagi. Tirai tipis dibiarkan setengah terbuka, membiarkan cahaya merambat masuk dengan ragu, jatuh pucat di atas lantai kayu tua dan perabot yang tertata rapi namun terasa dingin.
Aroma alkohol medis dan ramuan obat memenuhi udara- bersih dan kering. Cukup kuat untuk menekan sisa bau karat dan lembab yang masih tertinggal samar, jejak dari lorong bawah tanah semalam.
Ruangan itu sunyi- terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang seharusnya menyembuhkan.
Di atas ranjang putih, tubuh Naeris terbaring diam. Seprai yang terlalu bersih kontras dengan kondisinya: kulit pucat nyaris kehilangan warna, bibir kering pecah-pecah, dan napas yang keluar masuk belum sepenuhnya stabil.
Selang infus menancap halus di lengannya. Cairan bening menetes perlahan satu per satu, seakan bekerja keras mengisi kembali sesuatu yang hampir habis lenyap dari tubuhnya.
Kesadarannya tidak datang sekaligus.
Jemarinya bergerak lebih dulu- lemah, nyaris tak terlihat. Dinginnya logam di kulit menjadi hal pertama yang ia sadari, disusul rasa berat yang menekan tubuhnya dari dalam, seperti sesuatu yang belum sepenuhnya melepaskannya.
Kelopak matanya bergetar pelan.
Seberkas cahaya masuk terlebih dulu - tipis dan pucat - memecah gelap di balik pandangannya yang masih buram.
Butuh beberapa detik sebelum bentuk mulai terbentuk dengan jelas: garis jendela, bayangan tirai, langit-langit yang terlalu tinggi dan megah untuk sebuah ruang bawah tanah.
Ia tidak langsung bergerak.
Hanya bernapas pelan, mencoba menyesuaikan diri dengan ruangan yang terasa...
salah.
Seprai di bawahnya terasa terlalu halus. Udara di tempat ini terlalu kering. Tidak ada bau besi berkarat, tidak ada rasa lembab yang menusuk tulang.
Asing.
Kesadaran itu datang pelan, namun cukup untuk membuat napasnya tertahan sesaat di tenggorokan.
Ia tidak menoleh. Belum.
Namun di ujung pandangannya, sesuatu tertangkap samar: sebuah siluet.
Duduk.
Diam.
Sama sekali tak bergerak.
Naeris segera memalingkan wajah, memilih menatap dinding kosong di sampingnya. Seolah benda mati jauh lebih mudah dihadapi daripada kenyataan sosok yang duduk hanya beberapa meter jauhnya darinya.
Keheningan menggantung lebih lama dari yang seharusnya, membiarkan waktu berjalan lambat di antara mereka.
"Sudah bangun?"
Suara itu jatuh rendah. Tanpa tergesa, tanpa diiringi gerakan apa pun.
Sesaat ia membeku.
Sosok itu masih dalam posisi yang sama- kepala sedikit menunduk, mata terpejam, napasnya tetap teratur dan tenang. Seolah ia tidak pernah benar-benar tertidur, hanya... menunggu.
Ia tidak menoleh. Rahangnya mengeras tipis, menahan sesuatu yang terasa hampir naik ke permukaan.
Beberapa detik berlalu, cukup lama untuk membuat udara terasa sesak.
"Bagus."
Kali ini lebih pelan. Lebih dekat.
Dan pada saat yang sama, kelopak mata itu terbuka.
Tatapan gelap itu seketika terarah padanya- tajam, utuh, tanpa sisa kantuk sedikit pun. Seolah kesadaran itu memang sudah ada sejak tadi, hanya menunggu waktu untuk diperlihatkan.
"Bahkan lebih cepat dari yang kuduga."
"Tubuhmu rupanya masih tahu kapan harus bertahan."
Kalimat itu tidak menuntut jawaban, tidak pula mengandung nada bangga atau simpati. Hanya jatuh begitu saja di antara mereka, seperti sisa sesuatu yang dulu pernah dibiarkan runtuh tanpa penjelasan.
Naeris menghela napas pelan sebelum akhirnya bersuara. Suaranya serak, tipis, seperti sesuatu yang dipaksa keluar dari tenggorokan yang belum sepenuhnya pulih.
"Kau tidak perlu melakukan ini." Ada jeda singkat, cukup untuk menimbang makna di balik kata-katanya.
"Seharusnya... kau biarkan saja. Seperti waktu itu."
Ruangan itu kembali tenggelam dalam sunyi yang tidak benar-benar kosong. Cahaya pagi bergeser pelan di atas permukaan seprai putih, menyapu samar wajah Naeris yang masih sengaja tidak menatap ke arah mana pun.
Di antara mereka, udara terasa seperti ditahan terlalu lama- bukan oleh diam, tapi oleh hal-hal yang tidak diucapkan.
Aurelian akhirnya berbicara.