VELMORA

Erysin
Chapter #7

Bab 6. Sayap yang Patah

🕊️✨


Ruang kerja Aurelian Ashbourne terletak di lantai paling atas mansion, seolah menjadi dunia tersendiri yang terpisah dari hiruk-pikuk kehidupan di bawah yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak.


Suasana di dalam sana terasa jauh berbeda dari ruangan mana pun lainnya. lebih tenang, dan sunyi, seolah waktu berjalan dengan irama yang melambat serta penuh pertimbangan.


Cahaya pagi masuk melalui jendela besar di sisi timur, merembes perlahan melewati tirai yang terbuka setengah, lalu jatuh memanjang di atas lantai marmer yang dingin dan berkilau.


Di balik meja kerja yang berdiri kokoh di tengah ruangan, sosok itu tampak begitu selaras dengan ketenangan dingin yang memenuhi tempat tersebut.


Aurelian - pria keturunan keluarga Ashbourne itu - tengah bersandar di kursinya. Punggungnya menyentuh sandaran dengan posisi yang tetap tegap, seolah bahkan dalam keadaan setengah sadar pun ia tak pernah benar-benar membiarkan dirinya jatuh dan lepas kendali. Kepalanya sedikit terangkat, tidak miring, tidak pula tertunduk, sementara kedua matanya terpejam dalam diam yang tak berubah.


Raut wajahnya tenang.


Bukan jenis ketenangan yang rapuh, melainkan sesuatu yang terjaga. Garis rahangnya tetap tegas, bibirnya tertutup lurus tanpa sedikit pun melemah.


Keheningan itu bertahan cukup lama hingga terasa utuh, nyaris tak tersentuh. Hingga sesuatu yang asing perlahan menyusup di antaranya.


Bukan suara yang keras, bukan pula sesuatu yang benar-benar mengganggu- setidaknya, tidak bagi kebanyakan orang. Namun di tempat ini, sekecil apa pun perubahan tak pernah benar-benar luput dari perhatian.


Suara itu datang dari luar. Pendek, tajam, terputus, lalu kembali terdengar- kali ini lebih jelas, lebih mendesak, seolah memaksa untuk diperhatikan.


Suara gonggongan anjing yang terasa tak asing.


Kelopak mata Aurelian yang semula terpejam bergerak pelan, lalu terbuka sedikit. Belum sepenuhnya sadar, namun gerakan itu cukup untuk menandai bahwa gangguan itu berhasil menembus jeda singkat yang ia miliki. Kerutan samar muncul di keningnya, nyaris tak terlihat, sementara matanya menyipit tipis, mencoba menangkap sumber suara yang terasa tak pada tempatnya.


Gonggongan itu terdengar lagi- kali ini lebih jelas, memantul pelan dari dinding batu dan masuk tanpa izin ke ruangan yang sejak tadi terjaga.


Tak ada perubahan besar pada raut wajahnya, namun jeda itu berakhir di sana. Kesadarannya kembali utuh, dan keputusan untuk tak lagi mengabaikan gangguan itu jatuh begitu saja, tanpa perlu dipikirkan lebih lama.


Aurelian bangkit perlahan dari kursinya. Gerakannya tenang dan terukur, seolah tubuhnya hanya melanjutkan sesuatu yang sejak awal memang telah ia kendalikan sepenuhnya.


Langkahnya mengarah ke jendela, dan dengan satu gerakan ringan, ia menyingkap tirai yang terbuka setengah. Cahaya matahari seketika jatuh mengenai wajahnya, memperjelas garis-garis tegas yang sejak tadi tersembunyi dalam bayangan.


Di bawah sana, ia bisa melihat sosok yang berdiri di atas hamparan rerumputan, mengenakan gaun putih pucat yang jatuh longgar menutupi bentuk tubuhnya- sementara seekor anjing peliharaan mansion bergerak kesana-kemari, sesekali menggonggong di hadapannya.


Ekor hewan itu bergerak ringan; bukan tanda kewaspadaan, melainkan sesuatu yang hampir menyerupai kegembiraan. Hal kecil yang terasa ganjil di tempat yang jarang memberi ruang pada hal-hal semacam itu.


Aurelian tidak segera mengalihkan pandangannya. Ia berdiri lebih lama dari yang seharusnya, memperhatikan tanpa benar-benar memberi tanda apa pun. Kedua tangannya perlahan tersilangkan di depan dada- gerakan yang datang begitu saja, seolah tanpa sadar ia memilih untuk tinggal sedikit lebih lama di momen itu.


Anjingnya itu bukan tipe yang akan mendekat tanpa alasan- terlebih pada seseorang yang baru pertama kali ia lihat. Namun kini, ia justru berdiri di sana... terlalu dekat, terlalu mudah menerima kehadiran itu, seolah keberadaan gadis itu sendiri sudah cukup.


Sudut bibir Aurelian terangkat samar. Tipis. Nyaris tak cukup untuk disebut senyum. Hanya jejak kecil dari sesuatu yang cepat berlalu, sebelum kembali tenggelam dalam ketenangan yang sama seperti sebelumnya.


Lalu-


ketukan pelan terdengar di balik pintu.


Tak cukup keras untuk mengganggu, namun cukup untuk menarik segala batas kembali ke tempatnya.


Aurelian tidak menoleh. Pandangannya tetap jatuh ke arah halaman di bawah sana, tak benar-benar bergeser dari satu titik yang sama sejak tadi.


"Masuk."


Pintu kemudian terbuka.


Lucien melangkah masuk dengan sikap yang terukur sempurna, lalu berhenti pada jarak yang sudah ia pahami betul sebagai batas yang tak boleh dilampaui.


Ia menundukkan kepala singkat, menunggu sepersekian detik sebelum berbicara- sebuah jeda kecil yang lebih menyerupai permintaan izin daripada formalitas semata.


"Tuan muda, saya membawa laporan terbaru dari wilayah barat."


Aurelian tidak menoleh.


Pandangannya tetap tertuju ke arah halaman di bawah sana, seolah kata-kata itu hanya menjadi bagian lain dari suara yang lewat di sekitarnya.


"Sampaikan."


Jawabannya singkat. Datar. Namun cukup.


Lucien mengangguk tipis sebelum melanjutkan, suaranya kembali tersusun rapi seperti biasa.


"Pergerakan pihak seberang perbatasan masih dalam batas wajar, namun ada peningkatan aktivitas sejak dua hari terakhir. Para petinggi juga meminta kepastian terkait langkah yang akan diambil dalam waktu dekat."


Ia berhenti sejenak, memberi ruang, lalu melanjutkan tanpa tergesa.


"Selain itu, pertemuan yang dijadwalkan pekan ini kemungkinan perlu dimajukan. Ada indikasi perubahan sikap dari pihak luar, dan mereka tampaknya tidak ingin menunggu terlalu lama."


Tak ada tanggapan yang langsung diberikan, namun dari cara Aurelian berdiri, dari fokus yang tak terpecah- jelas bahwa setiap kata itu didengar dan disimpan dengan baik.


Lucien melirik sekilas ke arah tuannya, hanya sepersekian detik. Cukup untuk memastikan bahwa laporannya telah tersampaikan sebagaimana mestinya.


"Perintah lebih lanjut akan saya tunggu," tambahnya singkat, menutup bagian itu tanpa bertele-tele.


Keheningan kembali mengambil alih ruangan.


Namun kali ini, Lucien tidak langsung mundur.


Ada jeda kecil yang tertahan- cukup lama untuk membuatnya menyadari bahwa perhatian tuan mudanya tidak sepenuhnya berada di dalam ruangan itu.


Pandangannya sempat terangkat sedikit. Bukan untuk menatap langsung, melainkan sekadar mengikuti arah yang sama- ke jendela, tepatnya ke arah halaman bawah.


Ia tidak bertanya, Tidak pula mencoba memastikan. Namun cukup untuk memahami bahwa ada sesuatu yang sedang menahan fokus itu lebih lama dari biasanya.


Lihat selengkapnya