🕊️✨
"Menurutmu warna ini terlalu pucat?"
Altheira memiringkan wajah, menatap pantulannya di cermin besar sementara pelayan pribadinya merapikan helaian rambut di bahunya.
Cahaya sore jatuh lembut di atas meja rias marmer dan gaun berwarna gading yang membalut tubuhnya. Aroma teh hangat bercampur wangi melati memenuhi ruangan, menciptakan ketenangan yang nyaman, meski sedikit bertentangan dengan kegelisahan halus yang sejak tadi menggelayut di dadanya.
Pelayan itu tersenyum, matanya bertemu pandang dengan Altheira lewat pantulan kaca.
"Nona sudah menanyakan hal yang sama tiga kali."
Gadis itu terkekeh pelan, pipinya merona samar karena merasa malu. "Aku hanya ingin terlihat pantas."
"Untuk Tuan Aurelian?"
Gerakan sisir itu terhenti sejenak. Altheira menatap dirinya sendiri lebih lekat, sebelum senyum tipis tersungging lembut di bibirnya.
"Dia bilang akan datang malam ini."
Kalimat sederhana itu seolah mendatangkan kehangatan baru di udara. Suasana ruangan yang tadinya tenang kini terasa jauh lebih hidup.
Pelayan di belakangnya kembali tersenyum, lalu melanjutkan gerakan tangannya dengan lebih santai.
"Kalau begitu, Tuan Aurelian pasti takkan sanggup mengalihkan pandangan sepanjang malam."
Altheira baru saja hendak membalas, ketika suara roda kereta terdengar samar dari kejauhan, perlahan namun pasti mendekat ke arah sana. Gerak tangannya membeku seketika. Napasnya tertahan, dan matanya segera beralih menatap jendela balkon di hadapannya.
"...Dia datang."
-
Suara kereta bergema pelan di halaman luas Caerwyn, membelah keheningan senja yang mulai beranjak gelap. Kuda-kuda hitam berhenti tepat di depan tangga utama, membawa lambang keluarga Ashbourne yang terukir samar namun tegas di badan kereta berbalut besi gelap.
Para pelayan yang berjaga segera menunduk hormat. Para pengawal di sepanjang jalan pun perlahan mundur memberi jalan tanpa diperintah.
Pintu kereta terbuka perlahan.
Sepatu kulit hitam menyentuh permukaan batu terlebih dahulu, sebelum Aurelian turun dengan tenang. Mantel gelap panjang membingkai rapi tubuh tegapnya, sementara sarung tangan di tangannya masih belum terlepas sejak dalam perjalanan. Cahaya lampu halaman membias tipis di garis rahangnya yang dingin, membuat wajahnya tampak lebih tajam malam ini.
Tak ada ekspresi berlebihan di sana. Namun kehadirannya selalu cukup membuat suasana di sekelilingnya seakan berubah beberapa derajat lebih berat.
Seorang pelayan segera maju mendekat, lalu membungkuk dengan sopan. "Selamat datang, Tuan Aurelian."
Aurelian hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Pandangannya sempat terangkat sejenak ke arah balkon lantai atas, di mana tirai putih tampak bergerak pelan ditiup angin senja. Sepintas, sudut bibirnya terangkat sedikit- sebuah senyum tipis yang muncul secepat kilat lalu lenyap seketika.
"Apakah Tuan Eldric sudah menunggu?" tanyanya tenang seraya mulai menaiki tangga utama.
"Sudah, Tuan. Jamuan telah disiapkan sejak tadi."
Aurelian melangkah masuk ke dalam mansion yang pintunya terbuka lebar seolah menyambut kedatangannya. Cahaya hangat dan aroma bunga segar seketika menyapa indra saat ia melangkah masuk, namun entah mengapa kedamaian di permukaan itu terasa agak semu-seolah menyembunyikan ketegangan yang tak kasat mata di balik kemegahannya.
-
Ruang makan utama diterangi kilau lembut lampu kristal yang menggantung tinggi, memantulkan cahaya di atas meja panjang beralaskan taplak merah gelap serta peralatan perak yang tersusun rapi dan berkilau.
Tidak ada yang terburu-buru di ruangan itu, namun justru karena ketenangan itulah setiap kata terasa jatuh lebih berat dari seharusnya.
Eldric Caerwyn duduk di ujung meja dengan ketenangan seorang bangsawan tua yang tak perlu meninggikan suara untuk didengar. Senyumnya tampak ramah, hampir bersahabat.
Di seberangnya, Aurelian duduk dengan sikap tenang: punggung tegak, gerakan terukur, dan tatapan tajam yang selalu tersembunyi rapi di balik kesopanan.
Jamuan berlangsung tertib dan elegan. Seiring berjalannya waktu, percakapan di antara keduanya perlahan berubah, mulai dari basa-basi ringan hingga menyentuh hal-hal yang jauh lebih dalam dan tajam.
Pelayan terakhir mundur perlahan setelah menu utama selesai disajikan. Denting peralatan makan perlahan mereda, menyisakan suara samar gelas kristal yang disentuh ringan dan bara api kecil dari perapian di sudut ruangan.
Beberapa detik ruangan dibiarkan dalam diam yang wajar- tidak benar-benar kosong, hanya cukup untuk membuat setiap gerakan terasa lebih jelas dari biasanya.
"Terima kasih sudah berkenan hadir, Aurelian," ujar Eldric santai, nada bicaranya terdengar akrab. "Belakangan ini kau tampak sangat sibuk. Aku sempat khawatir kau akan melewatkan jamuan sederhana ini."