VELMORA

Erysin
Chapter #9

Bab 8. Di balik tirai


🕊️✨


Beberapa minggu terakhir, hidup Naeris terasa seperti berpindah dari satu kurungan ke kurungan lain.


Sejak malam ketika ia seharusnya menuntaskan dendamnya, semuanya justru berakhir dengan dirinya terjebak di tempat ini.


Dari ruang bawah tanah yang lembap dan dingin, hingga kini ruang medis pribadi Mansion Ashbourne yang terlalu bersih dan tenang untuk disebut nyaman, namun pada akhirnya tetap sama saja- ia masih tidak diizinkan pergi ke mana pun.


Hari-harinya hanya diisi obat pahit, tatapan waspada para penjaga, dan kebosanan yang perlahan mulai menggerogoti kepalanya.


Pagi itu pun tak jauh berbeda.


Naeris berbaring malas di atas ranjang medis yang sudah hampir seminggu ini ia tinggali. Sedari tadi tubuhnya hanya berguling ke kanan dan kiri, menatap langit-langit putih yang sama, dinding yang sama, dan tirai pucat yang bahkan mulai terasa menyebalkan di matanya.


Hening di ruangan itu terasa terlalu bersih.


Tidak ada suara selain detak jam kecil di sudut ruangan dan langkah penjaga yang sesekali terdengar samar dari luar pintu.


Naeris akhirnya mengembuskan napas panjang sebelum bangkit duduk. Rambut panjangnya jatuh berantakan menutupi sebagian bahu saat ia menyandarkan tubuh ke kepala ranjang dengan wajah datar. Tatapannya bergerak menyusuri ruangan, lalu berhenti pada jendela besar di sisi kamar yang tirainya setengah terbuka.


Cahaya pagi masuk tipis dari sana. Dari kejauhan, samar-samar ia bisa melihat halaman samping mansion yang mulai ramai oleh aktivitas pelayan.


Naeris mendecakkan lidah.


Setidaknya dunia di luar sana masih bergerak, berbeda dengan dirinya yang seperti sengaja dibiarkan membusuk di tempat ini.


Apa ini cara Aurelian menghukumnya? Membiarkannya mati perlahan karena bosan?


Pikiran itu membuat sudut bibirnya mengeras.


Kakinya perlahan turun menyentuh lantai dingin sebelum akhirnya bangkit mendekati jendela. Jemarinya menyingkap tirai tipis itu sedikit lebih lebar- dan tepat saat itulah, matanya menangkap dua sosok yang tengah berjalan melewati taman utama mansion.


Tatapannya tertahan sesaat lebih lama.


-


Cahaya pagi jatuh lembut di taman utama Mansion Ashbourne, memantul samar di jalan batu yang masih basah oleh embun sisa semalam.


Aurelian dan Altheira berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan hijau luas di sisi taman. Langkah keduanya lambat, tanpa terburu-buru, sementara ujung gaun Altheira sesekali menyapu rumput lembap di tepian jalan.


Tak ada percakapan di antara mereka. Hanya suara derap langkah yang saling bersahutan di atas jalan batu, bercampur dengan desiran angin pagi yang bergerak ringan di antara pepohonan tua taman mansion.


Udara pagi itu masih terasa dingin. Namun entah kenapa, suasana seperti ini terasa jauh lebih menenangkan.


Sudah beberapa hari sejak terakhir kali Altheira berjalan pagi di Mansion Ashbourne seperti ini. Mansion Caerwyn selalu terasa jauh lebih sunyi setiap kali hari peringatan itu datang.


Dan sekarang, hanya berjalan diam di sisi Aurelian saja sudah cukup membuat sesak di kepalanya terasa sedikit mereda.


Tatapannya terangkat sekilas ke arah pria di sampingnya.


Aurelian masih berjalan dengan tenang, kedua tangannya tersilang santai di belakang tubuh sementara pandangannya tetap lurus ke depan.


Pemandangan itu terasa begitu familiar bagi Altheira hingga tanpa sadar senyum tipis muncul di wajahnya.


"Sudah cukup lama aku tidak berjalan pagi di sini," gumamnya pelan. "Mansionmu tetap setenang biasanya."


"Kau baru pergi beberapa hari."


"Tapi tetap saja terasa lama."


Jawaban itu membuat sudut bibir Aurelian bergerak samar, nyaris tak terlihat.


Dan entah sejak kapan, percakapan kecil seperti ini selalu terasa lebih mudah bagi Altheira dibanding harus kembali menghadapi suasana Mansion Caerwyn.


Beberapa saat kemudian, barulah tatapannya beralih ke arah pria di sampingnya, kali ini sedikit lebih lekat.

Lihat selengkapnya