🕊️✨
Ruang kerja Aurelian masih menyala meski malam telah beranjak jauh.
Cahaya lampu meja jatuh tenang di atas permukaan kayu gelap, memantulkan tumpukan kertas yang berserakan di atasnya tanpa pola rapi.
Beberapa lembar masih tergulung dengan pita pengikat. Beberapa lainnya sudah terbuka setengah, sudutnya sedikit melengkung seperti baru saja dibaca lalu ditinggalkan.
Aurelian duduk di balik meja kerjanya- tidak sepenuhnya bersandar, namun juga tidak terlalu kaku seperti di ruang pertemuan formal.
Jemarinya bergerak pelan- mengambil satu per satu surat. Sementara matanya memindai dengan seksama setiap baris kata di dalamnya.
Tidak ada suara selain gesekan tipis kertas yang terseret pelan di atas permukaan kayu, serta derak api perapian di sudut ruangan.
Sesaat gerakan tangannya terhenti.
Matanya terpaku pada satu titik di antara tumpukan laporan yang memenuhi meja.
Ada sesuatu yang berulang di sana, bukan pada isi, melainkan pada arah yang sama.
Keningnya mengerut samar. Jemarinya mengetuk meja pelan, sebelum akhirnya diam.
"Aneh," gumaman pelan lolos dari bibirnya.
Hening kembali memenuhi ruangan.
Ketukan halus dari balik pintu terdengar pelan.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Lucien masuk ke dalam ruangan. Ia berhenti beberapa langkah dari meja, sebelum sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.
"Tuan muda."
Setelah itu barulah ia kembali menegakkan tubuhnya, mengambil posisi seperti biasa- kedua tangan tersilang rapi di depan.
Aurelian masih tak berbicara.
Ia mengangkat pandangannya sesaat. Sebuah anggukan kecil diberikan sebagai balasan sebelum matanya kembali jatuh pada laporan yang terbuka di hadapannya.
Lucien yang mengerti isyarat itu memilih menunggu dengan tenang.
Beberapa saat berlalu, sebelum akhirnya Aurelian meletakkan surat yang dipegangnya. Ia menyandarkan tubuh sedikit ke sandaran kursi, membiarkan pandangannya menyapu seluruh tumpukan kertas yang memenuhi meja.
Lucien memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.
"Ada masalah, Tuan muda?"
Aurelian tak segera menjawab. Masih memperhatikan kertas-kertas di hadapannya.
"Jumlah suratnya bertambah."
Ia berhenti sejenak.
"Dan pola pengirimannya semakin tidak masuk akal."
Lucien melirik sekilas ke arah tumpukan itu.
"Surat pengaduan lagi?"
"Hm." Jawaban singkat itu disusul suara kertas yang kembali bergeser.
Aurelian mengambil satu surat.
"Distrik perdagangan."
Surat lain.
"Pelabuhan."
Lalu yang lain.
"Perbatasan."
Hening.
"Kupikir setidaknya salah satu dari mereka akan menyelesaikannya sebelum surat-surat ini sampai ke sini."
Lucien terdiam sejenak. Tumpukan di hadapannya berasal dari tempat berbeda, ditulis orang berbeda, dikirim lewat jalur berbeda- namun semuanya berakhir di tempat yang sama.
"Apa yang kau lihat dari ini, Lucien?" tanya Aurelian.
Lucien berpikir sejenak sebelum menjawab tenang.
"Ketidakteraturan sistem. Dan mungkin... kecenderungan baru."
Aurelian menatapnya.
"Orang-orang tidak lagi menunggu jalur resmi." lanjut Lucien.
Tidak ada bantahan. Karena itulah kenyataannya. Surat-surat ini seharusnya ditangani di kantor wilayah, dewan administrasi, atau pejabat yang berwenang.
Namun satu per satu tetap sampai ke meja ini- seolah semua jenjang dilewati demi mencari sosok yang dianggap benar-benar akan bertindak.
Aurelian memandang tumpukan surat itu beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
Kali ini tidak seperti sebelumnya. Tidak ada lagi kerutan samar di antara alisnya. Dan untuk pertama kalinya sejak Lucien hadir di ruangan itu, tatapannya benar-benar beralih kepadanya.
"Bagaimana dengan Naeris?"
Pertanyaan itu datang begitu saja.
Lucien tampak tidak terkejut. Seolah ia memang sudah menunggu pertanyaan itu sejak awal.
"Nona Naeris sudah sepenuhnya pulih." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Dan tampaknya fisiknya sudah cukup kuat untuk memulai."
Aurelian mengangguk pelan.
"Bagus."
Api di perapian berderak pelan di sudut ruangan, sesekali hembusan angin mengetuk pelan di luar kaca jendela.
Lucien sempat terdiam beberapa saat.
Tatapannya bergeser pada pria di hadapannya sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Jadi Anda benar-benar akan melakukannya?"
Kali ini Aurelian mengangkat pandangan.
"Aku tidak berpikir untuk mengubahnya."
Jawaban singkat itu cukup.
Tidak ada keraguan dalam suaranya. Tidak ada tanda bahwa keputusan itu masih bisa berubah.
Lucien tidak tampak terkejut mendengarnya. Sejujurnya, ia juga tidak benar-benar berharap jawaban yang berbeda.
Namun itu tidak mengubah satu hal.
"Hal ini mungkin akan menjadi sedikit rumit."
Tatapan Aurelian tertahan sesaat.
Tidak ada nama yang disebut.
Tidak perlu.
Keduanya sama-sama memahami ke mana arah pembicaraan itu bergerak.
Beberapa detik berlalu.
Tatapan Aurelian tidak lagi tertuju pada Lucien. Seolah sedang menimbang sesuatu yang hanya bisa ia lihat di kepalanya sendiri.
"Cepat atau lambat mereka akan tetap bertemu."
Nada suaranya tenang.
Keputusan telah dibuat.
Dan yang tersisa hanyalah menunggu saat semuanya mulai bergerak.
-
Pagi itu tiba lebih cepat daripada yang diharapkan sebagian orang.
Kereta yang membawa Aurelian, diiringi beberapa pengawal di belakangnya, telah lama meninggalkan gerbang utama ketika Altheira akhirnya berbalik dan melangkah kembali ke dalam mansion.
Udara pagi masih terasa sejuk ketika ia melangkah melewati aula depan. Cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela tinggi jatuh panjang di atas lantai marmer, sementara beberapa pelayan mulai sibuk menjalankan pekerjaan mereka masing-masing.
Biasanya ia akan menuju rumah kaca pada jam seperti ini.
Namun pagi itu, entah mengapa ia lebih tertarik menghabiskan waktunya di perpustakaan.
Langkahnya membawa dirinya menyusuri koridor utama yang membelah lantai dasar mansion.
Di satu sisi koridor terdapat deretan ruangan yang lebih sering digunakan untuk menerima tamu dan urusan keluarga. Di sisi lainnya, lorong memanjang menuju sayap timur- bagian mansion yang cenderung lebih sepi dan jarang menarik perhatian.
Perpustakaan berada tidak jauh dari sana.
Namun sebelum sampai ke tujuannya, sesuatu lebih dulu mengusik perhatiannya.
Seorang pelayan baru saja keluar dari arah sayap timur.
Altheira tidak terlalu memikirkannya.
Hingga beberapa saat kemudian, pelayan lain muncul dari arah yang sama.
Lalu satu lagi.
Langkahnya perlahan melambat.
Tatapannya mengikuti salah satu pelayan yang berjalan melewati koridor sambil membawa nampan kosong di kedua tangan.
Bukan pertama kalinya ia melihat pemandangan seperti itu dalam beberapa hari terakhir.
Namun baru pagi itu ia benar-benar memperhatikan.
Alisnya terangkat sedikit.
Sayap timur tidak pernah menjadi bagian mansion yang cukup sibuk untuk menarik perhatian sebanyak itu.
Ia lantas berhenti sepenuhnya.
Tatapannya masih mengikuti salah satu pelayan yang menghilang di balik persimpangan koridor ketika suara langkah lain terdengar dari arah berlawanan.
Seorang pelayan mendekat sambil membawa nampan perak dengan teko teh dan cangkir porselen yang masih mengepulkan uap tipis.
Begitu melihat Altheira, pelayan itu segera menundukkan kepala.
"Nona muda."