🕊️✨
Senja telah lama meninggalkan langit Velmora.
Di balik jendela-jendela tinggi Mansion Ashbourne, semburat cahaya terakhir telah digantikan oleh lampu taman yang menyala satu per satu, membiaskan warna keemasan di sela pepohonan yang mulai tenggelam dalam gelap.
Bangunan itu kembali diselimuti ketenangan-khas rumah-rumah besar ketika para penghuninya telah kembali dari urusan masing-masing, menyisakan lorong-lorong panjang yang hanya ditemani gema langkah para pelayan.
Di salah satu ruangan sayap timur, seorang pelayan baru saja melangkah keluar. Jemarinya menarik daun pintu hingga tertutup rapat, lalu langkahnya perlahan menjauh menyusuri koridor yang kembali lengang.
Tepat di tengah ruangan, sehelai kain berwarna abu-biru terlipat rapi di atas meja kayu. Lambang kecil keluarga Ashbourne yang tersemat di bagian dada tampak jelas diterangi cahaya lampu. Sebuah buku peraturan mansion setebal lengan diletakkan sejajar di sampingnya-seolah sengaja dipersiapkan untuk seseorang yang bahkan enggan menyentuhnya.
Sedari tadi sosok penghuninya tak pernah benar-benar diam. Langkahnya berputar di sekitar meja itu. Berjalan beberapa langkah, berhenti sejenak, lalu berbalik lagi. Seolah sedang mencari sudut ruangan yang mampu menghilangkan keberadaan seragam itu dari pandangannya.
Sayangnya, dari mana pun ia berdiri, lipatan kain abu-biru itu tetap menjadi hal pertama yang tertangkap matanya.
Langkahnya akhirnya terhenti tepat di samping meja. Jemari Naeris mengepal di sisi tubuhnya, berusaha menahan amarah yang terus berputar di kepalanya.
Tatapannya kembali jatuh pada seragam itu. Lipatannya terlalu rapi. Terlalu sempurna. Seolah penghinaan itu memang telah direncanakan sejak lama.
"Aku seharusnya tidak terkejut."
Pandangannya beralih pada lambang Ashbourne yang berkilau tertimpa cahaya.
"Kau sudah merampas segalanya."
Sudut bibirnya mengeras tipis.
"Harga diriku rupanya giliran berikutnya."
Ucapan itu menggantung di udara.
Tidak ada suara lain di ruangan itu, selain langkah bersepatu yang perlahan mendekat.
"Ck... lagi-lagi membuat keributan."
Lamunan Naeris seketika buyar. Kesadarannya yang sempat terhanyut perlahan kembali.
Ia terlalu mengenal suara itu untuk berpura-pura tidak tahu.
Naeris mendengus pelan.
"Aku sempat berpikir masa pemulihan akan membuatmu lebih banyak diam."
"Rupanya aku berprasangka terlalu baik."
Pandangan Lucien tak beranjak dari gadis itu, mengamatinya beberapa saat.
Pengawal muda itu hanya berdiri di sana, menyandarkan bahunya pada kusen pintu. Kedua tangannya terlipat santai di depan dada, seolah ucapannya sendiri bukan sesuatu yang layak dianggap serius.
Raut wajahnya bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menginterupsi suasana.
"Jika kau datang hanya untuk menyindir, lebih baik pergi," balas Naeris tajam, tanpa sedikit pun mengubah posisinya.
Tak ada tanggapan pasti. Lucien hanya mengangkat sebelah alisnya. Ekspresinya tetap tenang, seolah balasan tajam itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Lagipula, ia sudah cukup mengenal keras kepala gadis itu untuk tahu jawaban seperti apa yang akan keluar darinya.
Ia kemudian melepaskan tubuhnya dari kusen pintu, berjalan dengan langkah pelan. Matanya berkeliling menyapu ruangan hingga akhirnya berhenti pada meja di samping ranjang.
Beberapa piring dan mangkuk tertata di sana, dipenuhi makanan yang bahkan tampak lebih layak daripada hidangan sederhana untuk seorang tahanan.
"Aku datang untuk menyampaikan pesan."
Tangannya terulur mengambil sebuah apel dari atas meja, mengamatinya sekilas.
'Tuan Muda itu memang tidak pernah setengah-setengah jika sudah memutuskan untuk menjaga sesuatu.'
"Aurelian menunggumu." Ia mengatakannya dengan nada santai, seolah nama itu tak lebih dari bagian kecil pesan yang harus disampaikan.
Sementara Naeris masih diam. Pandangannya terpaku pada satu titik.
Ingatannya seketika kembali pada kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Seragam, tatapan pria itu, suaranya, dan keputusan yang seolah tak memberinya ruang untuk memilih.
Rahangnya kembali mengeras.
"Kau benar-benar berpikir aku akan mengenakan seragam ini setelah semua yang terjadi?"
Gadis itu lantas berbalik. Tatapannya jatuh pada Lucien dengan kemarahan yang belum benar-benar mereda.
Sementara pengawal muda itu hanya menggeleng pelan. Tak sedikit pun terusik oleh luapan emosi gadis di hadapannya.
Ia meletakkan apel kembali ke tempatnya semula, memutar tubuhnya menghadap sepenuhnya gadis itu.
Lucien berdecak.
"Betapa bodohnya wanita ini."
Ucapannya meluncur begitu saja, tanpa sedikit pun mengubah nada bicaranya.
"Namun harus kuakui, keras kepalamu kadang jauh lebih gigih daripada otakmu sendiri." Nadanya tetap datar. Pandangannya tak lepas dari wajah Naeris, seolah tak ada satu pun perkataannya yang keliru.
"Aku memang keras kepala, tapi aku tidak bodoh. Tidak seorang pun di tempat ini bisa membuatku tunduk."
Lucien terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Baru setelah itu ia melangkah mendekat. Senyum mengejek yang tadi menghiasi wajahnya perlahan lenyap. Tatapannya kini menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
"Menarik..."
"Sungguh menarik."
Hingga langkahnya terhenti tepat di hadapan gadis itu.
Naeris masih berdiri dengan raut wajah yang menyimpan amarah.
"Baik."
Lucien sedikit menunduk, menatap lurus ke arah gadis itu.
"Mari kita lihat seberapa lama keteguhan itu akan bertahan... Sera Naeris."
Pandangannya kemudian bergeser, melewati bahu Naeris lalu jatuh pada seragam abu-biru yang masih terlipat rapi di atas meja. Belum tersentuh sejak pertama kali diletakkan di sana.
Tatapannya tertahan sesaat sebelum kembali pada Naeris.
Tanpa menunggu jawaban, ia lantas berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah pelan, seolah percakapan di antara mereka telah selesai.
Di belakangnya, jemari Naeris perlahan mengepal, menahan amarah yang kembali naik hanya karena satu panggilan itu.
"Aku bukan Sera."
Suaranya terdengar lebih keras daripada sebelumnya-cukup untuk membuat langkah Lucien terhenti sesaat.
Pria itu menoleh sedikit.
"Sepuluh menit."
"Lewat dari itu, kau akan berhadapan langsung dengan Tuan Muda."
Tanpa menambahkan sepatah kata pun, ia melanjutkan langkahnya menuju pintu, meninggalkan Naeris sebelum gadis itu sempat menyampaikan penolakan lebih lanjut.
"Bajingan." Kata itu lolos begitu saja dari bibir Naeris, matanya menatap pintu yang baru saja tertutup di hadapannya.
Sunyi.
Kini hanya tersisa dirinya sendiri di ruangan itu, bersama selembar seragam yang masih terlipat rapi di atas meja.
Sementara itu, di ujung lain Mansion Ashbourne, malam telah sepenuhnya mengambil tempat.
-
Udara malam itu terasa sejuk.