Ven

farjana aranaz
Chapter #1

Alaric

Di sebuah menara tua yang tersembunyi jauh di dalam hutan, seorang elf bernama Alaric memandang keluar jendela dengan tatapan yang penuh dengan tekad. Rambut putih panjangnya yang tergerai ditiup angin, sementara matanya yang biru bersinar dengan kebijaksanaan tujuh ratus tahun. Tapi jangan salah, meski bijaksana, ada sesuatu yang konyol tentang dirinya-entah itu caranya menggumamkan mantra dengan lidah yang kadang keseleo, atau kebiasaannya berbicara pada tanaman pot yang dipeliharanya dengan penuh kasih sayang.


"Hari ini, dunia akan berubah," gumam Alaric kepada dirinya sendiri. "Ya, atau setidaknya, aku akan berubah. Mungkin... siapa yang tahu?"


Dengan semangat yang membara, Alaric bergegas mengumpulkan semua peralatan sihirnya. Dia mengenakan jubah hijau zamrud yang telah bersamanya selama berabad-abad, mengambil tongkat sihirnya, dan mengeluarkan sepotong roti keras dari sakunya-sisa bekalnya sejak beberapa hari lalu. Dengan gaya seperti seorang penyair yang sedang merenungkan nasibnya, dia memandang roti itu dengan penuh harap.


"Ah, roti keras, sahabat lama... apakah engkau siap untuk petualangan baru?" katanya, lalu menggigitnya dengan ekspresi penuh penderitaan. Roti itu terlalu keras, hingga terdengar suara 'kriuk' yang nyaring, seakan roti itu sedang tertawa mengejeknya.


Setelah memastikan semuanya siap, Alaric berdiri di ambang pintu menaranya. Dia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, seakan sedang melakukan ritual besar. "Dengan kekuatan yang telah kupelajari selama tujuh ratus tahun... hari ini, aku akan mengalahkan Raja Iblis dan menyelamatkan dunia!" serunya penuh percaya diri.


Namun, saat dia hendak melangkah keluar, ujung jubahnya tersangkut di pintu, membuatnya hampir terjatuh. Alaric menggerutu sambil menarik kembali jubahnya. "Uh, bahkan jubahku tidak ingin aku pergi. Tapi tidak apa-apa, kita akan melakukannya bersama-sama, Jubah Tua!"


Dengan langkah penuh semangat, Alaric akhirnya meninggalkan menaranya. Dia menuruni gunung, menyusuri jalan setapak yang sudah lama tidak dilaluinya. Pohon-pohon yang dulu kecil kini telah menjulang tinggi, dan jalan setapak yang dulu mulus kini ditutupi akar-akar yang menyembul ke permukaan. Namun, Alaric hanya mengangkat bahu, terus melangkah dengan ringan, dan terkadang berhenti untuk berbicara dengan burung yang lewat.


"Apa kabar, burung kecil? Sudahkah kamu mendengar kabar terbaru tentang dunia luar?" tanya Alaric kepada seekor burung biru yang berkicau riang di atas ranting.


Burung itu menatapnya sebentar, sebelum terbang menjauh tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Alaric yang mengangguk bijaksana. "Diam adalah jawaban terbaik, begitu ya? Bagus. Itu berarti aku sedang menuju ke arah yang benar."


Beberapa saat kemudian, Alaric tiba di sebuah desa kecil yang sunyi. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar di sepanjang jalan utama, dan beberapa penduduk desa tampak sibuk dengan aktivitas harian mereka. Alaric mendekati seorang pria tua yang sedang duduk di depan rumahnya, menghirup pipa.


"Selamat siang, Tuan!" sapa Alaric dengan senyum lebar. "Bisakah Anda memberitahuku di mana aku bisa menemukan Raja Iblis?"


Pria tua itu mengernyit, lalu tertawa terbahak-bahak. "Raja Iblis? Anak muda, kau bercanda? Raja Iblis sudah dikalahkan lima puluh tahun yang lalu!"


Mendengar hal itu, Alaric terperanjat. "Apa? Dikalahkan? Lima puluh tahun lalu?! Tapi aku baru saja keluar dari menaraku setelah tujuh ratus tahun untuk melawan dia!"


Pria tua itu tersenyum geli. "Sepertinya kau sudah terlalu lama bersembunyi, anak muda. Dunia sudah berubah. Kau terlambat lima puluh tahun untuk pesta besar itu!"


Alaric terdiam, merasa kebingungan. Selama berabad-abad, dia mempersiapkan diri untuk menghadapi Raja Iblis, mempelajari setiap sihir yang ada di dunia. Dan sekarang, mendengar bahwa musuh besarnya sudah dikalahkan, dia merasa seakan-akan semua usahanya sia-sia. Namun, dia tidak menyerah begitu saja. Meskipun rencana utamanya telah gagal, dia masih memiliki semangat petualangan yang tinggi.


"Baiklah," kata Alaric setelah beberapa saat, dengan senyum yang kembali menghiasi wajahnya. "Kalau begitu, mungkin aku bisa mencari tahu siapa yang mengalahkan Raja Iblis itu dan apa yang mereka lakukan sekarang. Ada yang tahu di mana aku bisa mendapatkan informasi?"


Lihat selengkapnya