Venchouva

Reveniella
Chapter #4

Piece

Aku melihatmu seperti menemukan potongan yang hilang

Matahari semakin meninggi, karamel duduk disalah satu meja didekat jendela sambil memandangi langit. Tatapannya kosong dan ia tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Tidak terasa sudah satu bulan lebih Karamel resmi menjadi siswa Sethard Sevit dan menjadi primadona di sekolahnya. Hal itu merupakan sebuah pencapaian terbesar baginya.

 Dulu, saat karamel belum pindah ke Sethard Sevit dan ia masih bersekolah Amsterburgh, Karamel hanya seorang siswi introvert yang berbakat di bidang sastra, Seni, dan Sains namun, sikapnya yang tertutup membuat karamel sering dijuluki sebagai anak haram Zeus, karena nama ayahnya, Profesor Alfared Candella Zeus. Julukannya itu membuat karamel sering melakukan self injury bahkan selalu meminum Fluoxetine dan Desvefaxine serta Amitriptyline dalam dosis sedang.

 Hal ini berbanding terbalik saat ia berada di Sethard Sevit. Hampir semua anak murid disana mengidolakannya, karena wajah yang oval khas wanita Jemoulan Geurande. Warna mata hijau safir dan rambut berwarna coklat keriting gantung sepunggung, body Goals dan tinggi 176 cm, ia telah melampaui tinggi standart wanita di Northwerdia

Banyak orang yang bertanya-tanya mengapa karamel memiliki wajah khas wanita Jermoulan Geurande. Padahal dari berita yang beredar ibunya karamel asli keturunan Belanda dan ayahnya berdarah campuran Frances-Belgia. Bahkan saat berita yang beredar tersebut sempat menyebar dikoran harian dan tabloid sekolah selama dua minggu lamanya.

 Bukan hanya orang-orang di sekitar yang bingung dengan hal sepele seperti itu, bahkan karamel sendiri saat usianya tujuh tahun. Karamel sempat berpikir bahwa ia bukan anak dari ayah dan ibunya, karena perbedaan warna mata dan fisik lainnya. 

Ejekan dari teman satu angkatannya sangat menganggu, karamel pun memberanikan diri bertanya kepada ayah dan ibunya saat ia berusaha dua belas tahun, walau itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah dimilikinya.

Karamel juga menelpon kakaknya yang berada di Northwerdia sebelum ia memutuskan untuk bertanya namun, kakaknya hanya tertawa dan mengatakan itu adalah pertanyaan terkonyol yang ia ajukan.

karamel melontarkan pertanyaan yang sama kepada Ayah dan ibunya, membuat mereka tertawa terbahak-bahak, apakah pertanyaan tersebut adalah hal yang gila? Ayahnya hanya mengelus rambut karamel dan berkata bahwa pertanyaan karamel tidak pada tempatnya, namun Ayahnya tetap menjawab pertanyaan karamel tersebut.

Ayah mengapa Amel beda dari kakak, Apakah Amel bukan anak ayah? Lalu mengapa ibu sangat membenci ayah dan kalian bertengkar terus?, “ Tanya Karamel yang masih berusia 12 tahun kala itu dengan bertubi-tubi membuat ayahnya hanya tersenyum dan mengelus rambut putrinya dengan lembut.

“Karamel anak Ayah kok, terus kalau ayah sama ibu bertengkar. Itu adalah cara ibu meluapkan kerinduaannya pada ayah. hubungan cinta ayah sama ibu seperti Pshycopat,” Jelas ayah membuat karamel mengangguk dan tersenyum kecil.

“Jadi kenapa kakak bermata biru, sedangkan Amel berwarna hijau?,”Tanya karamel lagi membuat ayahnya tersenyum.

“Karena Gen sayang,”Ucap ayah sambil mencium puncak. “Mungkin gen kamu didapat dari mendiang nenek” Sambung Ayah membuat karamel mengangguk paham dan kembali kekamarnya untuk melanjutkan tugas dari sekolah sedangkan ayahnya kembali mengerjakan proyek yang ia tunda untuk melayani putri kecilnya.

Saat mengingat kenangan tersebut karamel hanya tersenyum getir, semua terjadi dengan cepat dan membuatnya sulit bernafas. 

Waktu itu, karamel telah berusia enam belas tahun, ia menemukan ayahnya terbujur kaku didalam laboratorium padahal tepat berapa jam yang lalu ia baru saja karamel memenangkan olimpiade sains tingkat internasional di Inggris.

Karamel tersentak saat menemukan mayat ayahnya tetapu ia tidak menangis, dan memeriksa keadaan Ayahnya dan menemukan surat yang berada di dekat lengannya dan membaca surat yang ayahnya tulis.

Lihat selengkapnya