Setiap momen sudah ada waktunya.
Kata orang begitu. Kata banyak orang.
Seperti berlindung di balik kata-kata itu, sudah terlatih untuk menerima apa pun yang menghampiri. Menjadi satu siasat palsu sekadar mencoba tenang meski sebenarnya tengah bergulat dengan badai.
Setiap momen ada waktunya.
Maka mungkin inilah, waktuku sudah datang. Tidak sekedar datang, momen itu bergelut-gelut dengan tidak manis.
-oOo-
Aku tidak mengerti dunia seni. Khusus pada masalahku: seni musik. Adakah batasan tema ketika mencipta lagu? Apa boleh menafsirkan realitas sosial dan budaya begitu lincah? Melantunkan lirik dan tempo untuk memengaruhi kesadaran kolektif kita? Kebebasan berkarya, mereka bilang. Lantas mereka merasa mendapat izin untuk kelewatan, sering kali mencederai harkat dan martabat sebagian kelompok. Buktinya? Banyak lagu yang, sudahlah tidak enak didengar, maknanya juga tidak enak ditafsirkan. Fakta yang jauh lebih menyedihkan dari sekadar tidak enak itu adalah, pada gilirannya, banyak orang menyukainya. Entah menyukai karena menyinggung golongan lain—sebab kita terbiasa dan lebih senang berbicara dengan cara menyindir—atau memang hanya butuh hiburan di tengah-tengah krisis kesenian.
“Sudahlah….” bujuk Bang Latif, suamiku yang datang dari dapur. Tangan kanannya menggenggam sebotol jus jeruk, sementara tangan kirinya membawa gelas kosong. Mengambil duduk di sampingku, menuangkan jus sambil melirikku, lalu tersenyum. Aku tahu, suamiku sedang mengejekku, karena itu aku menggeleng kesal. “Apa dia itu nggak mikir dulu? Acara aku kurang dari tiga bulan lagi, eh, dia malah buat tingkah!” Dengan gemas kuambil segera handphone yang terletak di samping gelas. Layar handphone menampilkan kolom komentar di akun resmi Instagram DISPARA, satu band yang dibentuk Satria bersama tiga temannya: Dito, Pasha, dan Rama sejak mereka SMA. Kugulir terus kolom komentar itu. “Nih, ya ... lagunya itu tiap liriknya bermuatan kontroversi!”
Komentar-komentar tentu lebih banyak datang dari laki-laki yang menganggap lagu-lagu di mini album itu sebagai sesuatu yang jenaka. Tapi anehnya tak sedikit pula perempuan ikut nimbrung. Mereka menyetujui dengan kata-kata yang tidak kalah konyol. Bulu kudukku meremang tiap kali membacanya.
Handphone di tanganku ditukar Bang Latif dengan gelas berisi jus jeruk. Jempolnya melakukan hal yang sama yang kulakukan pada layarnya. Cahaya layar memantul pada matanya dan membuatnya berkilau. Ia berhenti pada satu unggahan yang diiringi lagu.
“Lagu-lagunya ringan, gampang dihafal.” Bang Latif mengomentarinya. “Menghibur, sih, sebenarnya.”
“Menghibur telinga laki-laki, sih, iya.” Aku ketus.
Tak bisa kutampik, lagu-lagu yang baru saja rilis itu dibawakan dengan tempo sedang hingga cepat, menonjolkan kesan ceria. Mengundang senyuman. Pola melodi yang repetitif dan sederhana. Liriknya catchy, membuat pendengarnya mudah ikut berkidung ria. Tapi segala apa-apa yang terdengar menarik itu sama sekali tidak bisa menutupi kebobrokannya. Seperti topeng badut, lagu-lagu itu menyembunyikan wajah lusuh yang sebenarnya.
“Ya … iya,” Bang Latif akhirnya mengaku, meski tampak sedikit enggan. Entah ia merasa tidak enak padaku, atau justru khawatir aku salah menangkap maksudnya.
“Lagu-lagu dia itu jadi perbincangan enggak cuma di dunia musik aja, tetapi juga sosial, budaya, dan agama. Pro-kontra!” kataku dengan dada yang mulai sesak.
Bang Latif tak menjawab. Matanya masih tekun menyusuri komentar demi komentar. Sesekali ia mengangguk kecil, lain kalinya menggeleng. Sementara itu, kuteguk habis jus jeruk di gelasku, lalu menuangnya lagi dari botol. Panas di dadaku sedikit tersapu oleh segarnya jus jeruk.
“Dia mungkin melawanku, Bang,” kataku. Meskipun beberapa detik lalu nada bicaraku tinggi dan menggebu-gebu, kini aku tertunduk dengan suara pelan. “Dia tahu aku enggak suka, makanya dia buat mini album itu. Mungkin …,” aku berdeham, “mungkin dia menceritakan orang tuanya.”
“Waduh! Kamu udah overthinking, Ver!” sahut Bang Latif. Ia meletakkan handphone-ku di atas meja. “Dia berkarya, bermusik. Di band itu dia enggak sendirian, ada tiga orang lainnya. Boleh jadi ini bukan ide dia.”
Argumen Bang Latif masuk akal tapi tetap terdengar menyebalkan. Terlebih suamiku itu sampai sedikit terlonjak dari duduknya saat mengatakan aku berpikir berlebihan.