Februari, 2018.
Sejauh yang kutahu, setidaknya di kota ini, kegiatan reses oleh anggota dewan jarang melibatkan perempuan. Jika pun ada, perempuan yang diundang biasanya ketua arisan yang lebih tertarik untuk beradu gengsi atau memperlihatkan siapa yang paling borju. Pakaiannya yang agamis itu tampil dengan kementerengan luar biasa. Kalau tidak bajunya yang cerah, maka tas atau sepatunya yang mencolok. Belum lagi hiburan rabana. Suara cempreng memekakkan telinga diperdengarkan melalui speaker tua. Denging speaker itu tak menghalangi penampil, mereka justru justru semakin unjuk diri. Atau undangan sampai kepada ibu-ibu PKK yang cenderung berasal dari kelompok elit, berpikir seperti laki-laki, atau hidup dengan sentimen male chauvinist. Lebih aneh lagi justru yang sedang turun ke rakyat. Sebagai perempuan dan anggota dewan, mereka tidak menanyakan apa permasalahan khusus perempuan di dapilnya. Di sisi lain, perempuan yang disebut sebagai “rakyat” lebih sering menjadi pelengkap; sebagai pengelola makanan, pembagi snack, atau sekadar menjaga meja depan sambil memegang pulpen dan kertas untuk memastikan tamu yang hadir sudah sesuai undangan. Tidak ada yang berinisiatif menuliskan baik secara diam-diam atau terang-terangan pada kertas itu apa-apa saja permasalah mereka, apa-apa saja yang setiap pagi di depan gerobak sayur atau setiap sore di teras tetangga yang mereka keluhkan hari ke hari. Sedang di dalam ruangan, konstituen yang benar-benar mewakili kelompok terpinggirkan—perempuan miskin, anak-anak, penyandang disabilitas, atau lansia—tak kelihatan. Tak ada yang menyadari bahwa reses adalah momen penting untuk bersuara. Kegiatan ini lebih sering menyerupai ritual untuk basa-basi daripada forum penyampaian aspirasi. Di balik senyum dan salam yang ditebar, harapan-harapan tenggelam dalam kepura-puraan. Isu-isu yang menyentuh inti persoalan hanya berakhir sebagai angin lalu, tak pernah sungguh-sungguh disentuh.
-oOo-
Lia berdiri mantap di hadapan partisipan, memegang mikrofon seolah ia pembicara ulung. Suaranya memenuhi ruangan tempat reses berlangsung. Ia memaparkan rencana kelompok kami, PERMATA, untuk mengadakan seminar yang akan membahas poligami sebagai praktik yang melibatkan dinamika kekuasaan dalam rumah tangga. Seminar itu diadakan dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak.
“Muncul usulan revisi UU Perkawinan yang bertujuan memperketat praktik poligami. Usulan ini dipelopori oleh organisasi perempuan dan sejumlah anggota DPR yang progresif,” begitu kata Lia.
Bu Miarti, anggota DPRD Kota yang hadir, duduk di barisan depan, mendengarkan dan juga tampak terkesan. Entah karena gagasan yang kami sampaikan atau karena cara Lia menyamoaikannya, atau justru karena keduanya. Anggukan-anggukan Bu Miarti seperti memberi restu tak langsung. Namun, tidak semua orang di ruangan menunjukkan respons yang sama. Di sudut lain, beberapa wajah, yang kebanyakan laki-laki, sulit menyembunyikan keengganan. Mungkin juga tak benar-benar ingin mereka samarkan. Tatapan mereka mengembara ke dinding, ke meja, atau bahkan ke layar ponsel. Ketidakpedulian itu begitu kontras dengan antusiasme yang Lia coba nyalakan. Beberapa lainnya seperti sedang menghitung-hitung risiko dari setiap kalimat yang mereka dengar. Bisa kutebak: apakah ini soal keberanian kami membawa tema keadilan berbasis gender, atau soal siapa yang kami ganggu dengan gagasan ini?
“Kami paham,” ucap Lia, dengan nada dan sorot mata yang memancarkan empati. “Diskusi tentang gender, terutama isu poligami, memang sering kali terasa sulit, bahkan menimbulkan ketidaknyamanan. Ini topik sensitif yang mungkin dapat menyinggung baik bagi laki-laki maupun perempuan.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kata-katanya diresapi tiap orang. “Namun, saya ingin menegaskan. Langkah ini bukanlah seruan untuk memerangi laki-laki. Sebaliknya, ini adalah upaya bersama untuk membangun lingkungan yang aman, setara, dan adil. Saya mohon kepercayaan dan dukungan dari Bapak dan Ibu sekalian.” Lia menutup penjelasannya dengan tenang, seolah sengaja meredakan ketegangan yang meski subtil tapi tetap terasa menggelayuti plafon ruangan. Tepuk tangan malas-malasan mengiringi langkah Lia kembali ke kursi.
Saat makan, seorang pria berwajah separuh Arab, sekitar usia akhir empat puluh, menghampiriku dengan tangan membawa piring berisi beragam potongan buah. Ia duduk dan bertanya padaku dari LSM mana aku berasal.
“Saya bukan dari LSM mana pun. Kami kelompok konstituen,” jawabku singkat.
Ia mengangguk, menusukkan garpu kecil ke buah melon dan memasukannya ke mulut. “Apa kamu seorang feminis?” tanyanya dengan satu sudut bibir terangkat, mencibir. Ia pasti salah satu orangnya; orang yang tidak terkesan dengan ide seminar yang kami rencanakan. Tapi aku tidak tahu siapa ia. Wajahnya asing bagiku. Tak kujawab pertanyaannya karena khawatir jawabanku malah disalahpahami nantinya. Aku sering kali salah kaprah, mengira sesuatu yang tampak jelas bagiku juga akan sama jelasnya bagi orang lain. Pengalaman-pengalaman seperti itu sudah cukup mendidikku untuk mengambil jeda, atau malah berhenti sama sekali. Kutatap ia yang mengunyah melon dengan susah payah, sudahlah potongannya besar, juga tampaknya melon itu belum matang sempurna. Sepertinya ia mendekatiku hanya untuk menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kelompok kami, atau bahkan feminisme itu sendiri. Jangankan ia, aku pun sering kali harus memilah dan menimbang beragam pemikiran tentang feminisme, lengkap dengan berbagai pendapat dari para pionirnya. Apa yang tidak kusetujui, kuabaikan. Apa yang sepaham denganku, itulah yang kuperjuangkan. Aku ingat betul bagaimana akhirnya memutuskan keluar dari satu komunitas feminis lokal hanya karena satu perbincangan mereka yang cenderung menyanjung Les Guérillères. Komunitas itu awalnya menginspirasi. Tapi semakin kuikuti alur mereka, semakin besar pula keraguan hingga pada akhirnya aku enggan untuk terus bersama. Sebaliknya, juga kuingat bagaimana aku terkagum-kagum saat pertama kali membaca kisah Nyi Ageng Serang. Seorang perempuan yang dengan ketenangannya justru terlatih tumbuh sebagai kombat. Ia menjadi penasihat perang Jawa dengan strategi godhong lumbu, sebuah pemikiran tak terduga dan brilian lahir dari pengalaman perempuan, yang justru efektif di medan perang yang selama ini didominasi oleh laki-laki. Menjadi selektif adalah sebuah keharusan. Feminisme bukan agama, bukan doktrin tunggal yang harus diimani tanpa pertimbangan, diikuti tanpa bantahan seperti kuda yang berjalan dengan mata yang tertutup, atau sapi yang diikat tali pada hidungnya.
Setelah melemparkan cibiran samar, si separuh Arab itu bangkit dan pergi dengan alasan ingin mengambil minuman. Ia tidak kembali. Dan aku pun tidak mengharapkan kedatangannya lagi. Kalau pun ia kembali, aku yang pergi.
Dari kejauhan, Lia dan Anggi melambai, memberi isyarat untuk bergabung. Kulihat mereka sedang berbicara dengan Bu Miarti, ditemani beberapa anggota dewan laki-laki yang tampak nyaman bercengkrama sambil makan siang bersama kelompok konstituen lain. Kuhampiri mereka. Saat baru saja duduk, Bu Miarti mengulurkan tangan. “Apa kabar, Bu Vera?”
“Baik, Bu. Alhamdulillah,” jawabku, menyambut sapanya dengan sopan.