versatile

HELLOHAYDEN
Chapter #3

Bab 3

  Setelah membaca satu pesan, kuletakkan handphone. Pesan lain masuk, berlomba-lomba berebut perhatianku. Meskipun kepalaku terasa penuh sesak oleh suara dering notifikasinya yang memanjang tanpa jeda, tapi kuabaikan saja.

Diam-diam, kucoba berpura-pura tak tahu apa-apa.

Diam-diam, aku berusaha seolah tak terjadi apa-apa saat aku kembali menatap layar laptop, melanjutkan pekerjaanku siang itu: menerjemahkan satu jurnal akademik ke Bahasa Inggris milik seorang dosen universitas swasta di salah satu kota di Jawa Tengah. Setelah selesai dalam satu jam, aku berdiri. Kututup gorden, kunyalakan AC, berusaha meraih ketenangan agar tak bereaksi spontan terhadap banyaknya informasi yang menyerbu—hal-hal sepele jadi terasa penting, yang remeh dibesar-besarkan, memberi ruang bagi prasangka untuk bebas berkeliaran.

Aku ingin tidur sebentar, kataku pada diri sendiri. Dan anehnya, entah keajaiban apa yang datang memudahkan, aku tidur. Benar-benar tertidur.

-oOo-

Nyaris tak ada hal di dunia ini yang mampu memupuk fanatisme sekuat pengidolaan terhadap manusia. Fanatisme jenis ini sesuatu yang berbeda, lebih menyerupai penyakit. Mania yang menjadi maniak. Gejalanya mudah dikenali: mereka yang terjangkit menjadi gampang tersinggung, cepat marah, sampai rentan panik. Ancaman, baik nyata maupun imajiner, fisik dan psikis, terhadap idola mereka langsung memicu reaksi emosional berlebihan. Parahnya lagi, serangan terhadap sang idola sering ditafsirkan sebagai serangan pribadi, seakan-akan harga diri mereka ikut dipertaruhkan. Mereka cenderung bebal dengan cara tolol. Jika penyakit lain menyerang sistem kekebalan tubuh, maka penyakit jenis ini menghancurkan sistem kekebalan otak; lumpuh pikir untuk mencerna kritik atau menerima perbedaan pandangan, menjadi kebal terhadap logika, tetapi lemah terhadap dogma. Lagi pula, kita semua, setiap manusia bangsa ini, telah terdidik untuk terlalu peduli dan tak peduli sama sekali. Sering kali salah menempatkan situasi, mana yang memang layak mendapat perhatian dan mana yang sebaiknya diabaikan. Kita terbiasa menukar urgensi dengan kebisingan atau kehebohan.

Itulah yang terjadi.

Begini. DISPARA mendapt serangan daring. Lalu para fans merasa harus angkat senjata. Senjatanya apa? Media sosial. Pada kasus ini: Instagram, dengan amunisinya jempol mereka masing-masing. Semuanya bermula ketika tak sedikit perempuan dari remaja hingga ibu-ibu kepala lima, mahasiswi hingga akademisi, IRT hingga aktivis feminis bereaksi keras terhadap lagu-lagu yang baru saja dirilis seminggu lalu dalam mini album Mauvaise Foi. Mereka mengunggah video-video yang menyerukan satu hal: boikot. Bahkan ada sebuah video, yang meski agak berlebihan, menampilkan seorang ibu muda mengaku suaminya semakin giat ingin menikah lagi karena merasa lagu-lagu DISPARA memberinya semacam “pembenaran moral.”

Fans yang sebagian besar laki-laki tapi tak sedikit pula perempuan, tidak tinggal diam. Mereka menganggap ini ancaman terhadap idola, lantas menyerbu akun media sosial pihak-pihak yang dianggap menyatakan perang. Kolom komentar bersahut-sahutan, berisi kecaman bahkan ancaman. Mereka juga menggalang tagar dukungan yang dengan cepat menjadi trending. Hasilnya? Eskalasi. Tagar melawan tagar. Komentar membalas komentar. Unggahan dibalas unggahan. Pertarungan media sosial pecah.

Warganet terbagi menjadi tiga kubu. Kubu satu, fans DISPARA yang menggaungkan diri sebagai singa tidur yang dibangunkan. Kubu dua, mereka yang peduli pada perubahan dan gerakan perempuan. Tak sedikit akun-akun itu menautkan akun yayasan dan LSM lain yang sejalan, termasuk RENJANA, untuk mendapatkan pembelaan atau bahkan desakan untuk angkat suara. Kubu tiga, akun-akun yang sekadar memanfaatkan situasi untuk panjat sosial. Mereka yang haus kehebohan, gemar kegaduhan, dan mengolah semua itu menjadi konten untuk mendulang pengikut. Tahu-tahu sebuah unggahan misterius nongol. Video tanpa wajah, hanya latar pemandangan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pertarungan ini. Ada teks yang dibacakan pula oleh laki-laki dengan nada yang membangkitkan belas kasihan. Narasinya ciamik. Jika si pembuat video itu berniat menulis prosa, aku yakin ia akan terkenal melalui jalur itu dan bukunya langsung masuk rak bestseller saat pertama kali cetak. Isinya? Membela DISPARA, khususnya Satria. Satria, katanya, telah lama hidup dalam tekanan, terjebak di bawah bayang-bayang seorang kakak yang gila emansipasi. Mauvaise Foi bukan sekadar album kontroversial, itu adalah jeritan hati terdalam yang baru berani diungkapkan sekarang. Video itu berhasil menggiring opini publik. Siapa dia? Aku tidak tahu, mungkin juga Satria begitu. Yang jelas, kami punya teman, dan tidak sedikit pula di antara mereka yang tahu bahwa Vera adalah kakaknya Satria dan Satria adalah adiknya Vera. Juga kami tak tahu apakah temanku membenciku sehingga membalikkan narasi seolah ia membela Satria, atau memang ia benar teman Satria, hingga pendapatnya berada pada sudut pandang Satria.

Komentar di unggahan itu membanjir, penuh rasa iba kepada Satria. Tak butuh waktu lama setelah itum muncul lagi satu unggahan dengan judul sensasional, menyaingi drama rumah tangga dua selebritas yang awal tahun ini menikah dengan helikopter dan pengantin pria nyaris mati karena tiba-tiba mencebur ke laut demi mengambil cincin kawin yang jatuh: “Pengkhianatan Terbesar Datang dari Orang Terdekat: Keluarga.” Dan di bawahnya wajahku terpampang. Foto yang diambil dari salah satu unggahan Instagram RENJANA yang mengenalkanku sebagai ketua seminar. Tepat di sebelahnya, wajah Satria, dengan tambahan huruf tebal dan merah menyala di tengah-tengah foto kami berdua bertuliskan VS

-oOo-

Hal pertama yang kulakukan setelah bangun adalah menatap satu per satu pesan WhatsApp yang hampir menyentuh angka dua ratus. Beberapa dari kontak yang kusimpan, lebih banyak dari kontak yang tak kukenal, dan ditambah beberapa email dari sponsor dan LSM. Kuputuskan membuka pesan dari Lia terlebih dahulu, ia mengatakan akan datang ke rumahku dan kini dalam perjalanan. Kulirik bagian kanan atas layar ponsel, sudah pukul dua siang. Jika dihitung dari jam pesan itu dikirimkan, maka seharusnya dia sudah sampai di perempatan Jalan Tuanku Tambusai, seberang Gramedia Jendral Sudirman. Dari sana ke rumahku hanya butuh paling lama sepuluh menit. Dari waktu itu juga aku tahu aku hanya tertidur sekitar setengah jam. Sambil turun ke dapur, segera kutelepon Bu Juharni. Sebelum ia mengatakan apa-apa, aku telah mengucapkan maaf terlebih dahulu.

“Ver …,” kata Bu Juharni lagi, kudengar ia menghirup napas dalam-dalam saat jeda, “perlu kamu tahu, RENJANA mendukung kamu bukan cuma karena integritas yang selama ini kamu perlihatkan tapi juga memang seminar ini penting diadakan. Gangguan semacam ini bisa jadi bertambah terus nantinya dan akan terus menghantui bahkan mungkin saat seminar berlangsung. Saya hanya butuh tahu gimana kesiapan kamu menghadapi hal terburuk.”

Aku terdiam sejenak; pertanyaan Bu Juharni jauh melampaui jawabanku yang sekadar “siap”. Ia ingin aku hadir sepenuhnya. Utuh dan teguh.

“Bu, saya tahu perjuangan kita enggak selalu mulus, bahkan justru semakin dekat ke acara akan semakin sulit. Saya akan bertanggung jawab atas situasi ini dan memastikan seminar nanti tetap sesuai jadwal yang udah kita susun bersama, Bu.”

Bu Juharni diam sejenak, bisa kutebak sebelah tangannya yang tak menggenggam ponsel justru sedang menggenggam bandul kalungnya. Ia selalu terlihat begitu jika sedang berpikir, cemas dan kadang hanya melamun. Namun yang tak bisa kutebak adalah bagaimana ia saat ini menghadapi gelombang panas di media sosial.

“Itu yang ingin saya dengar, Ver,” katanya kemudian setelah berdeham. “Saya percaya tidak ada aku dan kamu. Ini semua tentang kita. Kita enggak boleh menyerah begitu aja. Justru karena ada masalah ini kita harus benar-benar lebih kuat dari yang biasanya.”

“Saya akan pastikan bahwa semua ini, seminar ini, layak diperjuangkan, Bu.”

“Hubungi saya jika memang membutuhkan bantuan.”

Lihat selengkapnya