versatile

HELLOHAYDEN
Chapter #4

Bab 4

“Kamu tahu? Kamu seorang feminis.” 

Perkataan temanku itu telah mengubah segalanya. Satu kalimat yang menyadarkanku siapa aku.

*

Lia adalah teman yang kukenal sejak masa kanak-kanak. Saat ia dan ayahnya datang ke rumahku untuk meminjam palu, saat itulah pertama kali kami bertemu. Waktu itu ia bersembunyi dan mengintip malu-malu melihatku berdiri di depan pintu bersama Bapak. Ia baru saja pindah menempati rumah kontrakan di seberang rumahku. Itu sekitar akhir 1989. Kami seumuran, tapi Lia tidak TK sehingga ia akan menungguku pulang sekolah untuk bermain bersama. Orang tua kami sepakat untuk memasukkan kami di SD yang tak jauh dari rumah kami. Satu sekolah negeri yang tampak apa adanya, terlalu jujur menampilkam kesederhanaannya. Dindingnya berupa beton setinggi pinggang orang dewasa, sisanya papan hingga ke loteng. Lantainya yang hanya di cor itu selalu berdebu, sementara meja dan kursinya sudah penuh coretan. Siang hari, ruangan akan terasa panas dan lama-kelamaan menguarkan aroma lembap. Toiletnya? Ampun! Jangan ditanya!

Setidaknya hingga kelas dua kami duduk sebangku. Tapi setelah naik kelas tiga, kami duduk terpisah. Lia lebih suka duduk di depan sebab sejak tahun itu juga ia mulai mengenakan kacamata. Sementara aku memilih duduk di barisan pertengahan, definisi tempat duduk yang dipilih oleh murid yang tidak ambisius juga tidak terlalu badung. Lia memang bukan tipe anak yang suka aktivitas di luar kelas. Jika tiba pelajaran penjaskes (begitu kami menyebut pelajaran olahraga dulu), wajahnya selalu terlihat kuyu. Aku ingat, saat kelas satu, ia beberapa kali mimisan ketika kami senam atau sekadar latihan upacara bendera. Sejak itu, guru-guru seperti membiarkannya duduk saja di bangku beton yang teduh terlindungi daun-daun pohon ketapang yang berjejer sebanyak empat di pekarangan. Lia mengamati kami berlari-larian di bawah sinar matahari, atau ikut bersorak-sorai jika kami main kasti. Awalnya, wali kelas atau guru yang bertugas masih bolak-balik memeriksanya, tapi, lama-kelamaan, seiring naik kelas, Lia semakin dibiarkan, malahan guru-guru seperti tidak peduli lagi apa ia akan ikut keluar dan mencari tempat teduh untuk duduk atau ia akan di dalam kelas saja entah tidur, mengerjakan PR atau membaca. Tapi kuyakin, Lia membaca. 

Aku masih ingat, itu hari Sabtu. Semua murid dan guru sedang di halaman mengikuti senam pagi. Aku dan Lia tidak ikut, kami berada di kelas. Ia menyusul ke mejaku di mana aku membaringkan kepala di atas tangan terlipat. Saat itu perutku mulas. Mencret-mencret semalaman gara-gara Ibu mencoba resep masakan khas kampung halaman Bapak yang ternyata super pedas di lidah dan super panas di perut: Sampadeh ikan baung. Kata Bapak, yang dimasak ibu kelebihan lengkuas dan cabai.

“Ver, ayok ke UKS,” katanya saat baru saja duduk. Anggukanku lemah, dan sesaat kemudian kami sudah berjalan meninggalkan kelas. Lia sengaja menyamakan langkahnya dengan langkahku yang pelan sambil bersedekap di perut. UKS kosong, tidak ada guru yang berjaga, juga tak ada kakak kelas yang biasanya ditunjuk sebagai dokter kecil. Dulu aku sempat mengagumi sebutan itu. Dokter kecil. Jujur saja, terdengar seperti pangkat istimewa, seolah levelmu naik sepuluh tingkat di antara teman-teman lainnya. Hanya murid-murid pintar yang dipercaya membolos kelas secara bergantian untuk bisa duduk di sebalik meja beralas kaca sambil dengan gagah mengenakan jas dokter yang dibuat khusus. Tapi, seiring waktu, aku sadar itu hanya pekerjaan sukarela, hasil dari guru-guru yang malas duduk di UKS sepanjang waktu menjaga murid yang sakit atau lebih sering pura-pura sakit.

Kendatipun ia tak pernah menjabat sebagai dokter kecil, Lia tampak terbiasa membuka satu laci dan langsung menemukan botol kaca hijau berisi minyak kayu putih. Ia menyodorkannya padaku. Kuoleskan minyak itu ke perut sambil bercanda pada Lia bahwa untung saja sampadeh ikan baung yang kuahnya merah menyala itu tidak jadi sampai ke rumahnya.

“Awalnya Bapak mau anterin ke rumah kamu, tapi Ibu bilang dicoba dulu. Eh, beneran. Pedas! Satria sampai jerit-jerit minta es krim!” kataku.

Lia tertawa, “Kasihan Satria.”

“Iya, akhirnya kami buang sisanya. Bapak pergi nyari makan malam lain sama Ibu. Aku di rumah bujuk-bujuk Satria yang masih nangis kepedasan.”

“Dibuang? Sayang sekali.”

“Iya. Dibuang. Wusshh! Sekali lempar masuk tong sampah!” Kutiru gaya Bapak melempar makanan. Lia cekikikan. Tapi tiba-tiba tawanya reda. Ekspresinya berubah, ia tersentak oleh satu ingatan yang muncul begitu saja. “Ah! Aku juga pernah lihat mamaku buang kipas angin karena rusak,” katanya. “Jadi benar, ya?” Nada suaranya mendadak berubah lebih pelan, ia seperti mengkonfirmasi sesuatu yang dipikirkannya sendiri.

“Benar apa?” Wajahku maju karena penasaran.

Lia menatapku beberapa saat, dan selama itu matanya berkedip-kedip lebih cepat. “Tahun-tahun ini ekonomi memang tumbuh pesat. Kata Papa, rakyat sejahtera. Jadi enggak heran kalau banyak hal yang jadi serba dibuang kalau udah enggak selera.” Ia mendekatkan kepalanya padaku dan melirik ke belakang sejenak, memeriksa pintu. “Tapi katanya, sih, kita lagi dalam masalah serius,” lanjutnya sambil berbisik.

“Kita?”

Lia mengagguk mantap. “He’em, negara kita.”

Aku bengong. Bengong seperti orang blo’on. Sumpah aku tidak tahu apa-apa makna pembicaraannya. Tapi, hei, kami baru dua belas tahun! Apa anak dua belas tahun wajar mengetahui itu? Yang kutahu, bisa hafal semua nama menteri saja sudah dianggap luar biasa, calon juara kelas bahkan. Tapi ini Lia. Anak yang duduk di bangku depan. Rajin dan pintar, tapi entah kenapa, tak pernah jadi juara kelas. Ia tak pernah dipuji-puji wali kelas seperti Siska atau Yola yang selalu saling kejar di peringkat teratas. Namun, ucapan Lia barusan membuatku menyimpulkan satu hal: ia tahu banyak hal. Bahkan hal-hal yang tak pernah disebut guru di kelas. Pengetahuan yang tak masuk daftar nilai, tak dicantumkan dalam raport, dan karenanya, tidak dianggap penting oleh guru-guru.

“Ya, kan? Biasanya nenekku coba perbaiki dulu barang yang rusak sebelum dibuang. Malah kalau enggak bisa diperbaiki, bukannya langsung dibuang tapi disimpan dulu. Atau kayak makanan yang kamu bilang dibuang itu, kenapa enggak menambahkan sesuatu yang manis? Kecap atau gula, barangkali?” katanya dengan menaikkan bahu.

“Entahlah,” kataku, juga sambil menaikkan bahu dan benar-benar berharap pembahasan yang membuatku tampak dungu ini berakhir. Lia mengulurkan tangan meminta minyak kayu putih dan segera ia simpan kembali di laci tadi.

Seminggu setelah obrolan itu, Lia pindah. Tanggung sekali padahal dalam waktu empat bulan kami sudah lulus SD. Saat membantunya mengemas barang adalah saat pertama kali aku masuk ke kamarnya lagi setelah dua tahun karena sejak kelas empat, setiap pulang sekolah Lia akan ke rumah wali kelas kami, lanjut les hingga petang. Kamarnya sedikit berbeda dari yang kutahu terakhir kali. Dulu di mejanya hanya berjejer pensil warna dan buku-buku berwarna cerah juga, kini semua itu digantikan oleh banyak buku yang bukan buku sekolah saja. Lalu ia tunjukkan satu buku yang di sampul kertas kado bermotif batik. “Kata papaku, buku ini taruhannya nyawa. Kamu punya buku ini berarti kamu seorang pemberontak,” bisiknya. 

“Hah? Ada ya buku yang ngajarin jadi pemberontak?” tanyaku. “Bukannya pemberontak itu harusnya bawa senjata, ya? Kok malah buku?”

Lihat selengkapnya