Mana yang lebih membunuh? Memendam kebenaran atau keberanian untuk mengungkapnya?
*
Apa yang sedang terjadi lebih mengeruk harga diriku. Kupikir aku sudah terkuras habis saat berbicara dengan Satria. Ternyata tidak. Masih ada sisa harga diri yang bertahan dan sisa itulah yang kini dikeruk tuntas oleh segerombolan orang yang tampaknya hidup untuk menyembah keributan. Mereka datang layaknya bencana gempa yang tak henti-henti memberikan guncangan susulan. Gelombang pertama, yang jelas menjadi akar perkara, membuka jalan bagi gelombang-gelombang berikutnya untuk terus memantapkan kerusakan yang sudah mereka tanamkan sejak awal.
Malam itu Lia pulang meskipun tampak sangat berat dan enggan. Tapi aku tahu dan ia pun tahu bahwa Adam harus tidur di kamar yang menyediakan seluruh kebutuhannya. Kita bisa ngobrol lagi setelah Adam tidur nanti, kata Lia padaku saat dia menyalakan mobilnya. Aku hanya mengangguk dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, aku duduk di tempat yang baru saja ditiduri Adam, lalu kembali menatap layar ponsel, membaca lagi komentar dari akun tanpa gambar profil, juga nama yang jelas sekali tak menunjukkan identitas asli.
Dan inilah si akar guncangan:
@dot.blog55: Ini ironis atau tragis sih? Si paling feminis tapi borok bapak yang poligami ditutupin! Mana seminarnya tentang poligami pula! Kan kocak ya!
Dua kata yang membangkitkan gelombang spekulasi: feminis dan poligami. Kombinasi fantastis untuk memancing orang-orang untuk tiba-tiba menjadi ahli tafsir, menggiring opini, bahkan bisa memelintir narasi sesuai prasangka. Dalam sekejap, kolom komentar meledak oleh pernyataan dan pertanyaan. Masing-masing menambah level kekacauan. Yang membuatku semakin jengkel adalah bagaimana si pemicu masalah itu hanya muncul sekali; benar-benar seperti melempar kail, memberi makan bagi mulut yang lapar akan kehebohan.
“Gimana mau ngomong soal hak perempuan kalau keluarganya sendiri berantakan? Lucu banget!”
“Apa dia hadir sebagai contoh nyata, ya? Wkwkwk!”
“Bapaknya poligami? Dia anak broken home? Oh! Mungkin seminar itu bukan jual ilmu tapi jual kesedihan!”
“Spill dong! Jadi Satria DISPARA itu adik tiri?” (Menautkan akun Instagram DISPARA)
“Jadi bener ya mereka enggak akur, keliatan dong enggak lama lagu DISPARA muncul, kakaknya malah bikin seminar yang bertolak belakang.” (Untuk yang ini, dan beberapa komentar serupa jelas aku mengomel habis-habisan sebab seminar ini sudah sejak awal tahun direncanakan).
Muncul satu kubu baru, yang memang sudah kuperkirakan: kelompok yang kontra terhadap gerakan kami namun juga tidak menikmati musik di era kini. Kelompok ini kebanyakan dari kaum konservatif agama atau adat, yang menganggap feminisme adalah ajaran dan ajakan untuk membuat perempuan menjadi semaunya. Tidak lagi sesuai dengan segala kitab yang mereka baca, juga tidak sesuai dengan konstruksi sosial yang telah mereka bangun dan langgengkan. Lantas situasi ini benar-benar dimanfaatkan mereka untuk angkat bicara. Kubu ini pun terbagi dalam cara menuliskan komentar. Di level terparah, kata-kata yang muncul tak lagi manusiawi—umpatan kasar dan makian yang tak hanya kasar tapi juga mencerminkan kebencian purba. Level menengah, mereka yang menyindir dengan sarkasme. Dan terakhir, bisa kusebut sebagai level “alim”, mereka yang membingkai kalimat keterkejutan dengan menyeret-nyeret Tuhan seolah kemarahan mereka bernilai ibadah.
Handphone-ku berdering. Nama Bu Juharni tertera. Dalam percakapan singkat itu, ia terdengar berbeda dari telepon sebelumnya yang tenang dan menenangkan, kini terdengar agak panik dan cukup terganggu. Mungkin bandul kalungnya berbentuk hati itu bisa-bisa remuk digenggamnya dengan kuat. Ia mempertimbangkan untuk mengadakan rapat terbatas antara RENJANA dan mitra juga sponsorship untuk menjelaskan posisiku dan menjawab beberapa pertanyaan. Hasil pemaparanku nanti akan dijadikan dasar untuk menekan rumor yang beredar. Mereka ingin mengidentifikasi dan merespons unggahan misterius itu, dan jika memungkinkan, melacak komentar-komentar yang mencurigakan untuk memastikan apakah ada unsur pelanggaran hukum semacam fitnah atau bahkan pencemaran nama baik. Dalam hatiku, habis aku! Itu bahkan bukan rumor!
“Yang kita pikirkan sekarang sponsor. Ini ada email Pak Surya. Sepertinya dia akan mengkaji ulang dukungan untuk seminar.” Bu Juharni terdengar mendengus setelahnya.