versatile

HELLOHAYDEN
Chapter #6

Bab 6

Ia adalah pusat harmoni—ibuku, Purwaresti. Ibarat matahari pagi yang menyinari setiap sudut rumah; hangat sekaligus menenangkan. Juga kadang-kadang menguarkan wangi, sejenis aroma kehidupan yang tidak terbantahkan sehingga aku merasa aman, nyaman dan pasti. Setidaknya itulah yang kurasakan mungkin hingga kusadari tebalnya tenang itu kian hari kian tipis.

Gerakan ibuku terukur, jauh dari kesan terburu-buru. Saat ia duduk di ruang tamu atau dapur atau di mana pun di sisi rumah, suasana di sekelilingnya berubah menjadi damai dan teratur. Satu hari tubuhnya beraroma melati, lain kalinya tercium aroma minyak telon dan keduanya itu bergantian menenangkan suasana hati semua orang di sekitarnya. Caranya menata rambut dan memilih pakaian yang dikenakan selalu anggun dan njawani. Pada wajahnya hanya tersapu satu warna saja yaitu lipstik tipis berwarna merah bata. Ia adalah perpaduan antara kelembutan dan ketegasan. Intinya, ibuku itu memikat. Pendapatku ini sudah terlebih dahulu disetujui oleh dua laki-laki yang berhasil meminangnya: bapakku dan bapak tiriku. 

Aku tidak ingat momen-momen yang pernah aku dan bapakku lalui bersama. Ekspresi yang bagaimana menghiasi wajahnya, waktu seperti apa yang kami habiskan, atau musim apa yang menjadi latarnya. Entah musim hujan yang datang dengan derasnya, membanjiri jalanan dan rumah-rumah di bawah jembatan Leighton karena Sungai Siak meluap, atau musim panas yang begitu kejam, menyengat kulit hingga terasa perih. Kota ini memang tak pernah setengah-setengah; panas dan hujannya sama-sama beringas. 

Usiaku baru dua tahun ketika Bapak meninggal. Begitu saja, pergi dalam tidurnya, pada satu malam yang masih riuh dalam suasana Lebaran di akhir Juni 1985, begitu kata Ibu beberapa tahun setelahnya. Ibu menuliskan nama ayah yang berbeda dari yang selama ini kukenal pada berkas pendaftaran masuk SMP, dan itu memancing pertanyaan, siapakah Suwandi di saat yang kutahu nama bapakku Agung Rizal. Dan pertanyaan itu membuka pintu kepada cerita yang tampaknya sudah lama bersemayam dalam dirinya. Mata Ibu berlimpah kekhawatiran, ia menatapku lama. Seperti ingin menangkap setiap retak di wajahku, mengantisipasi raut kesedihan yang mungkin akan muncul dari celah-celah retakan itu. Tapi anehnya, aku sendiri samar kala itu. Kurasa, saat itu aku merasa seperti seseorang yang baru diingatkan tentang sesuatu yang dulu pernah dimilikinya, tetapi sudah lama hilang tanpa ia sendiri sadari. Linglung, semacam kehampaan yang tidak mampu kujelaskan. Lalu aku bersedih, tapi aku bahkan tidak tahu bersedih untuk apa. Antara bersedih merasa kehilangan dan ditinggalkan seorang keluarga atau bersedih karena merasa dikelabui dan terkecoh selama ini. Jujur saja, bapakku—atau lebih tepatnya, bapak tiriku—sosok yang selalu kuanggap sebagai ayah kandung. Ia adalah benar-benar seorang ayah dalam segala definisi yang kupahami. Aku diajari dan dikenalkan kepada banyak hal, mulai dari agama hingga bahasa. Juga Bapak banyak menceritakan masa-masa kecilnya hingga masa-masa remajanya. Bahkan pengalaman-pengalaman yang diberikan Bapak kepadaku adalah pengalaman terbaik sekalipun terkadang terasa menyedihkan, misal: aku menangis karena terjatuh saat bermain lompat tali bersama Bapak, atau aku dipelototi sebab pulang bermain terlalu malam dari rumah Lia atau teman lainnya. Jadi, jujur saja, menghadapi dan menerima sosok bapak lain, seseorang yang entah bagaimana pernah menyayangiku atau bagaimana pula caraku pernah menyayanginya, aku hanya bisa bungkam. Bukan karena tak ingin berbicara, tapi karena tak ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan ruang kosong yang tiba-tiba terasa penuh sesak di dada.

Kata Ibu, dulu bapak kandungku adalah kepala keuangan di satu kantor jasa pembayaran, sejenis layanan pihak ketiga untuk pembayaran tagihan listrik. Kantor itu milik seorang pria Jawa yang tinggal di Pekanbaru. Tidak sulit menemukan orang Jawa di kota ini. Program kolonialisasi yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda pada awal 1900-an, transmigrasi pada akhirnya telah menjadikan beberapa nama daerah atau penamaan jalan di Pekanbaru terdengar sangat Jawa, bahkan mungkin di Jawa itu sendiri nama-nama daerah itu juga ada. Harjosari, Rejosari, Sukajadi, Jalan Purwodadi.

Lihat selengkapnya