versatile

HELLOHAYDEN
Chapter #7

Bab 7

April 2018.

Cuaca panas Pekanbaru memang tiada duanya, bahkan saat matahari sudah tidak tampak lagi. Itulah sebabnya pada Kamis malam di pertengahan April, alih-alih mengenakan setelan blazer dan blus sepert Lia, aku lebih memilih mengenakan midi dress berwarna hijau zamrud yang panjang  menutupi pertengahan betis dan berlengan hingga siku. Aku dan Lia diundang oleh Bu Miarti datang ke acara networking night untuk LSM dan organisasi non-profit yang diadakan di ballroom salah satu hotel bintang tiga di sekitar bandara. Kami memasuki ruangan saat pembawa acara sudah di panggung mengucapkan selamat datang kepada para undangan. Orang-orang yang duduk di meja bundar bertaplak hitam mengilap ini adalah perwakilan koalisi LSM, asosiasi bisnis, perusahaan calon sponsor dan pejabat wakil daerah. MC yang mengenakan kemeja biru tua dan penutup kepala tanjak itu berbicara singkat tentang tujuan acara, harapan dari acara ini, dan perkenalan tamu kehormatan yang hadir, termasuk Bu Miarti selaku anggota DPRD Kota. Selain Bu Miarti, Pak Dandi juga hadir, ia melemparkan senyum padaku meski kami berjarak dua meja.

Ini pertama kalinya kuhadiri acara seperti ini sejak menjajaki dunia aktivis. Sebelumnya, hanya pernah beberapa kali menemani Bang Latif pada acara makan malam pebisnis real estate. Jelas ini bukan acara makan malam biasa. Terus terang, aku agak gugup, terutama karena harus berusaha menemukan donatur dan mitra yang tepat untuk mendukung seminar. Bu Miarti mengenalkanku pada seorang perempuan yang kutaksir berusia awal lima puluhan. Namanya Bu Juharni, perwakilan dari LSM Perempuan Berjaya Nusantara (RENJANA) yang delapan tahun terakhir konsisten memperjuangkan perempuan untuk hidup bebas dari kekerasan, diskriminasi, dan kemiskinan. Aku dan Lia mendengarkan Bu Juharni yang bercerita dengan kualitas seperti Dewi Sartika sebab kami seolah mendengarkan seorang guru yang tulus membagi ilmu kepada muridnya. Bu Juharni katakan bahwa LSM-nya sedang membangun pusat-pusat layanan.

“Kami menyediakan shelter untuk korban kekerasan, pusat konsultasi, dan pelatihan keterampilan,” ujar Bu Juharni. Sorot matanya berkilat, penuh keyakinan yang tak dibuat-buat. Karena pembicaraan sudah menyentuh isu kekerasan terhadap perempuan, mulai kuperkenalkan kelompok kami. Kuuraikan tujuan serta program yang sedang kami kerjakan, terutama seminar yang tengah kami rancang dan betapa pentingnya dukungan dari lembaga seperti RENJANA. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, aku telah memetakan isi seminar dan menjelaskan urgensi kolaborasi dengan LSM, terutama dalam konteks penguatan jaringan.

Lia dengan sigap menunjukkan proposal seminar yang telah kami siapkan. Saat Bu Juharni mulai mengajukan pertanyaan kepada Lia dan masuk ke sesi diskusi singkat, Bu Miarti menepuk pelan lenganku, lalu mengajakku mengambil minuman. Sambil berjalan, Bu Miarti berbisik, menunjuk dengan permainan mata siapa saja yang harus kutemui dan siapa yang sebaiknya tidak. “Mereka itu perusahaan dengan program CSR yang kuat.” Begitu kata Bu Miarti sambil mengarahkan mata pada satu perusahaan telekomunikasi.

Saat kami kembali ke meja, elevator pitch tengah berlangsung, disampaikan oleh perwakilan berbagai LSM secara bergantian. Kini di panggung, Bu Juharni berdiri dengan percaya diri, menjelaskan visi organisasinya, program-program unggulan, serta proyek-proyek spesifik yang tengah mereka jalankan dan butuh dukungan. Aku nyaris tak percaya ketika mendengar ia menyebut seminar kami sebagai salah satu agenda yang mereka dukung. Kuakui kemampuan Lia. Ia menoleh padaku seolah membanggakan hasil bicara-bicaranya saat kutinggalkan tak sampai sepuluh menit tadi, sementara itu aku terkesiur riang sambil mengacungkan jempol di bawah meja. Lia terkikik dan segera menutup mulutnya dengan tisu. Ini langkah baru, dan juga besar. Karena itu, dadaku meletup-letup penuh kegembiraan. 

Beberapa saat kemudian, kami sudah terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Kuhitung ada lima atau enam. Semuanya terjadi begitu saja. Para wakil dari perusahaan, pemerintah daerah, lembaga filantropi, dan yayasan donatur tampak sibuk memilih isu yang menarik perhatian mereka, yang paling sesuai dengan agenda atau strategi mereka masing-masing. Bu Juharni yang duduk di kiri berbisik padaku, “Ini seperti berdagang, sesi tawar-menawar. Kamu harus jual daganganmu dengan baik supaya mereka mau membeli. Ingat, nilai yang tinggi mendatangkan penawaran yang tinggi.”

Kuasai medan!

Begitu kira-kira maksud Bu Juharni. Ia bisa saja merangkum semuanya sesederhana itu, tapi ia tahu aku si anak baru tentu membutuhkan lebih dari sekadar arahan singkat. Aku teringat kembali pada cerita-cerita Bang Latif tentang acara makan malam bersama rekan bisnis kontraktor dan pemodal. Dari situ aku mulai paham. Orang-orang yang duduk dalam satu lingkaran, tampak mendengarkan, bahkan mengangguk-angguk, belum tentu berarti mendukung. Sering kali, ada yang hadir hanya karena penasaran. Ada pula yang datang sekadar ingin tahu, atau lebih buruk: mencari celah untuk menyerang. Maka perlahan aku mulai membuka mata lebih lebar. Bahwa menguasai medan bukan sekadar soal mendekati orang yang tampak sepakat, tapi memahami siapa mereka, apa niat mereka, dan bagaimana aku memosisikan diri dalam tiap percakapan. Dan begitulah, sesuatu benar-benar terjadi, dan terjadi dengan cukup sengit.

Kutatapi satu-satu wajah yang duduk di meja bundar ini, empat laki-laki dan dua perempuan, selain aku, Bu Juharni, Lia dan Bu Miarti. Dan kukenali satu wajah yang menyebalkan: si separuh Arab, Pak Muhaddin, dan ia memperkenalkan diri sebagai seseorang dari perkumpulan masyarakat adat dengan nada bicara menunjukkan kepercayaan diri berbobot keangkuhan. Ah! Di mana-mana rasanya ia hadir.

“Jujur saja, tema seminar ini menarik. Terlebih saat saya mendengar akan ada sesi workshop yang membahas pemahaman hukum terkait poligami,” ujar seorang pria bertahi lalat di ujung luar mata kanannya. Jika ingatanku benar, tadi ia memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari sebuah perusahaan minyak kelapa sawit. “Tapi saya juga khawatir, seminar ini justru akan memecah belah masyarakat. Bisa saja membuat perempuan mulai curiga pada suaminya sendiri.” Ia menatapku lekat-lekat, seolah menanti jawaban yang bukan sekadar retoris. Nada bicaranya sopan, tapi terukur. Aku tahu persis, pertanyaannya bukan hanya soal isi seminar, melainkan juga soal citra. Ia ingin memastikan bahwa dana CSR perusahaannya tak disalurkan pada isu yang bisa memicu keributan. Bukan lagi semata soal kepedulian, tapi sudah masalah kalkulasi: apa imbal balik yang akan mereka terima dari uang yang mereka keluarkan?

Melihatnya menunggu respons dariku, aku tersenyum. Kugeser posisi duduk sedikit kedepan, menyoroti matanya agar ia paham aku menunjukkan perhatian pada pertanyaannya. “Sebaliknya, seminar ini justru mendorong transparansi dalam hubungan. Kalau sebuah hubungan bisa rusak hanya karena perempuan diberi wawasan lebih luas, yang salah bukan seminar ini, tapi pondasi relasi itu sendiri. Pernikahan yang sehat tidak takut pada kesadaran.”

Lihat selengkapnya