Aku teringat dan mengingat bagaimana Ibu terkikis. Habis tidak, tetapi perlahan menjadi semakin pipih dan tipis. Ia relakan dirinya larut bersama segala beban yang tak pernah diucapkan. Nyatanya apa yang tidak terberai kata-kata, bukan berarti luput pula dari penglihatan. Tak hanya kian tipis, Ibu juga kering dan meranggas sehingga Bapak, entah mana yang lebih kuat di antara cinta atau rasa bersalah, menjaganya dengan hati-hati, nyaris seperti memelihara permata yang sudah retak. Bapak tahu, tersenggol sedikit saja maka hancurlah Ibu menjadi keping-keping yang sulit disatukan lagi, juga rasanya tidak mungkin utuh lagi.
Bapakku adalah laki-laki baik. Ibuku perempuan baik-baik. Namun kebaikan itu tidak serta-merta membuat hidup yang mereka jalani akan baik pula. Tidak sesederhana hukum tabur-tuai, bahwa menanam kebaikan akan berbuah kebaikan. Ada saat-saat ketika kesabaran Bapak yang begitu luas seperti samudra justru menenggelamkannya. Ada kalanya keikhlasan Ibu yang diharapkan melingkupi dirinya seperti selimut hangat malah menjadi jerat; menggulung dan membekap.
Keduanya tahu mereka sedang bertahan dan menahan. Lebam-lebam perasaan bukanlah sesuatu yang perlu dikasihani, apalagi diobati. Mereka menerima segala memar seperti bagian dari harga yang harus dibayar untuk tetap bisa disebut keluarga. Tapi bagiku, apa yang tidak mereka kasihani terhadap diri sendiri itu, apa yang tidak pernah sempat mereka obati, adalah warisan yang menyakitkan. Cara paling egois yang pernah kuterima sebagai anak sebab tanpa pilihan, aku harus menyesuaikan diri dengan perasaan orang tua yang tidak pernah sembuh sepenuhnya.
-oOo-
Bapak tiri yang kupanggil Bapak itu; karena hanya ia seorang ayah yang tampak olehku sepanjang hidupku; adalah seorang yang lahir dari pasangan Minang tulen. Bapak pernah berkata tradisi Minang memandang seorang laki-laki yang beranjak remaja tak lagi berkamar di rumah ibunya. Bagi mereka, tinggal di rumah orang tua setelah usia tertentu adalah satu pantangan. Tak heran jika kebanyakan anak laki-laki Minang tumbuh besar di lapau, tempat berkumpul yang juga menjadi sekolah kehidupan. Mereka akan berbagi pengalaman bahkan berbagi pekerjaan. Isi perut dicari dengan kepandaian masing-masing. Boleh bekerja mencari rumput untuk sapi atau kerbau, boleh mengumpulkan batu di batang yang akan diangkut oleh mobil buaya ke kota untuk dijual, atau bisa saja berdagang di pasar. Namun, di atas semua itu, martabat tertinggi bagi laki-laki Minang adalah tidak cukup hanya pergi meninggalkan rumahnya, tetapi juga kampung halamannya. Merantau. Mencari penghidupan, membangun kemandirian, menapaki jalan yang jauh dari kasih sayang bundo kanduang, dan akan menjadi seseorang yang kelak dipandang di perantauan juga disegani saat pulang ke kampung halaman.
Itulah yang dilakukan bapakku. Pergi dari Pariaman menuju Pekanbaru saat usianya sembilan belas tahun. Baru saja tamat Sekolah Menengah Atas dan membawa semua berkas-berkas pendidikannya. Bapak pernah berkisah, bahwa tahun-tahun pertama SMP hingga menuju akhir SMA adalah saat-saat di mana bangsa ini serba goyang dan gamang. Segalanya terasa rawan. Banyak orang mendadak hilang arah, sebagian lainnya justru hilang tanpa kabar. Ia menyebut tahun-tahun itu sebagai masa di mana seseorang bisa berubah menjadi musuh hanya karena bisik-bisik, atau bahkan hanya karena ditunjuk. Ilmu tunjuak, kata Bapak satu waktu. Sekolah bukan lagi tempat mencari ilmu, tapi tempat di mana belajar diam agar tetap aman. Ada orang-orang yang dulu rajin berbicara di mimbar, mendadak bungkam. Ada pula yang tak sempat membungkam diri, lalu tak pernah terlihat lagi. Telah terjadi otoritarianisme. Operasi militer menjadi semacam pembersihan terhadap individu yang dianggap terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Bersih-bersih itulah yang memengaruhi nasib Bapakku.
Sesampainya di Pekanbaru pada pertengahan 1971, Bapak bersama seorang teman sekampung dari Pariaman, mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan kontraktor asal Amerika Serikat yang bergerak di bidang eksplorasi minyak dan gas bumi. Perusahaan menyaring dua puluh empat pelamar yang akan menjalani serangkaian tes di Buton, Kabupaten Siak, hingga jumlahnya menyusut menjadi sembilan orang terpilih. Temannya diterima, Bapak tidak.
Empat bulan kemudian, temannya singgah sebentar ke Pekanbaru sebelum pulang kampung. Mereka bertemu dan bertukar cerita. Sesuatu membuat Bapak terenyak. Teman itu mengungkapkan, kabarnya Bapak tidak diterima bukan karena nilai atau persaingan. Tapi karena nama kakeknya. Nama itu nama lelaki yang selama ini hanya dikenal orang-orang kampung sebagai sosok pendiam yang pandai mengolah tanah, seorang yang tangannya piawai menakar pupuk dan matanya mampu membaca cuaca, yang kerap dipanggil pemilik sawah, atau tuan tanah, atau bahkan saudagar kebun untuk mengurusi ladangnya karena panen dari tangannya selalu lebih baik dari tangan petani lain. Namun ternyata di balik keahlian itu, konon, ada bisik-bisik yang beredar bahwa laki-laki tua itu pernah dekat dengan sesuatu yang benderanya berwarna merah dengan simbol palu dan arit bersilang di tengah.
Bapak terdiam. Ia tak tahu dari mana datangnya kabar itu, siapa yang pertama kali menyebarkannya, atau dasar apa yang membuatnya dipercaya. Ia tak yakin kakeknya yang bahkan sudah di dalam tanah itu paham betul apa itu partai, apalagi ideologi. Itulah ilmu tunjuak mungkin beraksi, pikirku selama mendengar cerita Bapak dulu.