versatile

HELLOHAYDEN
Chapter #9

Bab 9

Ini sebenarnya ada apa?

Kenapa aku jadi terlanting kepada situasi-situasi yang genting?

-oOo-

Bang Latif masih pulas. Tadi malam ia pulang lewat pukul dua belas. Pagi ini ia melewatkan solat Subuh, juga nasi goreng yang kubuat untuk sarapan sudah tak lagi panas. Sejak hari di mana ia pergi ke rumah Bang Nap dengan raut cemas, nyaris setiap malam ia pulang terlambat. Sibuk bekerja, rapat dadakan, ketemu vendor dan bahas proyek, dan semacamnya, dan lainnya. Itulah alasan Bang Latif saat kutanyakan atau tidak kutanyakan. Kami jadi jarang mengobrol. Jarang berarti nyaris tidak. Walaupun begitu kami masih mengobrol, meskipun dalam durasi yang singkat, juga dipadukan dengan kecepatan bicara yang lebih dari biasanya. Aku sengaja lebih cepat karena merasa ia hanya punya sedikit waktu untuk berempati pada masalahku. Kutaksir-taksir masalah yang sedang ia hadapi lebih besar sehingga tentu waktu yang dimilikinya akan lebih banyak terjun ke sana. Akhirnya kuceritakan apa yang menjadi masalahku, masalah kami, atau jika ia berkenan ikut masuk, aku bisa menyebutnya sebagai masalah yang kita hadapi. Tak seperti biasanya, tatapannya serba bingung. Tapi semua itu sama sekali bukan persoalan. 

Yang jadi persoalan adalah apa yang kulihat di televisi pagi ini setelah Bang Latif naik lagi ke kamar untuk mandi. Headline tertulis: “Kelas Poligami, Tahun Baru Tambah Istri”. Pembawa berita tampak jelas menahan tawa. Perempuan itu berusaha tetap profesional, meski sesekali tangannya bergerak gelisah ke kiri dan kanan, seolah mencari pegangan. Bagaimanapun, ia berhasil menyelesaikan laporannya tanpa salah ucap. Masalahnya begitu ia selesai, perutku langsung geli tergelitik!

Kumatikan TV, tergesa-gesa bangkit meninggalkan sofa menuju kursi bar. Membuka laptop yang sedari kemarin-kemarin tak berpindah tempat, mencari tahu apa kelas poligami itu. Dan, setelah scrolling dari satu postingan ke postingan, berpindah dari satu tab ke tab lainnya, geli menggelitik di perutku mendadak berubah menjadi geli jijik. Kelas poligami itu pada awalnya adalah semacam grup diskusi di Facebook. Lalu beralih ke Instagram dengan akun Perhimpunan Poligami, dan perhimpunan ini yang menjadi penyelenggara kelas poligami nasional. NASIONAL! Kelas itu akan diselenggarakan serentak di delapan kota pada tanggal 21 Oktober. Salah satunya? Pekanbaru. Lokasi kelas dirahasiakan. Hanya mereka yang sudah mentransfer uang pendaftaran yang akan diberi tahu di mana kelas itu berlangsung. Biayanya? Dua setengah juta! Peserta akan mendapat fasilitas lunch, coffee break, materi pendamping, buku saku poligami, dan kaos hijau daun pisang bertuliskan putih #nambahistribikinhepi. Lalu pada tiap-tiap unggahan promosi, dibawahnya tertulis “Kerahasiaan Terjamin”. Pada bagian ini aku tanpa sadar bibirku menyungging sinis. 

Kuraih handphone, mengirimkan pesan WA kepada Lia:

“Kamu udah lihat berita belum? Ada kelas poligami!” 

Kirim.

Kufoto layar laptop yang menampilkan satu unggahan iklan kelas itu.

Kirim. Untuk foto ini juga kukirim ke Bu Juharni.

Aku ingin segera berlari menuju Bang Latif; mengadu sambil tertawa bahkan mungkin akan menangis. Tapi kutahan mengingat situasi kami akhir-akhir ini agak pasif. Tak selang berapa lama, Lia membalas, mengirimkan dua video yang langsung membuat darahku naik hingga berada selapis saja di bawah kulit kepala. Dua video, dan keduanya dari kelompok perempuan yang rela dimadu suami. Kedua video itu diunggah di Facebook oleh penyelenggara kelas ini. Tapi keduanya hadir dengan konteks berbeda. Satu video, tampil dengan serius, tiga perempuan dengan pakaian serba hitam, berjilbab panjang bahkan salah satunya hanya menampilkan mata saja, mengatakan bahwa mereka setuju bahwa poligami adalah hak laki-laki yang diatur agama, dan mereka tak mau memanggul dosa karena menentangnya. Satu video lagi, dibuat untuk hiburan semata, menjurus candaan, perempuan-perempuan ibu rumah tangga sedang mencuci pakaian bersama di sungai, sambil ngobrol, menyetujui bahwa tak apa suaminya nikah lagi asalkan uang belanja lebih dari mencukupi. Liurku langsung terasa pahit setelah menonton keduanya.

“Wah! Luar biasa!” gumamku pada diri sendiri dengan kesal setengah mampus setelah menyadari sesuatu. Sudah berapa kejadian ketimpangan gender justru disokong oleh perempuan? Aku teringat bagaimana media—baik cetak, elektronik, daring, hingga media sosial—diramaikan oleh aksi dan tingkah kelompok emak-emak dalam mendukung pasangan presiden dan wakil presiden. Mereka memperlihatkan keberpihakan secara gamblang: dari membagikan selebaran, mengorganisir door-to-door campaign, hingga membuat video dukungan yang kerap viral di media sosial. Tahun lalu barisan ibu-ibu begitu memanas, terpecah oleh isu agama yang sengaja dibetot ke panggung politik dalam pilgub Jakarta. Mereka digiring melalui narasi dosa dan pahala, seolah-olah pilihan politik mereka menjadi penentu nasib akhirat. Perpaduan antara agama dan politik kala itu terasa megah menggugah. Sebuah permainan yang cerdik, namun kejam. Memandu, tetapi sekaligus menyesatkan. Suara mereka yang bergabung dianggap suci, tubuh mereka menjadi murni hanya karena ikut berteriak di barisan yang “benar”, dan mereka yang memilih diam, atau tak bergabung dalam hiruk-pikuk itu, langsung dicap sebagai pendosa besar. Jika bukan mereka yang menerima akibatnya, maka konon dosanya akan menimpa satu negara.

Bahuku tmendadak merosot, merasa kecewa sebab keberadaan mereka lebih menyerupai alat mobilisasi. Digerakkan, diarahkan, semata-mata demi kepentingan laki-laki. Subordinasi perempuan bukan hanya bertahan, tetapi kini dipamerkan terang-terangan, nyaris tanpa malu. Alih-alih mendorong kesadaran kolektif akan isu-isu yang benar-benar menyentuh kehidupan perempuan, barisan ini justru memperkuat hierarki yang telah mapan. Mereka tidak memperjuangkan perubahan, tetapi memelihara status quo, menyegarkan wajahnya sambil tetap mengekalkan esensinya. Mereka menjadikan agama, moralitas, dan tradisi sebagai alat pembungkam, menutupi kendali itu dengan dalih kebenaran universal. Pola ini terus berulang dan aku tahu, selama ini tak bisa dihentikan, maka perubahan tidak pernah sejengkal. 

Kelompok lain yang bertingkah, aku kena imbasnya. Setelah namaku melambung karena skandal dengan salah satu anggota band nasional, aku menjadi sasaran empuk untuk ikut-ikutan dihukum atas dosa orang. Kelas ini dikait-kaitkan dengan Vera. Aku sekarang adalah ranting terluar pohon yang siap dipatahkan karena ada satu daun yang busuk. 

Kolom komentarku sesak oleh kata-kata yang menusuk. Pesan pribadi Instagramku lebih buruk: penuh ejekan, cemooh, dan hinaan yang tak manusiawi. Nyaris seluruhnya tak mampu kubacakan. Tak layak didengar bahkan oleh telingaku sendiri. 

-oOo-

“Ver, Mas Tyo mungkin akan bawa satu teman lagi untuk bantuin dia ngisi workshop,” ujar Lia. Akhirnya, selain mengirimkan dua video, dia juga membalas pesanku dengan mengatakan akan datang ke rumahku.

“Apa dana kita cukup membayar seorang lagi? Aku rasa dua orang udah cukup untuk ngisi workshop.”

Lihat selengkapnya