versatile

HELLOHAYDEN
Chapter #10

Bab 10

Sepanjang Bang Latif bercerita, suaranya mengisi ruang di kepalaku tanpa benar-benar menancap. Kata-katanya datang dan pergi, jelas tak jelas. Dirinya pun mulai mengabur sebab air mataku mengintip-intip dari pelupuk. Kucoba mendengarkan, tapi pikiranku sibuk dengan percakapan lain yang lebih gaduh antara aku dan diriku sendiri.

Mengapa laki-laki sering melihat pengorbanannya sebagai sesuatu yang istimewa? Mereka mengalah atas hal-hal yang sejatinya tidak pantas dilakukan sejak awal, lalu menyebutnya sebagai bentuk kedewasaan atau kebesaran hati. Anehnya, selalu ada kebanggaan terselip di sana, seolah-olah mereka telah melangkah lebih jauh padahal kenyataannya tidak. Misalnya, ketika anak laki-laki dimarahi habis-habisan oleh ibunya karena ketahuan menyimpan video vulgar, lalu ia berkata kepada temannya bahwa ia telah “berkorban” dengan menghapus video itu demi menenangkan ibunya. Atau seorang suami yang tak lagi rutin hadir dalam pertemuan laki-laki yang isinya menyanyi, minum, dan ditemani perempuan lain—kemudian mengatakan bahwa ia tengah “mengalah” demi keutuhan rumah tangga. Kupikir, menghindari kesenangan sesaat yang semestinya tidak dilakukan tak layak disebut sebagai pengorbanan. Bahkan kata “mengalah” pun terasa tidak pantas disematkan. Tapi bagi perempuan, pengorbanan telah ditanamkan sejak dini. Nyaris otomatis. Tak tertawar. Mereka bilang seni melepaskan. Tapi di mana letak seninya jika yang dilepaskan itu lebih sering dengan air mata yang diam-diam disembunyikan, dan kadang dengan teriakan yang diredam. Berkorban bukan lagi jadi pilihan, tetapi berubah menjadi tanggung jawab yang terbungkus dalam banyak nama, wujud dan peran: ibu, istri, dan anak perempuan. Kami belajar, baik dari ibu kami maupun dari luka-luka kecil yang berserakan di sepanjang jalan, bahwa hidup tenang bersama laki-laki kerap harus dibayar dengan kehilangan—entah suara, kebebasan, atau bagian dari diri kami sendiri yang perlahan memudar tanpa disadari.

 Aku mengingat bagaimana dulu teman kantorku, saat aku masih karyawan percobaan di bank, ia katakan sedang menjaga keutuhan rumah tangganya saat memutuskan melepaskan pekerjaan yang telah membesarkan namanya, pekerjaan yang jelas-jelas ia sukai dengan jabatan yang diimpikan. Hanya karena suaminya tidak ingin saat ia pulang mendapati istrinya belum di rumah, maka si istri harus korbankan kesenangan yang ia terima dari jabatan itu. Temanku yang lain, dengan senyuman pahit menceritakan bagaimana ia meninggalkan dan menanggalkan mimpinya melanjutkan studi ke luar negeri. Alasannya? Ayahnya. Bukan karena alasan keamanan atau keselamatan, tapi karena kekhawatiran si ayah tentang budaya Eropa yang katanya bisa merusak hakikat seorang perempuan. Hakikat? Aku bertanya-tanya, hakikat seperti apa yang dimaksud? Dan siapa yang berhak menentukan hakikat mana yang lebih baik antara satu negara dengan negara lainnya? Kenapa hakikat setiap perempuan berbeda tergantung tanah negeri yang dipijaknya?

“Kita perempuan, Ver,” kata temanku, “kamu tahulah….” Tiba-tiba wajahnya terbayang jelas di kepalaku. Ia mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi seperti orang yang kelelahan. Seingatku, ia sempat menitikkan air mata setelahnya. Tapi yang terdengar olehku justru hal lain. Kamu tahulah yang ia maksud itu perpendekkan dari kita selalu diminta untuk memberi, tapi pernahkah mereka bertanya apa yang kita simpan untuk diri sendiri? Atau mungkin itu juga bukan hak kita.

Maka jelas bagaimana perempuan memaknai pengorbanan di mana justru berakar dari apa yang mereka cintai, mereka bangun, mereka tanam, dan akhirnya harus mereka lepaskan. Bukan karena salah, tetapi karena tuntutan keadaan, harapan orang lain, atau aturan yang tak tertulis tapi begitu kuat mencengkeram. Sialnya lagi, pengorbanan semacam itu bahkan nyaris tak dianggap istimewa. Bisa jadi sesuatu yang dianggap wajar hanya karena yang kehilangan itu adalah seorang perempuan.

“Ver?” panggil Bang Latif, suaranya memecah lamunan. Ia menukikkan kedua alisnya, menatapku dekat-dekat. Sepertinya sudah beberapa kali ia memanggil, tapi tak kunjung kujawab.

“Jangan nangis …,” pintanya sambil berbisik dan mengusap kedua pipiku. “Meskipun aku bilang begini, bukan berarti aku enggak sedih. Keputusan ini sama beratnya buat aku.”

“Keputusan?” tanyaku terkejut sekaligus bingung. “Keputusan apa? Aku bahkan belum ngomong apa-apa, Bang!”

Bang Latif terdiam, matanya menyorotiku seperti mendengar sesuatu yang salah. Perlahan ia menarik tangannya yang tadi mengusap pipiku untuk mengusap wajahnya sendiri. Ia gusar. “Kamu pikirkan lagi. Undangan seminar belum dibuka. Masih ada waktu untuk menunda seminar.”

Aku terbelalak. “Menunda?” Suaraku bergetar antara bingung dan marah.

“Ya,” jawab Bang Latif datar. “Seenggaknya sampai aku tanda tangan kontrak.”

Panas di dadaku rasanya merayap hingga tenggorokan, sesuatu mengental menyangkut di sana  hingga aku hanya bisa menggeleng untuk merespons perkataan suamiku.

“Kamu udah dengar ceritanya. Kamu pasti bisa bayangkan gimana aku terdesak,” lanjutnya, berusaha membuat dirinya tampak tak sepenuhnya jahat. “Bang Nap, Mama, Papa, semuanya berharap besar sama kerjasama ini. Aku juga. Apalagi Sherna mau lahiran. Bang Nap cuma pengen kasih yang terbaik buat anaknya, buat istrinya.” Nada suaranya memohon, tapi bagiku terdengar seperti menambah beban yang sengaja ia limpahkan ke pundakku.

“Dengan ngorbanin aku, gitu?” Kubalas dengan tajam.

“Ver, please,” Bang Latif meraih kedua pundakku. Bagaimana cengkeramannya, begitu pula tatapannya: lemah dan tahu akan kalah.

“Bang,” aku menelan dengan susah payah apa yang menyumbat tenggorokanku. “Kupikir Satria itu adalah pisau. Tapi ternyata, aku salah. Pisaunya sendiri adalah masalah-masalah yang kalian bawa. Sekarang pisau itu bermata dua. Sama tajamnya. Satu adikku, satu suamiku.” 

“Harusnya itu jadi pertimbangan buat kamu. Bukan cuma Satria dan aku, kamu kan lihat sendiri gimana reaksi orang-orang tentang seminar itu. Masalah Satria belum selesai, belum lagi pihak-pihak lain yang udah menekan kalian duluan sebelum kalian mulai. Sekarang kamu pasti terganggu sama kelas poligami itu, kan?

“Abang tahu soal kelas itu?” Setengah terkejut setengah curiga, antara ingin tahu dari mana ia mendapat informasi itu atau lebih buruk lagi, kucurigai suamiku menyusup sebagai peserta.

“Ya.” Bang Latif mengusap dahinya. “Bu Joyah kemarin sempat ngomel karena suaminya ketahuan komentar di postingan itu.” 

Bu Joyah adalah konsultan arsitektur desain yang selalu menjadi rekan Artha Griya Konstruksi, perusahaan keluarga suamiku. Jika dibandingkan dengan Bu Joyah yang kukenal setelah menikah dengan Bang Latif, aku terlebih dahulu mengenal Pak Gandhi, suami Bu Joyah. Kami sempat bertemu dalam satu pelatihan. Kala itu ia salah satu murid pelatihan di lembaga bahasa tempatku bekerja. Perusahaannya mendaftarkan beberapa karyawan yang akan mendapatkan promosi jabatan untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dalam negosiasi bisnis. Dan memang, Pak Gandhi itu gelagatnya genit.

“Itulah kenapa seminar itu tetap harus diadakan, Bang.” Kutatap sepasang mata suamiku dengan penuh harap. “Seminar itu bukan semata-mata memberi wawasan poligami aja. Juga bukan bentuk konfrontasi pada laki-laki. Ini untuk kesadaran kita semua. Entah apa yang enggak mereka sukai, mereka bahkan belum tahu isi seminar itu akan bagaimana, tapi udah menolak mentah-mentah.”

“Mereka siapa?”

“Mereka yang menganggap seminar kami sebagai agenda asing, lah, liberalisme Barat, lah! Mereka berpikiran sempit mengira seminar ini berpotensi merusak tatanan sosial dan keluarga tradisional bahkan mungkin melenceng dari ajaran agama! Itu! Pak Basri dan ustad itu udah menghasut Abang!”

“Astaga, Ver! Pak Basri itu pemodal proyek! Ustad Amri itu akhirnya mau bantu marketing! Apa pun dia pikirkan tentang patriarki atau ideologi mana pun, selagi dia milih Artha Griya dan membayarkan sesuai perjanjian di kontrak, aku enggak peduli!”

Lihat selengkapnya