Januari, 1998.
Jari-jemari Ibu memain-mainkan bordiran benang emas pada ujung mukena putihnya. Al-Qur’an yang terbentang di atas meja lipat tak dihiraukannya. Kuamati meja kayu itu, meja yang ditempah khusus untuk menempatkan kitab itu saja. Ukiran bunga pada meja—tak tahu bunga apa—tampak bagus. Indah tidak juga, hanya bagus. Kupikir, Bapak di shaf depan mungkin sedang menggunakan meja lipat serupa. Meskipun tak terlihat olehku sebab kain pembatas antara shaf laki-laki dan perempuan masih terbentang, aku tahu lantunan ayat suci yang kudengar ini terberai dari bibir Bapak. Melodius, mengalun syahdu beradu dengan rintik hujan di luar dan berhasil memberikan ketenangan di musola.
Tante Ay—Sulayah, adik Bapak—yang duduk di sebelah, menepuk tanganku, “Ngaji. Baca itu!” bisiknya tegas, sambil menunjuk Al-Qur’an di depan Ibu. Ibu yang tersentak langsung menggeser meja lipatnya untuk berbagi bacaan denganku. Meski tadi ia tampak tak membaca sama sekali, kini terlihat sibuk mencari ayat yang sedang dibaca Bapak. Matanya melompat dari satu baris ke baris lain, begitu juga jari telunjuknya.
“Bu, aku lapar. Tadi cuma makan semangka dan pisang goreng,” bisikku pada Ibu. Tanpa berkata apa-apa, tangan Ibu menyelinap masuk ke dalam mukenaku, menemukan tanganku dan meremasnya. “Sabar. Masih hujan. Jangan rewel.” Perpaduan antara ucapan dan tindakan ibuku membuatku tahu itu adalah satu peringatan.
Kutelan keluhan. Suara rintik hujan di luar semakin jelas terdengar, ditambah pula gemuruh menggelegar, seperti mengejekku sebab tak dapat dukungan Ibu. Kulirik jam besar yang tergantung di dinding di atas mimbar, sudah hampir pukul sepuluh malam. Sudah setengah jam solat tarawih selesai dan kami semua masih di sini, sebagian mengikuti Bapak mengaji, sebagian lagi sudah masuk ke alam mimpi.
Entah berapa lama kami di musola, tapi aku sampai dibangunkan Ibu untuk pulang. Hujan hanya menyisakan gerimis. Jalanan yang masih berupa tanah padat itu juga becek dan menjadi licin, sehingga selain harus mengangkat rok mukena tinggi-tinggi, aku juga harus melangkah hati-hati. Suara kodok dan jangkrik bersahut-sahutan, sesekali berselingan dengan bunyi kecipak sandal yang menyentuh tanah lengket. Kami pulang bersama beberapa tetangga yang rumahnya searah. Meskipun berjalan di depan, masih bisa kudengar percakapan pelan antara Tante Ay dan Ibu. Tante Ay mengatakan bahwa ia tidak ingin Satria sepertiku.
“Seperti apa memangnya?” tanya Ibu. Ada sesuatu yang ia tahan agar tidak keluar dalam nada yang tak enak di dengar.
“Indak pandai mengaji.”
Perkataannya itu lebih cocok disebut sebagai vonis daripada sekadar pendapat.
“Dulu kami diantar Amak ke guru ngaji,” sambung Tante Ay, “dibawakan rotan sekali. Dikasih ke guru rotan itu. Kalau kami karengkang, habis betis kami kena rotan. Kalau ndak lancar mengaji, habis tangan kami dilapia jo rotan.”
Ibu tidak segera menjawab. Ia mengambil beberapa langkah hanya dengan bungkam. Kugigit bibir, dan sangat-sangat berusaha keras tidak menoleh, tidak menyela, tidak membalas. Padahal mulutku nyaris refleks ingin mengatakan: Aku bisa mengaji. Kutahan, karena sekali kubuka mulut, aku tahu aku akan dianggap makin kurang ajar oleh Tante Ay.
“Ay …,” suara Ibu akhirnya merayap di antara suara-suara kecipak sendal dan kodok. “Vera itu bukan nggak pandai, dia cuma lagi nggak pengen. Mungkin dia lapar. Berbuka tadi juga dia cuma makan pisang goreng.”
“Ondeh, ado lo indak nio mangaji tu yo? Awak padusi tapi banyak malehnyo!” Tante Ay menyahut cepat dengan suara yang lebih keras juga lebih tajam.
Aku tahu, ucapannya hanya untuk dirinya sendiri, atau mungkin pada langit yang masih menyisakan gerimis. Sebab, baik aku maupun Ibu tak ada yang benar-benar paham bahasa Minang, setidaknya tidak cukup untuk membalas. Tapi, aku dan Ibu tahu betul bahwa nada kesal juga sindiran itu tak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa mana pun. Perasaanku berantakan, antara lega karena Ibu membelaku meskipun terlambat tapi juga perih dikarenakan hal yang sama. Gerimis tipis ini terasa dingin menusuk-nusuk kulit. Tapi kurasakan pula ada air panas yang bersiap-siap tumpah dari sebalik mata. Perpaduan yang dingin di luar dan panas di dalam membuatku tak nyaman. Tanpa peduli apakah Ibu atau Tante Ay akan marah, aku melangkah besar-besar, mengejar Bapak yang berada jauh di depan bersama Satria dan Atuak.
Bapak berhenti. Mungkin karena mendengar derap langkah mendekat. Ia menoleh dan senyum kecil muncul di wajahnya saat melihatku. Tatapannya kemudian melompat ke Ibu yang sudah tertinggal di belakang. Bapak mengangguk pelan, memberi tanda bahwa aku bersamanya sekarang. Ia merangkul pundakku dengan satu tangannya yang bebas, yang tidak menggandeng Satria. “Lapar?” tanya Bapak. Aku mengangguk kuat sekali. Gerimis, suara ribut kodok, jalan basah dan licin, wajah dan mataku juga terasa panas, tapi rangkulan Bapak membuat segalanya terasa lebih baik.
Enek muncul dari dapur. Dua bakul nasi di tangannya masih mengepulkan asap. Sebenarnya tempat ini bukan ruang makan sungguhan, hanya ruang tamu yang disulap jadi ruang makan. Tikar anyaman bambu terbentang di tengah, dan di atasnya Bapak, Atuak, serta seorang lelaki sebaya Atuak yang kupanggil Gaek Datuak sudah duduk bersila, bersiap menyantap hidangan. Tak butuh waktu lama, tikar itu penuh dengan aneka lauk-pauk yang ditata sesuai jenisnya. Olahan cabe sekelompok, olahan bersantan juga, tak kalah kerupuk. Ada gulai ikan, sambal lado mudo, dan daun singkong rebus yang berkilau oleh kuah santan kekuningan. Teko plastik berwarna merah pucat berdiri tegak di tepi tikar, isinya kopi hitam pekat, masih panas. Tikar dan segala yang ada di atasnya itu adalah milik laki-laki. Kami perempuan hanya datang untuk menghidang lalu kembali ke dapur untuk makan. Ibu duduk di kursi plastik rendah. Hanya lebih tinggi sedikit dari posisi berjongkok. Warna hijau tua di kursi itu sudah memudar dan terkelupas-kelupas. Aku duduk di lantai persis di sebelah Ibu. Kami memangku piring dengan tangan kiri, tangan kanan menyuap nasi. Enek dan Tante Ay duduk di atas baju-baju lusuh yang kadang dijadikan Enek kain lap kompor sebelum berakhir menjadi keset di depan kamar mandi. Mereka bersandar sambil menyuap nasi dari piring.
“Satria tadi mana? Udah makan dia?” tanya Enek pada Ibu.
“Udah, Mak. Dia berbuka langsung makan nasi tadi,” jawab Ibu.
“Mana dia?”
“Udah tidur, Mak. Pulang dari musola langsung tidur dia.”
“Yo lah. Panek nyo, mah!” Enek mengangguk.
Tak ada satu pun yang bertanya kepadaku atau Ibu apakah kami masih lelah setelah perjalanan panjang dari Pekanbaru ke Pariaman. Tak ada yang menyinggung bagaimana perjalanan itu, apakah menyenangkan atau tidak. Padahal, kami baru sampai sore tadi. Sambutan hangat hanya ditujukan untuk Bapak dan Satria. Untukku dan Ibu sambutan itu terasa setengah-setengah—setengah senang, setengah enggan. Kini aku tak lagi menyoalkannya. Sejak dua tahun lalu, saat kutahu bahwa Enek dan Tante Ay bukanlah keluarga sesungguhnya bagiku, semuanya menjadi lebih jelas. Mereka hanya nama-nama di lingkaran keluarga Bapak yang juga tidak kandung denganku. Jelas mereka tak punya kaitan langsung dengan garis darahku. Kucoba memaklumi sikap mereka, sebab mereka mungkin berpikiran sama denganku: terlempar dalam keluarga yang bukan pilihan mereka, terpaksa menerima apa yang tak pernah mereka harapkan dari orang asing yang membawa pengalaman asing pula.
Bapak masuk dapur, tangannya membawa beberapa piring kotor, sisa makan malam mereka di depan. Melihat itu, Ibu dan Tante Ay sontak berdiri seperti mendapat sengatan listrik kecil.
“Aku aja, Bang. Istirahatlah,” ucap Ibu dengan cepat. Ia bahkan meninggalkan makanannya yang masih setengah disantap, buru-buru menerima piring-piring itu dari tangan Bapak. Tante Ay menghela napas pendek sebelum bertanya, “Alah pulang Gaek Datuak?”