Tapi inilah barangkali yang perlu kusyukuri. Setelah menderita diam-diam selama ribuan hari, segala jerih payah tumbuh menjadi anak perempuan yang tabah akhirnya mengantarkanku pada perasaan heroik. Aku terampil menyimpan persoalanku dengan Bang Latif, dan tetap tampil prima di hadapan siapa pun. Tak seorang pun bisa melihat batu besar yang teronggok kepalaku. Masalahku dengan Bang Latif tak ingin kuungkapkan. Selain tak ingin, juga sepertinya tak mungkin. Bercerita berarti menambah beban baru bagi RENJANA, PERMATA, dan pertemananku dengan Anggi dan Lia. Aku merasa seperti seorang pahlawan, menahan penderitaan yang satu ini hanya untuk tak menambah perkara. Kusisipkan kebanggaan pada diriku dengan mengingat Sujatin Kartowijono yang tidak peduli ditinggalkan calon suami demi perjuangannya terhadap sesama perempuan.
-oOo-
Bukan main si Satria.
Ia konser di mana-mana, membawakan lagu yang kubenci dengan riang gembira. Jemarinya lincah memetik senar gitar. Fans perempuan melemparinya bunga, penggemar laki-laki melesatkan botol soda ke arahnya. Dan ia terima semuanya dengan bungah, seolah tak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini selain berdiri di atas panggung dan merayakan dirinya.
Sementara itu, di kanal TV, bukan main si Ratna.
Berita menayangkan penangkapannya di Bandara Soekarno-Hatta. Ia akan berangkat ke Chile untuk menghadiri The 11th Women Playwrights International Conference (WPIC). Lebih dari dua ratus seniman, akademisi, dan aktivis dari tiga puluh lebih negara akan hadir sebagai peserta dan salah satunya adalah Ratna, si pendusta ulung yang berhasil memecah-belah dan menghebohkan negaranya dengan isu-isu yang justru akan dibahas pada konferensi internasional itu.
Dua pemandangan berbeda tersaji di hadapanku, tapi keduanya memberikan efek yang sama. Mual. Dan ingin kukeluarkan semua cairan asam dalam perutku tepat di wajah mereka berdua.
Sudah dua hari Bang Latif tidak pulang. Ia hanya menelepon saja. Sekali. Paginya. Menanyakan apakah aku sudah berubah pikiran? Tidak, kukatakan. Seperti yang sudah kuduga, ia masih saja berusaha mengubah pendirianku dengan kembali memaparkan keuntungan (menurutnya) yang akan kami dapatkan jika kutarik diri dari seminar. Kudengarkan saja ia tanpa niatan menyela. Aku lelah. Juga tahu ia tak mendengar dan tak ingin mendengar segala macam bentuk pembelaan. Bang Latif mengatakan tidak ingin berada di rumah untuk sementara. Kutanyakan ia di mana. Di hotel, katanya.
“Hotel tempat kita sering staycation,” ia berdeham. “Jujur … aku rindu kamu, Ver.” Ia melanjutkan dengan suara lebih lunak. Aku diam saja.
“Ver, aku enggak pernah menyangka dalam rumah tangga ini aku akan cemburu. Sekalinya cemburu, justru pada perempuan. Kamu lebih memperhatikan mereka daripada aku, suamimu sendiri. Sepertinya juga lebih memilih mereka daripada aku.”
Kutarik napas sebelum menjawab, “Bang, itu bukan cemburu. Itu kesal. Jangan bikin kesimpulan sesederhana itu. Itu bahkan menyesatkan pikiran Abang sendiri.”
“Bagiku sih sederhana. Gampang aja nyimpulinnya.” Suaranya kini terdengar datar, nyaris pasrah. “Ujung-ujungnya tetap begitu, kan?”
Telepon itu berakhir. Bang Latif mengucapkan salam penutup dengan terpaksa dan cepat.
Tak lama, ia mengirimkan chat Whatsapp, berupa tangkapan layar obrolannya dengan Bang Nap yang mengatakan Pak Basri hanya memberikan waktu sekitar dua minggu saja kepada Artha Griya untuk mempertimbangkan kerja sama dalam proyek perumahan. Ditambah pesan teks di bawah gambar itu: “Tolonglah, Sayang. Kamu tahu ini semua untuk apa dan untuk siapa.”
Sebelum sempat kubalas, Bu Juharni menelepon. Ia menyebutkan nama Amri (Duh! Amri lagi!) yang berceramah di hadapan jamaah, dibagikan live di YouTube segala, mengatakan bahwa poligami itu adalah hak laki-laki yang jelas diatur agama. Ustad itu mengindoktrinasi poligami justru sebagai usaha penyelamatan perempuan.
“Ya, emang benar kalau dilakukan sesuai syariat. Tapi dia itu nggak lihat data apa? Berapa banyak perempuan yang mengalami trauma psikologis karena praktik poligami? Mana setelah itu dia menyentil-nyentil seminar kita, Ver! Pakai bilang kalau orang-orang yang menolak justru berani mengharamkan apa yang halal!” Bu Juharni berkata keras. “Pundak saya langsung berat karena merasa ditiban dosa besar, kamu tahu nggak?”
Aku sontak tertawa, “Yah, gimana juga, enggak semua ustad seperti Ustad Hasan.”
Terdengar napas Bu Juharni terembus loyo. Ia jeda cukup lama dan aku tak lagi berniat mengatakan apa-apa. Kami lantas diam beberapa detik. Sebelum menutup teleponnya dengan suara lelah, ia katakan ia kedatangan tamu. Lalu saat menatap ponsel lagi setelah bertelepon dengan Bu Juharni, masih terpampang kolom chat dengan Bang Latif, dan aku sudah kehilangan minat untuk membalas pesannya.