Juli, 2018.
Bu Juharni pagi-pagi sekali menelepon. Ia katakan sekitar jam dua siang nanti aku harus datang ke auditorium salah satu Sekolah Tinggi Agama Islam di daerah Tangkerang. “Ustad Hasan ngisi acara seminar tentang poligami di sekolah itu. Pesertanya banyak, Ver!” Suaranya bergelora sementara aku masih mengusap-usap mata. “Ustad itu progresif,” tambahnya lagi. Sepertinya ia ingin meyakinkanku bahwa kedatanganku nanti tak akan sia-sia.
Nama ustad itu memang tidak asing, tapi poligami dan agama dalam satu kalimat selalu membuatku skeptis. Bu Juharni pasti tahu itu. “Saya baru dapat tiketnya tadi malam dari sepupu saya yang ngajar di sana. Masalahnya saya nggak bisa datang. Kamu aja yang datang, ya?” lanjutnya lagi masih mempertahankan geloranya.
Kujauhkan handphone dari telinga untuk melihat jam. Pukul enam kurang. Sabtu ini rencana liburku jadi gagal total. Selain harus membantu salah seorang anak temanku untuk mempersiapkan tes IELTS, kini aku juga harus menghadiri sebuah seminar. Kuberi tahu Bu Juharni bahwa kemungkinan besar aku tak bisa datang tepat waktu. Jarak waktu antara keduanya sangat mepet. Jarak rumahku dan STIA itu juga tak bisa dikatakan dekat.
“Mungkin saya selesai kasih les aja udah lewat jam makan siang, Bu.”
“Telat juga enggak apa-apa, Ver. Saya sebenarnya cuma pengen kamu ketemu sama ustad itu. Kamu lihat sendiri, dia cocok enggak ngisi seinar kita nanti.”
Jika memang itu tujuan Bu Juharni, dan ia tak mempermasalahkan keterlambatan, aku bisa. Lagi pula aku ingin tahu seprogresif apa Ustad Hasan itu. Ingin kulihat langsung dengan mataku seorang tokoh agama yang membuat Bu Juharni tak dapat menahan diri meneleponku di pagi buta di saat ia bisa meninggalkan pesan saja. Katanya, jam delapan nanti akan mengirimkan tiket itu melalui ojek. Kubuka lemari lebar-lebar. Kuperiksa satu-satu baju yang tergantung. Gamisku tak banyak, dan sekalinya ada, bukan yang sesuai syariat. Begini-begini aku tahu, sebab hingga akhirnya menikah dan pindah rumah, aku dulu hidup berdampingan dengan tetangga yang taat. Tak sekali dua kali kudengar ia katakan baju yang baik bagi perempuan adalah baju dengan warna gelap dan tidak bermotif macam-macam. Intinya: tak mencolok, tak menarik perhatian, melekat di badan sesuai fungsinya yang tak hanya cukup melindungi dari sinar UV, tapi juga dari mata liar laki-laki. Jilbabnya hanya sejengkal lebih pendek dari bajunya. Jika ia sedang menjemur cucian, nyaris tak bisa kubedakan mana jilbab mana baju. Lantas kubuka akun Instagram Balqia, menyusuri dengan cepat apakah mereka menjual pakaian wanita syar’i. Kutemukan beberapa model satu set dengan jilbabnya. Tanpa pikir panjang segera kuhubungi adminnya untuk proses beli dan dikirim setelah transaksi.
Bang Latif yang masih menggeliat malas-malas di kasur, membuka matanya perlahan.
“Kamu pagi-pagi gini udah buru-buru amat? Mau ngapain?” tanyanya dengan suara yang masih berat oleh kantuk.
“Ini, loh, Bang. Bu Juharni mendadak ngabarin bakal ada seminar yang harus kuhadiri,” jawabku sambil memilah-milah proposal dan menyiapkan berkas yang akan kutunjukkan pada Ustad Hasan.
“Lah? Nggak jadi, dong, sore nanti kita ke rumah Bang Nap? Kamu lupa Sherna ngadain acara empat bulanan?”
“Enggak mungkin lupa, Bang. Acaranya kan malam. Aku usahain datang setelah selesai seminar.”
“Aku nanti siang mau cek lokasi ruko yang di Arengka. Kamu mau aku antar ke seminar itu sekalian?”
“Jam berapa?”
“Jam sepuluhan.”
“Nggak deh, Bang. Aku bawa mobil sendiri aja.”
Bang Latif mengangguk, lalu ia kembali berbaring. Kini menelungkup, memeluk bantalnya sendiri.
Setelah membereskan rumah. Aku duduk di kursi bar di dapur, sepiring fettuccine alfredo dan segelas jus jeruk berjajar di samping laptop yang terbuka. Halaman YouTube terpampang dengan ceramah Ustad Hasan. Harus kucari tahu dulu sedikit tentangnya sebelum bergabung ke seminar nanti siang.
-oOo-
Namanya Hasan Nuramin. Ia dikenal sebagai Kiai Haji Hasan oleh kebanyakan orang. Menamatkan kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran di Jakarta dan langsung melanjutkan studi ke Al-Azhar, Kairo. Begitu yang kudapati setelah setengah jam menghadapi YouTube.
Benar, ia membicarakan poligami berangkat dari interpretasi islam.
Benar, ia memandang poligami dengan cara progresif.
Dan benar, meskipun perspektif kami berbeda, tapi tujuan kami sama. Sama-sama mendukung keadilan gender dan hak-hak perempuan.