Hujan semalaman membuat udara rumah sejuk. Semalaman juga tak kunyalakan pendingin ruangan. Bang Latif tadi malam mengirimkan pesan yang baru kubaca paginya ketika bangun. “Jangan kamu tendang-tendang selimut. Malam ini dingin.” Begitu isi pesannya. Hatiku ngilu. Sudah seminggu ia tak pulang. Dan tak pernah lagi menelepon sejak yang terakhir. Tapi chat-nya akan masuk setidaknya dua kali sehari. Satu bertindak sebagai suami, satu lagi bertindak sebagai pebisnis. Tak jera-jera ia menanyakan apakah sudah kupertimbangkan, apakah sudah kupikirkan matang-matang, apakah sudah kuhitung-hitung mana yang menguntungkan. Aku tak tahu bagaimana nada bicaranya untuk semua pesan-pesan itu. Mungkin nada lembut? Atau nada pasrah dengan tatapan memohon? Tentu ada kemungkinan lain: suara dan raut yang keras sehingga aku tak tahu lagi mana yang lebih menakutkan, apakah apa yang kudengar atau apa yang kulihat. Sebab itu, aku sudah enggan menerka-nerka.
Kuperiksa grup Whatsapp panitia seminar. Semuanya merasa awas terhadap pembukaan pendaftaran. Mereka khawatir acara seminar nanti akan diintervensi dengan cara kampungan, kalau Lia bilang. Yang dimaksudkan Lia adalah bisa saja kelompok-kelompok yang tidak menyukai ide seminar ini sejak awal atau bahkan sejak idola mereka (aku berbicara tentang fans DISPARA) ‘merasa’ dikacaukan, akan datang langsung ke acara itu dan membuat kegaduhan yang memalukan. Siang nanti kami akan rapat di RENJANA, membahas ini dan pembukaan pendaftaran, termasuk mengonfirmasi tiga pembicara utama: seorang sosiolog, dari tokoh agama, dan seorang penyintas poligami yang kini tergabung menjadi aktivis serta dua orang paralegal yang akan memandu workshop.
Dengan masih mengusap-usap wajah, aku turun ke dapur dan membuat sarapan. Tidak membuat yang sebenarnya, hanya merebus lembaran-lembaran mie Italia yang kaku dan memanaskan sausnya. Segelas jus jeruk menemani di meja. Kubuka laptop, mulai mengangsur pekerjaanku: menerjemahkan dokumen hukum untuk seorang pengusaha minyak kelapa sawit yang hendak melakukan B2B ke Singapura. Sesekali mataku melirik pasta dan jus yang tergeletak sedikit di belakang laptop. Perpaduan ketiganya—dokumen, pasta, dan jus jeruk—membawaku kembali pada ingatan tentang Bang Latif, dan hal-hal yang terjadi sebelum kami menikah.
Aku teringat hari itu.
Passtisimo, restoran pasta yang tak hanya berarti tempat makan bagi kami berdua. Aku dan ia bertemu di sana, dengan keadaan tak sengaja pula. Hari itu, seperti hari Kamis lainnya di Passtisimo, di mana mereka secara khusus menyediakan “Build Your-Own Pasta”. Pelanggan bisa memilih jenis pasta, saus dan topping sesuai selera. Tidak ada penghakiman apakah jenis pasta ini tidak akan cocok dengan jenis saus itu. Sama sekali tidak ada. Pelanggan benar-benar bebas uji coba dan eksplorasi rasa. Saat pasta custom-made pesananku diantarkan ke meja, waitress cantik berambut gelombang sepinggang itu berkata pelan padaku bahwa pasta pilihanku seluruhnya sama persis dengan pasta seorang pengunjung. Lalu mataku mengejar ke mana kepala waitress ini menoleh: seorang laki-laki yang entah sejak kapan sudah menatapku lebih dulu. Ia duduk satu meja di depanku, sedikit menyerong ke arah barat laut. Senyumku terasa canggung saat membalas senyumannya. Ia mengetuk-ngetukkan ujung telunjuknya di meja dengan tempo lamban, sepertinya ia sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Dua pelanggan dengan pilihan selera yang sama,” kata si waitress, “akurat!”
“Oh ….” Aku mengangguk saja.
“Ngomong-ngomong,” lanjut si waitress yang tampaknya belum berniat beranjak. Aku mendongak melihat wajah waitress ini. Air mukanya tampil seperti akan menyampaikan rahasia fantastis. “Bapak itu pelanggan kami sejak awal, setidaknya selalu datang seminggu sekali dan jarang melewati hari Kamis. Dia hanya pernah membawa satu perempuan selain ibunya. Itu juga sudah sangat lama, setelah itu….” Pelayan itu melanjutkan kalimatnya dengan menggeleng dan memasang wajah sok iba.
“Oh ….” Lagi-lagi hanya itu respons yang bisa kuberikan.
“Spero che vi piaccia il vostro pasto!”
Waitress akhirnya melenggang sambil menyelipkan baki di antara pinggang ramping dan tangan kanannya. Arah perginya adalah arah di mana laki-laki itu duduk, dan mau tak mau, aku kembali melihatnya yang ternyata masih setia menatapku. Ia memberi isyarat dengan tangannya apakah ia boleh bergabung di mejaku. Aku mengangguk meski sempat menyesal setelahnya. Tapi penyesalan itu cepat menguap saat angin yang menyertai langkah laki-laki ini membawa aroma yang mengalahkan wangi pumpkin purée di piringku dan piringnya. Aku tak tahu wangi apa itu, tapi kesannya segar dan bersih. Bila dipadukan dengan penampilannya: tampang tenang dan gaya berpakaian yang serba pas (kaos polo berwarna berwarna hitam yang ada lis putih di kerahnya dan celana jeans berwarna washed grey), aroma itu seperti memiliki mutu tersendiri. Satu kewibawaan yang tidak dibuat-buat. Aku refleks menegakkan punggung saat ia menarik kursi dan duduk di hadapanku.
Ia laki-laki sopan. Jelas saja. Laki-laki tak sopan mana yang akan mempertimbangkan masuk dan makan ke restoran pasta yang cukup bergengsi ini. Saking sopannya, alih-alih berjabat tangan denganku, ia justru hanya menangkupkan tangannya di sisi kiri dan kanan piringnya saat menyebutkan nama.
Naufal Latif.
“Aku sudah dua hari berusia tiga puluh.” Ia mengatakannya dengan cara ganjil, seperti berniat terdengar lucu tapi sayangnya tidak berhasil. Dan sepertinya, ia tahu betul bahwa dirinya tak berbakat di bidang lawak-lawakan. Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, mengangguk pelan. Menahan senyum yang kalau kubiarkan muncul mungkin akan terasa lebih ganjil lagi daripada leluconnya yang gagal. Kemudian ia menjatuhkan tatapannya pada piringku sambil bertanya apakah aku sudah sering memesan pasta kustom itu. Aku menggeleng, mengatakan baru kali ini, juga baru pertama kali datang ke restoran ini. Matanya beralih ke tali lanyard yang mengalungi leherku sedangkan kartu identitasnya masuk ke kantong kemejaku. Ia menaikkan sebelah alis, menebak satu lembaga bahasa karena huruf yang berderet di tali itu tak terbaca sempurna. Aku mengiyakan, kukatakan baru pulang bekerja dan langsung ke restoran ini. Kini giliranku bertanya apakah ia sudah sering kustom pasta itu. Ia mengangguk. “Sudah tiga kali, termasuk yang ini,” katanya. “Aku ulang lagi karena ternyata enak.”
“Oh, ya? Benar enak? Aku nggak paham pasta, aku asal aja milih perpaduannya,” jawabku.
Senyum kecil muncul di bibirnya “Tapi kamu kelihatan seperti ahli saat menunjuk-nunjuk saus dan topping tadi.”
Aku terkejut, dan tanpa sadar mungkin kini menatapnya dengan waspada.
“Kamu nggak perlu khawatir,” katanya buru-buru. “Aku cuma … melihat. Ya. Melihat-lihat.” Ia juga katakan ia terkejut mengetahui kami membuat pasta yang sama. “Aku nggak ngira ada orang selain aku yang menyatukan rigatoni, saus labu panggang, keju ricotta salata dan topping walnut karamel asin dalam satu piring selain aku.”
Aku takjub mendengar deretan nama makanan yang bahkan tak bisa kuulangi dengan benar itu. Ia hafal semua yang ada dalam piringnya sementara aku hanya asal tunjuk saja tadinya. Setidaknya, aku merasa aman. Pasta yang kupilih punya nama yang jelas dan yang lebih penting sudah pernah dimakan seseorang. Fakta bahwa orang itu masih tampak sehat-sehat saja setelah menyantapnya cukup meyakinkanku bahwa kombinasi ini tidak akan membuatku mendadak keracunan. Soal enak atau tidak, belum kutentukan. Aku bahkan belum mencicipinya.
Mengabaikan nama-nama ribet dan asing dari sebuah makanan itu, kami lanjut mengobrol sambil menyuap pasta yang ternyata di lidahku rasanya aneh tapi enak-enak saja. Garis bibir laki-laki di hadapanku ini bergerak ragu-ragu saat bicara. Ia telihat berusaha keras tak ingin menimbulkan kekacauan. Sikapnya canggung, tapi dari caranya bicara, bisa kutangkap kejujuran di sana. Sesekali ia coba lontarkan candaan, kadang terdengar kaku, lain kali malah lebih mirip pernyataan yang kebetulan lucu. Dari situ aku menebak, ia tipe laki-laki yang mungkin tak terbiasa mengobrol santai dengan seseorang, bahkan kupikir film komedi bukan menjadi film pilihannya.
Ia membayar pastaku, mengatakan traktiran ulang tahun. Kukatakan kapan ia ada waktu, akan kubalas dengan makan siang. Ia menggeleng, “Lebih baik makan malam,” katanya dengan senyuman paling menawan sejauh yang bisa kuingat. Kami sudah cukup matang untuk memahami arah pembicaraan ini. Dan kalimatnya itu sama-sama kami ketahui telah menjurus pada sesuatu yang lebih dari sekadar basa-basi. Kami, pada akhirnya, bertemu. Lagi dan lagi. Dan menjadi lebih berani dan “berani”. Ia akan menjemputku di tempatku bekerja, atau ia akan membawaku makan malam di rumah keluarganya. Aku juga membawanya ke rumahku, mengenalkannya pada Bapak. Aku juga sering dimintai tolong untuk menerjemahkan dokumen hukum dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris atau sebaliknya. Pada malam-malam tertentu, kami berciuman panjang di mobilnya sebelum aku turun dan masuk rumah. Tak hanya malam, juga siang, di parkiran mal setelah menonton film—film apa saja bahkan akhirnya komedi sekalipun. Ia lihai berciuman hingga jika tak ia hentikan, mungkin kami akan berujung pada ranjang. Lalu begitulah, kami menikah dua tahun setelah dari pertemuan pertama di restoran pasta. Dan ciuman panjang itu untuk pertama kalinya berakhir dengan seks hebat di malam pengantin.
Waktu-waktu itu terasa ringan tapi berbobot harapan. Sama sekali tak menyangka kami akan bertengkar hingga ia memilih tak pulang. Kulirik jus jeruk yang selalu mengisi kulkas. Bang Latif memperlakukan jus jeruk itu seperti aku memperlakukan beras di rumah kami. Tak akan ia biarkan stoknya menipis. Tiga hari sekali, ia akan pulang dengan membawa jus jeruk botolan dari Passtisimo. Tak peduli apakah botol sebelumnya sudah dibuka atau belum. Ia katakan jus jeruk cocok diminum dengan hidangan pasta yang creamy. Kami sempat berdebat kekanak-kanakan, aku lebih suka jus lemon, karena lebih segar dan lebih pantas menyapu rasa tebal pasta creamy yang lengket di lidah. Lalu kami setuju mengambil jalan tengah, bahwa ternyata teman terbaik pasta adalah wine. Aku dan Bang Katif selalu bisa menemukan titik temu untuk masalah apa pun, APA PUN, termasuk saat masa-masa sulit keguguranku yang tidak terjadi hanya sekali itu. Ia tak pernah menyoal anak. Mungkin pernah, tapi tak sampai ia sebutkan lantang di hadapanku. Ia terpukul tapi ia meyakini aku jauh lebih terpukul. “Bagaimana juga, kamu ibu. Dan tubuh seorang ibu tentu lebih responsif terhadap kehilangan janin daripada aku yang hanya menitipkannya.” Katanya saat itu dengan wajah kuyu, menatapku terbaring di ranjang rumah sakit sehabis minum setumpuk obat-obatan dari dokter.