versatile

HELLOHAYDEN
Chapter #15

Bab 15

Dalam keluarga ini, tak ada yang bisa dimintai pertanggungjawaban sebab semua kami adalah korban. Kami terjebak. Satu-satunya cara bertahan adalah dengan mendidik diri sendiri untuk merasa baik-baik saja. Tapi baik-baik saja tak pernah berarti betah.

Satria tahu, dan tahu itu datang padanya dengan cara yang tak diinginkan siapa pun di rumah ini. Hari-hari setelah itu, Ibu selalu gelisah. Atau mungkin bukan hanya hari-hari itu, melainkan jauh sebelumnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak lagi memiliki ketenangan yang sama. Ia seperti selalu berjalan di atas garis tipis. Gemetar menjaga keseimbangan, takut salah menapak, lebih awas, lebih waspada, tapi entah bagaimana, justru selalu berujung pada serbasalah. Bapak, selain segala perhatiannya menjadi berlebihan, menjurus kepada keresahan, ia juga semakin ingin mencengkeram setiap sudut rumah ini. Seolah-olah dengan kontrolnya, ia bisa memastikan segalanya tetap utuh dalam genggamannya. Ia sepertinya percaya, meskipun kami membawa kerapuhan masing-masing, jika dalam kendalinya, setidaknya kerapuhan itu tidak menjadi-jadi. Tapi keadaan kami sesungguhnya berlainan. 

Hari itu Satria pulang lebih awal, membolos les karena merasa tak enak badan. Ia mendengar Ibu dan Tante Ay terlibat debat panjang tentang akan melanjutkan ke sekolah mana Satria setelah lulus SMP. Tante Ay, yang masih menginap di rumah kami usai pesta pernikahan anak laki-lakinya dua hari lalu, bersikeras agar Satria masuk pondok pesantren khusus laki-laki di Kota Pariaman. Sementara itu Ibu tak bisa menuruti keinginan selain kehendak Bapak yang ingin Satria melanjutkan ke SMA Negeri saja, almamaterku.

Seperti kebanyakan anak laki-laki seusianya, Satria cuek dan tak ambil pusing soal keributan antara ibunya dan tantenya meskipun yang diributkan adalah dirinya sendiri. Tapi mungkin, dan memang seperti itulah yang kubayangkan, saat melewati dapur di mana Ibu dan Tante Ay bersitegang, ia mendengar satu kalimat dari Ibu yang membuatnya tak bisa lagi tak peduli. Dan setelah Ibu menceritakannya padaku, kutahu kalimat itu adalah sebuah pengakuan, bahwa Satria memang bukan anak kandungnya. Karena itu, Satria yang sempat berdiri mematung, tiba-tiba saja kabur setelah Ibu mendekatinya. 

“Ibu kejar, tapi dia terlalu cepat, Ver.”

Isak tangis Ibu ia endapkan pada kedua telapak tangan. Aku menoleh ke arah Tante Ay yang duduk di lantai sambil tersedu-sedan. Entah karena menyesal telah memancing emosi Ibu hingga sabarnya habis, atau karena tak menyangka akan ditegur keras oleh abang kesayangannya. Wajah Bapak merah padam saat meninggalkan Tante Ay. Ia berjalan dengan langkah besar ke sofa di mana aku duduk bersama Ibu.

“Telepon teman-temannya! Tanyain dia!” Bapak menyerahkan handphone-nya padaku. Lalu menghempaskan tubuhnya bersisian dengan Ibu. Dirangkulnya Ibu dengan satu lengan, tapi wajahnya tetap dingin dan keras. Matanya tajam menatap ke luar, ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Sore hingga malam itu rumah kami memang nyaris bersih dari suara. Jujur saja hanya suaraku yang terdengar sebab menelepon teman-temannya di teras. Tapi hawa yang ditimbulkan rumah menjadi aneh. Tegang merangkap muram. Aku hanya menyimpan nomor ponsel satu temannya. Bukan. Orang tua temannya, maksudku. Dan Satria tidak berada di rumah itu. Dari satu nomor itulah kudapatkan beberapa nomor lainnya yang kutelepon satu per satu. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat aku akhirnya tahu di mana adikku. Ia berada di studio band milik keluarga temannya, Rama.

Saat aku masuk ingin memberi tahu Ibu dan Bapak, kulihat Tante Ay sedang duduk di depan televisi, menyetrika beberapa pakaiannya yang bahkan belum kering benar.

“Tante pulang besok pagi. Travel jemput jam delapan,” katanya datar tanpa menoleh kepadaku. Aku yang keburu jengkel dan tak ingin memikirkan bagaimana ia akan berakhir di rumah ini lantas melewati punggungnya begitu saja dan masuk segera ke kamar Bapak.

“Biarkan aja dulu. Minta orang tua Rama kabari Bapak kalau ada apa-apa sama Satria. Bapak jemput dia kalau sampai besok sore dia belum pulang.” Begitu kata Bapak setelah kuberitahu lokasi Satria, lengkap dengan alamat studionya. Setelah Bapak mengatakan itu, Ibu yang tadi hanya terisak putus-putus, kini berderai-derai dalam tangis. Ia segera merebahkan dirinya ke kasur tempat ia duduk. Bapak buru-buru mengangkat bahu Ibu dan memeluknya. Kudengar di antara tangisnya, Ibu mengatakan maaf. Bapak menjawab tidak apa-apa sambil mengusap-usap dahinya sendiri. Sungguh aku ingin menenangkan Ibu juga, tapi aku tak terbiasa memeluk Ibu, juga tak tahu bagaimana cara menenangkan seseorang selain dengan pelukan. Maka aku hanya berdiri kaku, menatap kedua orang tuaku yang sama-sama tenggelam dalam resah dan penyesalan. Perlahan aku mundur, meletakkan handphone Bapak di meja, menutup pintu kamar itu, dan saat kulihat ke ruang tamu, Tante Ay sudah tidak ada di sana.

Dua hal langsung menarik perhatianku setelah masuk ke kamarku adalah: koper ungu milik Tante Ay berdiri tegak di samping meja belajar, dan orangnya sendiri bisa tidur pulas seolah tak ada kejadian sebelumnya, seolah ia tak pernah membikin perkara yang membuatnya sendiri  seolah menangis-nangis dimarahi abangnya. Amarah yang tertahan menggembungkan dadaku hingga aku sendiri kesulitan menarik napas. Setelah membuat orang tuaku kacau dan adikku pergi begitu saja, tante yang usianya akan genap lima puluh dalam dua tahun ke depan itu tak menunjukkan sedikit pun tanda penyesalan.

Lihat selengkapnya