versatile

HELLOHAYDEN
Chapter #16

Bab 16

Setelah Ibu wafat, aku dan Satria mulai lebih sering di rumah. Satria jarang pergi malam untuk sekadar nongkrong di studio band. Ia akan pulang jika memang tak ada yang perlu dikerjakannya di luar. Entah kenapa dia begitu, aku juga tak tahu. Tapi memang ada baiknya seperti itu meskipun kami jarang bicara. Sedang aku, mengurangi pergi-pergi untuk mampir ke toko buku atau jalan-jalan dengan Bang Latif. Alasanku satu, aku kasihan pada Bapak. Jauh lebih kasihan daripada sebelumnya. Awal tahun itu Bapak baru saja pensiun. Kuingat dulu bagaimana Bapak pernah menganggur hampir enam bulan karena peleburan Bapindo dan beberapa bank lain menjadi satu. Selayaknya orang yang terbiasa sibuk, pergi pagi pulang sore, maka saat harus diam saja di rumah, ia kelihatan linglung. Tak tahu harus mengisi hari-harinya dengan apa dan bagaimana. Waktu itu Ibu masih ada. Mereka sering terlihat menonton televisi bersama. Baru setelah ditelepon oleh satu bank dan diminta kembali bekerja, Bapak terlihat punya arah lagi.

Kini, sore-sore sepulang bekerja, aku dan Bapak sering duduk di teras. Dengan cerita-cerita baru, kami berusaha tertawa. Kadang Bapak menceritakan teman-temannya semasa bekerja; kadang aku menimpali dengan kisah iseng murid-muridku. Meskipun sudut ekor mata Bapak kini sudah melengkung turun, meskipun rambutnya sudah berkilat karena warna uban, tawa Bapak masih terdengar renyah.

Satria, sejak menghasilkan uang sendiri, entah dari manggung dari cafe ke cafe, atau dari satu pesta pernikahan ke pesta ulang tahun, bahkan pernah sekali kudapati ia menjadi badut promosi untuk sebuah merek ponsel lokal, ia nyaris selalu pulang membawa makanan. Lebih sering mie ayam Mas Tarno, kesukaan Bapak. Kami bertiga tak makan bersama. Makanan apa pun yang dibawanya pulang hanya berpindah dari tangannya ke meja makan dan selalu masih dalam bungkusan. Satu hari, selain membawa mie ayam, ia pulang membawa headphone dan benda itu tergeletak saja di rak televisi. Tak dibawanya ke kamar. Tidak pula ia katakan itu boleh digunakan atau tidak. Hingga berminggu-minggu kemudian, satu malam sepulang dari seminar tentang perempuan dan pemberdayaan, kulihat Bapak duduk di teras dengan headphone itu terpasang di kepalanya dan kabelnya tersambung ke ponsel Bapak. Tak lama setelah aku tiba, Satria pun pulang. Matanya melirik sebentar ke headphone, lalu masuk begitu saja. Tanpa salam, tanpa sepatah kata kepada kami berdua. Akan kukatakan dia anak yang tak tahu budi pekerti jika saja di antara ia dan tak saling perhatian. Satria masih mengawasi kami dengan caranya sendiri. Sendal lama Bapak yang sudah terkelupas kulit bagian luarnya itu sudah berganti dengan sendal baru dan langsung dipakai Bapak solat ke Masjid. Tiang tali jemuran yang sempat miring nyaris tumbang itu tiba-tiba sudah kembali berdiri tegak paginya setelah dihantam hujan angin kencang malam sebelumnya. Bapak menggeleng saat kutanya apakah ia yang memperbaiki. Dan tatapan Bapak, juga tatapanku saat itu menafsirkan jawaban atas siapa tukang yang bekerja subuh-subuh saat aku dan Bapak masih tidur. Aku tahu, kami semua tahu, kerjaan Satria itu semua.

Untuk itulah di waktu lain, selepas Maghrib, kadang-kadang aku dan Bapak berkendara bersama menuju café tempat Satria manggung. Mobil Kijang hijau lumut itu sudah lama digantikan Panther krem. Tiap kali kami datang, makanan yang kami pesan selalu saja ditolak untuk dibayarkan.

“Sudah dibayar abangnya,” kata kasir sambil tersenyum, menunjuk ke arah panggung kecil. Satria duduk, memetik gitar dengan kepala sedikit menunduk. 

Ia tak tampak tidak senang jika kami datang, tapi juga tak tampak tak menyukainya. Begitu juga saat kubawa Bang Latif ke rumah pertama kali pada Lebaran 2010. Satria dan Bapak akhirnya untuk pertama kali duduk bersama lagi di meja makan rumah kami setelah Ibu tak ada. Kata “teman laki-laki” dariku yang tak pernah sekali pun membawa seorang laki-laki ke rumah sudah Bapak pahami bahwa yang duduk di hadapannya saat itu bukan sekadar teman bagiku. Tiga laki-laki yang kukenal ini sama-sama tak pandai memulai pembicaraan, sama-sama kikuk, dan saling terlihat malu-malu. Untuk pertemuan pertama, dan dalam suasana Lebaran pula, tiba-tiba ruang makan merangkap dapur di rumah ini untuk beberapa saat sterasa seperti ruang operasi. Dingin dan hanya dentingan saja yang terdengar. Jika di ruang operasi dentingan pisau dan gunting dokter, maka untuk situasi kami, sendok dan piring. Bapak dan Bang Latif sedikit-sedikit terlibat tanya-jawab normatif. Sementara Satria, lebih sering kudapati mengamati gerak-gerik Bang Latif dalam diam. Hingga akhirnya percakapan di antara mereka benar-benar dimulai ketika Bang Latif bertanya tentang kuliah Satria, apa saja yang dipelajari di jurusan teknik elektro. Obrolan pun bergulir, sebagian besar masih seputar perkuliahan. Tapi saat Bang Latif menanyakan apakah di jurusan itu ada mahasiswi, aku sempat melihat, meski samar, wajah Satria mendadak berona kemerahan. 

Begitulah seterusnya, selain memang nyaris tak pernah lagi berkumpul bertiga, rumah kami hanya seperti tempat untuk tidur saja. Cerita-cerita di antara aku dan Bapak jauh berkurang, juga Bapak tak lagi menungguku di teras. Bukan karena Bapak tak ingin, tapi awal Maret 2011, Bapak mengalami kecelakaan tunggal saat akan kembali ke Pekanbaru setelah mengunjungi seorang sepupu yang menikahkan anaknya di Pariaman. Kecelakaan itu tidak parah, tapi membuat Bapak tak bisa duduk lama. Duduk untuk makan saja Bapak katakan sudah merasa lelah dan ingin segera rebah. Akhirnya headphone itu lebih sering digunakan Bapak untuk mendengar pengajian-pengajian dari handphone-nya karena tak mampu lagi ikut duduk berlama-lama di pengajian di masjid juga tak bisa lagi duduk di sofa di depan TV mengikuti siaran-siaran religi. Kami bergantian membawanya fisioterapi, tapi karena jam kerjaku sebagai pengajar di lembaga bahasa acap kali tak menentu, Satria—bahkan kadang Bang Latif—lebih sering menemaninya. Sering kali kudapati Bapak dan Satria sudah berada di rumah saat aku pulang. Meski mereka tak berbincang, dan masing-masing hanya di kamar, pintu keduanya tak pernah benar-benar tertutup. Terutama pintu kamar Bapak yang selalu dibiarkan terbuka lebar. Sementara pintu kamar Satria, sengaja hanya terbuka selebar jengkal, mungkin agar suara gitarnya tak mengganggu Bapak. Tak peduli aku ada atau tidak di rumah, Bang Latif sering datang. Selain melihat kondisi Bapak, ia juga mengisi kulkas kami. Lalu teman perempuan yang kutaksir-taksir membuat wajah Satria merona dulu juga beberapa kali datang ke rumah. Tapi selalu hanya batas teras. Satria akan duduk di luar jika teman perempuannya itu datang, berbeda jika teman-teman bermusiknya yang bisa saja langsung masuk ke kamarnya. 

Semuanya terlihat berjalan dengan wajar (dalam situasi kami tentu wajar mengangkut arti berbeda). Kupikir tak masalah jika terus begini. Bagaimana juga aku mulai terbiasa dan, yah, katakanlah ini terasa baik. Tapi ternyata tidak. Yang baik itu kembali dirisak. Sampailah pada hari itu. Hari yang menghancurkan kami sekali lagi atas apa yang Satria pendam sejak 2006. Yang ia pendam itu ia genggam sendirian, tak ia bagikan, bahkan tak pernah sekali saja terlintas di pikirannya untuk setidaknya berbicara padaku agar bisa kuluruskan pikiran buruknya itu. 

Sejak akhir Mei, sejak jadwal fisioterapi Bapak tidak rutin lagi, Satria sudah jarang terlihat di rumah, malah terkadang ia tak pulang. Jika di rumah pun ia sering kali terdengar heboh di kamarnya. Sikapnya yang selama ini ia pertahankan untuk tak ingin membuat keributan dengan suara gitar-gitaran tampaknya musnah. Ia jadi rakus menggenjreng-genjreng gitar. Ia dan gitar itu seakan kembar siam. Aku protes, kukatakan aku sedang membuat materi ajar, Bapak juga sedang istirahat. Tapi alasannya bermacam-macam. Katanya, seni itu harus bebas. Ungkapan asing acap keluar dari mulutnya hingga aku hapal: ars longa, vita brevis. Katanya lagi, bandnya akan jadi band pembuka pada satu konser besar di bulan Juni nanti. Alasan yang terus diulang-ulang itu akhirnya membuatku penasaran dan mencari tahu tentang konser itu. Ternyata benar, akan ada konser di Pekanbaru, melibatkan lebih dari dua puluh band ternama Indonesia, diadakan di sebuah taman kota. Entah karena hari-hari itu aku banyak pikiran sebab pernikahanku dan Bang Latif akan berlangsung kurang dari lima minggu lagi atau memang gempuran suara gitar-gitar Satria membuat saraf-saraf kepakau menyempit, malam itu aku bangkit dari kursi kerjaku dengan mengusung kemarahan lebih tebal dari biasanya.

Kuintip Bapak, headphone menutup kedua telinganya dan ia sedang memunggungi arah pintu dengan layar handphone menyala. Kututup sedikit pintunya. Lalu aku berjalan ke kamar Satria dengan hentakan kaki yang membuat tumitku sakit sendiri. Kudorong pintu itu. Satria berdiri dengan gitar listrik di tangan, sebelah kakinya menekan-nekan pedal yang aku tak tahu fungsinya apa. Ia menoleh cepat sebab terkejut melihatku sudah tegak di ambang pintu. Kami langsung terlibat adu mulut. Lagi-lagi berdebat mengenai suara bising itu.

“Sat! Udah seminggu. Tiap malam! Kami harus akur sama suara gitarmu cuma untuk bisa tidur! Bapak sakit, Sat! Bapak butuh istirahat!” Aku mulai meradang sebab ia selalu berkilah.

“Aku kalau di luar, di telepon suruh pulang. Di rumah, ribut dikit aja langsung Kakak heboh! Aku cuma butuh ruang! Kakak enggak tahu apa artinya jadi band pembuka di panggung besar!”

“Kamu yang punya ambisi, kami yang jadi capek!”

Satria diam sebentar. Ia bahkan menyeringai padaku. Tegang di wajahnya mengendur. “Ambisi?” tanyanya dengan nada mengejek. “Ambisi kata Kakak? Terus komunitas feminis-feminis yang diam-diam Kakak ikuti itu apa? Kakak curhat di sana masalah keluarga kita? Kalau Kakak bebas curhat sama orang terus dapat dukungan, dapat supporter, kenapa aku dilarang bahkan cuma gitar-gitaran?”

Kini giliranku yang tersentak. Aku tak tahu ternyata adikku dalam heningnya justru memperhatikan ke mana aku pergi setiap Minggu pagi. 

“Kok diam? Jadi Kakak betul-betul berkoar di sana? Satu grup itu tahu cerita rumah ini?”

Lihat selengkapnya