Lama kuamati Satria. Kami duduk berhadapan, terpisah meja oval dengan dua minuman dingin di atasnya. Penampilannya berubah. Setidaknya, ia tak seperti tujuh tahun lalu saat terakhir kali kulihat. Tak ada lagi tindik norak di cuping hidungnya. Warna kulitnya nyaris sama cerahnya seperti waktu ia berusia lima tahun. Banyak foto serta video di Instagram DISPARA menampilkan rambutnya yang hitam legam. Tapi siang ini, di bawah sinar matahari pukul dua yang menembus kaca besar tanpa penghalang di sisi kami, warna rambutnya ternyata biru gelap. Ia mengenakan kaos hitam polos lengan pendek dengan potongan leher bulat dan celana jins biru muda model reguler. Gaya berpakaian yang “sangat ia”, yang kerap kulihat dulu setiap hari. Bersih, enggak neko-neko, begitu Ibu membiasakannya sejak dulu.
Tanpa rencana, tanpa pemberitahuan, kami bertemu.
Ini hari Minggu. Sudah seminggu pendaftaran seminar dibuka, itu juga berarti konser DISPARA di Pekanbaru tinggal seminggu lagi. Terlalu cepat jika Satria datang hanya untuk urusan konser. Lagipula, tak masuk akal kalau ia menyiapkan semuanya sendirian sementara anggota DISPARA lainnya masih di Jakarta. Setelah kembali dari kantor RENJANA, aku berniat memeriksa rumahku (rumah tempat kami tumbuh dan hidup bersama sebagai keluarga), kegiatan rutin sebulan sekali membersihkan rumah kosong dengan benda-benda yang masih sama persis di tempatnya. Satria di sana. Muncul dari arah berlawanan. Ia turun dari ojek nyaris bersamaan denganku yang akan turun dari mobil. Kutahan diri. Dari balik kaca depan, kulihat Satria hanya memegang gembok pagar yang gagal ia buka dengan kunci yang dimilikinya. Saat ia akan pergi, aku buru-buru turun, dan hanya berdiri sedang tanganku masih memegang pintu mobil yang terbuka. Tatapan kami terpancang pada jarak yang terlalu dekat untuk berusaha pura-pura tak kenal. Kejadian selanjutnya adalah tindakan tanpa kata-kata: aku kembali duduk di mobil, meraih gagang pintu penumpang depan dan mendorongnya hingga terbuka. Satria yang paham langsung masuk dengan kikuk. Hanya sekitar sepuluh menit kami menahan sekuat-kuatnya rasa tak nyaman duduk bersebelahan di ruang sempit sebelum akhirnya sampai pada satu cafe. Dikenakannya topi cap sebelum turun. Ia berdiri di belakangku saat kami sudah di depan meja pesanan. Sebelum aku dan ia sempat memilih-milih minuman, ia condongkan badannya dan berbisik pada pelayan menanyakan apakah ada ruang privat. Pelayan mengatakan seluruh ruangan di lantai dua adalah ruang privat dan pelayan itu menanyakan untuk berapa orang. “Enam,” kataku sambil melirik Satria. Satria mengangguk saja meskipun tampak sedikit tersentak, kemudian ia menunjuk satu menu. Dan beginilah. Aku dan Satria, berhadapan, dengan masih bungkam. Meskipun dengan sengaja kukatakan mengambil ruang dengan kapasitas enam orang karena sempat berpikir jarak adalah sesuatu yang aman bagi kami berdua seperti selama ini, nyatanya Satria memilih menduduki kursi di depanku.
Kuseruput es teh, ia melakukan hal yang sama pada es kopinya.
Aku berhenti, ia berhenti pula.
Latah.
Keheningan menggantung hingga ia tiba-tiba berkata, “Setelah seminar, apa rencana Kakak?”
Aku mengernyit. Ada apa? Kenapa dia jadi penasaran apa yang akan kulakukan?
Satria berdeham. “Bang Latif,” katanya, “aku ketemuan sama Bang Latif di Jakarta Kamis kemarin.”
“Bang Latif?” Aku semakin bingung, juga semakin curiga.
“Terakhir kali aku bicara sama dia di pesta pernikahan kalian. Pertemuan selanjutnya jeda tujuh tahun justru dia bilang dia mau cerai sama Kakak.”
Astaga. Dari semua orang, kenapa berita perceraian harus sampai ke telinga Satria lebih dulu? Aku sakit hati mengetahui bahwa cerita ini justru dibawa langsung oleh suamiku. Atau mungkin sudah tepat jika kukatakan mantan suami meskipun belum ada selembar surat pun datang padaku untuk menghadiri sidang. Entah apa maksud Bang Latif menemui Satria hanya untuk membawa kabar yang bisa membuatnya semakin tinggi kepala. Bukankah Bang Latif paling tahu bagaimana repotnya aku menghadapi anak di hadapanku ini?
“Kak?” panggilnya lagi sebab aku hanya diam.
“Bukan ini yang seharusnya kita bahas, Sat,” kataku sambil mencoba meredam gejolak kepalaku.
Ia menyandarkan punggung ke kursi. “Apa? Lagu? Seminar?” katanya, nadanya terdengar sedikit malas.
“Ya.”
“Itu lebih penting daripada perceraian?”
“Bukan soal lebih penting atau enggak. Tapi urusan rumah tanggaku, biar jadi urusan kami berdua. Aku dan kamu punya persoalan lain. Kamu tahu itu.”
Satria mendengus. Lekuk di bibirnya itu mengungkapkan segalanya, bahwa ia malas membicarakan masalah kami berdua. “Biarin aja kenapa? Toh seminar itu lagi buka pendaftaran. Juga DISPARA tetap manggung. Masalahnya apa?”