versatile

HELLOHAYDEN
Chapter #18

Bab 18

Layar dashboard sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Jendela mobil kuturunkan sedikit dan mataku mulai menyisir sekitar. Orang-orang berjalan dalam kelompok, memanjang ke belakang agar bisa lewat di sela-sela kendaraan yang parkir padat—termasuk mobilku. Kulirik kursi penumpang, lanyard tergeletak bahkan talinya menjuntai menyentuh alas lantai mobil; kartu pass bergambar logo band DISPARA tercetak besar dan di bawahnya tertulis huruf tebal “all access”. Kuembuskan napas. Melepas tanganku dari stir dan menggenggam ID pass yang diantarkan kurir dua hari lalu. Kukenakan topi, kukalungkan lanyard. Saat aku berjalan, handphone-ku bergetar, satu pesan masuk.

Lia.

“Cieh! Yang bakalan dapat surprise dari adiknya!”

Kuketik balasan dengan cepat.

“Aku harap hadiah itu enggak bakalan ngerepotin kamu juga entar!”

Seperti yang dikatakan Satria, aku berhasil masuk tanpa ikut antre dan tanpa hambatan setelah seorang perempuan—yang juga mengenakan kalung identitas dari band lain—melirik pass ID yang menggantung di leherku.

“Sebelah sini! Itu jalur penonton!” katanya sambil setengah berteriak, mencoba mengalahkan dentuman musik dari dalam. Kulirik kartu yang menggantung di lehernya, tertulis huruf besar “crew”. Hampir saja aku ikut berbaris mengikuti gerombolan muda-mudi yang kemudian kutahu mereka menunggu pergelangan tangan mereka dipasangi gelang kertas yang berfungsi sebagai tiket. Kuikuti perempuan tadi. Terpaksa setengah berlari demi menyamai langkahnya yang terlihat tak pernah tak tergesa-gesa. Kami melewati deretan tenda putih yang tinggi dan besar. Nama-nama band terpampang di atas kain yang berfungsi sebagai pintu tenda, sebagian tampak setengah terbuka, kainnya tersingkap dikaitkan ke penyangga tenda.

“Dari koran lokal?” tanyanya perempuan ini, ia menoleh sekilas padaku. Aku memilih diam, berharap pertanyaannya tak berlanjut. Untunglah ia mulai sibuk mengambil beberapa botol air mineral dari atas meja lipat dan berlari membawanya ke dalam tenda lain, tapi sayangnya bukan tenda yang bertuliskan DISPARA. Semua orang di sekitar bergerak cepat. Mereka tahu persis apa yang harus dilakukan. Hanya aku yang berdiri linglung di tengah lalu-lalang. Saat akhirnya kuputuskan mencari tenda dengan nama DISPARA, suara MC dari arah panggung meneriakkan nama itu. Lantas aku bergerak ke sana dan sudah berdiri tepat di samping panggung megah saat mereka membawakan satu lagu dari album Mauvaise Foi. Aku mendongak memperhatikan mereka. Rama tampak riang mengikuti irama dan tempo lagu. Ia beralih dari Satria ke Dito yang sedang memukul drum dan ke Pasha yang memainkan satu gitar lagi, gitar yang lebih panjang dari yang dipegang Satria. Mic di tangannya terus berganti arah, kadang ke mulutnya, kadang ke arah kerumunan. Tak hanya ikut bernyanyi bersama, penonton juga berlompat-lompatan bersama. Rasa tak nyaman pada perutku semakin menjadi-jadi karena mendengar lagu itu tak melalui handsfree lagi namun langsung di depan mataku dan menguasai panggung. Meskipun ingin kabur, tapi kutahan saja. Kucoba memperhatikan Satria. Berdiri di panggung, memegang gitar, disoroti cahaya dari segala penjuru, mengenakan baju kaos putih polos dilapisi rompi kulit, celana kulit hitam menutupi seluruh tungkai kakinya yang juga tampak berkilau terkena cahaya, rambut kebiru-biruannya itu juga cocok dengannya. Semua itu membuatnya tampak berbeda. Ia bukan adikku, bukan Satria yang bicara denganku beberapa hari lalu. Bukan Satria yang lari dari rumah. Bukan Satria yang kesenangan mendapatkan uang lima ratus perak gambar monyet. Bukan Satria yang selalu kuceritakan padanya bahwa gerakan senamnya tak selaras lalu aku tertawa melihatnya marah. Bukan Satria yang dulu saat melewati jembatan Leighton akan selalu memperhatikan sungai itu dan berharap melihat putri duyung. Bukan. Sama sekali bukan. Yang kulihat kini hanya satu identitas yang menempeli namanya: Satria DISPARA.

Sejak kapan ia tumbuh menjadi seperti ini? Sejak kapan ia menyatu begitu baik dengan identitas barunya? Kulemparkan pandangan pada penonton yang bersorak-sorak. Satria yang ini  menjadi idola? Satria yang dulu selalu pamer padaku jika nilai menggambarnya bagus padahal hanya menggambar pemandangan sawah dan sungai saja? Satria yang selalu menyebut kue putu dengan kue kutu? Satria yang membelikanku es moni dari uang yang ia raup selama Idul Fitri?

Aku menunduk, menatap rumput yang masih basah karena hujan sore tadi. Jika Ibu dan Bapak masih ada, jika saja juga ibu kandung Satria hidup. Jika. Jika ketiga orang tua itu melihat Satria seperti ini, apa yang akan mereka katakan? Apa yang akan mereka rasakan? Apakah jangan-jangan album Mauvaise Foi itu tak akan pernah ada karena kami semua hidup berdamai tanpa kenal luka? Oh! Benar. Nyaris kuabaikan satu orang: bapakku. Bapak kandungku. Tentu jika keempat orang tua kami masih hidup. Mauvais Foi tak ada. Tak ada seminar. Tak ada kebencian. Tak ada luka. Tak ada pernikahan selanjutnya. Bisa jadi saat ini aku berdiri dan ikut melompat-lompat di antara penonton menyoraki DISPARA. Bisa saja tidak. Banyak kemungkinan yang tak tersentuh pengetahuan. Tapi kusadari cepat bahwa inilah takdirnya. Aku dan ia tercebur ke dalam satu keluarga dan meskipun dimulai dengan sesuatu yang baik tapi tak semua keluarga berakhir baik. 

Selesai satu lagu itu, mereka berhenti. Rama terengah-engah mengatur napas setelah jingkrak-jingkrak nyanyi sambil berinteraksi dengan penonton. Ia memegang tiang standing mic dan menyapa penonton.

“Apa kabar, Pekanbaru!” soraknya sambil melambaikan tangan. Penonton menjawab dengan suara bersahut-sahutan. “Wah! Thanks semuanya! Kita seneng banget dapat sambutan luar biasa. Ini kepulangan yang berkesan buat DISPARA,” sambung Rama. Kerumunan bertepuk tangan larut dalam kegembiraan. “Kemarin-kemarin kita heboh, nih, di sosmed. Jadi …” dia berdeham, menoleh sebentar ke belakang, “bagian ini Satria aja yang ngomong. Sikat, Sat!” Rama mengulurkan standing mic saat Satria berjalan maju ke sisinya. Dito dan Pasha masih di posisi masing-masing dan keringat masing-masing. Mereka berdua menoleh kepadaku yang masih berdiri dan melemparkan senyum seperti dulu mereka masuk ke rumah sambil mengatakan permisi. Sejurus kemudian Satria sudah berada di posisi depan di sebelah Rama. Begitu ia memegang tiang standing mic dan mulutnya nyaris beradu dengan moncong mic, aku merasa siap tak siap. Kalimat pertamanya terdengar seperti basa-basi biasa: menyapa penonton dan mengucapkan terima kasih. Tapi setelah itu, ada jeda. Dan dalam jeda itu ia menoleh ke arahku, lalu mengangguk pelan. Aku mendingin, tapi bukan karena embusan angin setelah hujan melainkan aku takut, nyaris seperti takut pada hantu. Aku ingin pergi tapi sebagian diriku memaksa bertahan untuk tetap melihat kejadian apa setelah ini. Apa ini kejutan yang disiapkan Satria? Dan kalau memang iya aku ingin tahu akan seberapa terkejutnya aku.

Satria lanjut. Ia sampaikan permintaan maaf untuk kehebohan di media sosial beberapa minggu terakhir untuk segala berita yang menyeret-nyeret namanya dan namaku. Suaranya terdengar tenang, tulus, tak dibuat-buat. Tapi saat ia menyebut nama lengkapku, “Vera Mahadewi”, dan membenarkan bahwa kami adalah kakak-beradik, juga dengan nada yang mengingatkanku pada dirinya usia sepuluh; lembut dan manja. Darahku berdesau dari kepala hingga kaki. Dingin dengan cepat berubah menjadi hangat. Segala yang kupegang dalam diriku runtuh. Dan setelah menyebut namaku, deretan kalimat yang keluar dari mulutnya menyadarkanku bahwa memang hatiku terlalu sempit seperti yang ia katakan sebelumnya. Bahwa mungkin memang aku terlalu mengedepankan perasaan rentan dan kenangan pahit saja sehingga menutup semua yang sempat kulalui dengan tawa. Kutinggalkan DISPARA, panggung megah, dan segala kata-kata yang masih meluncur dari Satria. Aku melangkah cepat ke parkiran dengan lutut bergetar. Masuk ke mobil. Menyalakan mesin. Dan menangis. Sepuluh menit penuh. Dengan lampu-lampu mobil yang pergi atau berdatangan dan suara sorak-sorai konser yang berlanjut. Suara Rama terdengar semakin nyalang menyanyikan sisa lagu dari album Mauvais Foi. Dan kini aku mendengarnya dengan cara berbeda. 

-oOo-

Dua hari setelahnya, Satria masih di Pekanbaru. 

Kami bertemu. Bedanya kali ini dengan janji. Saat aku sampai, ia sedang bersandar di pagar rumah kami sambil mengecek ponselnya. Ia kenakan kacamata hitam dan jaket yang hoodie-nya terpasang menutup kepalanya. Begitu melihatku turun dari mobil, ia buru-buru menyimpan ponselnya ke saku celana. Lalu berdiri tegak, menungguku mendekat.

“Kenapa gemboknya diganti, Kak?” tanyanya saat memperhatikanku membuka kunci pagar.

“Udah dua kali malah. Yang pertama emang udah enggak aman. Yang ke dua pernah sempat ada maling mau masuk, tapi kepergok sama orang ronda. Pak RT ngabarin besoknya.”

Pagar besi setinggi dua meter itu berderit saat kudorong. Aku melangkah lebih dulu, Satria menyusul di belakang. Ia berjalan perlahan, memutar kepalanya ke kiri dan kanan, menelusuri halaman dengan pandangannya. Dari raut wajahnya, kutahu ia sedang menghitung-hitung apa saja yang berubah. Tapi yang ia temukan barangkali justru sebaliknya. Nyaris tak ada yang berbeda. Hanya rumput yang tumbuh liar karena rumah ini hanya kusentuh sekali sebulan.

Hal pertama yang dilakukannya setelah pintu rumah terbuka adalah menghirup udara sekuat-kuatnya hingga dadanya naik tinggi. Aku tahu ia rindu bau ini sampai-sampai ia memejamkan mata dengan kulit di antara alisnya mengerut. Sekalipun rindu, tapi seluruh wajahnya menampilkan raut kesedihan sekaligus penyesalan. Dan apa yang kurasakan atas perpaduan segala yang ada di rumah ini dengan satu anggota kembali hadir di tengah-tengahnya adalah perasaan yang sama sekali baru bagiku. Tak tahu kunamai apa. Senang? Haru? Mengesankan? Menyedihkan? Entahlah.

“Semuanya masih sama, Sat. Masih di posisinya. Masih seperti yang Ibu atur dulu. Aku biarkan karena aku merasa lancang kalau mengubahnya,” kataku ketika menyadari Satria menatap satu-satu perabotan dari tempat ia berdiri.

Kini aku di dapur, memanaskan air di teko yang usianya nyaris sama denganku. Teko logam berwarna kuning emas, oleh-oleh Tante Itar sepulang dari umrah. Teko yang sejak pertama kali ada di rumah ini tak pernah absen digunakan Ibu untuk merebus air. Kadang aku merasa teko ini salah satu saksi setia atas segala dan bagaimana luka silih berganti mendiami rumah ini. Di ruang tengah, Satria sedang memanjat sofa. Ia mengelap foto berderet tiga yang tergantung di dinding. Tangannya mencoba menghapus debu, tapi dari tatapannya aku tahu ia tengah menafsir ulang kenangan yang membeku dalam bingkai itu.

“Tante Ay apa kabar, Kak?” tanya Satria setelah kami hening saja beberapa menit. Fokusnya masih tunggal pada foto kami sekeluarga, kain lap melapisi telunjuknya untuk membersihkan sela-sela ukiran bingkai kayu.

“Baik dia. Cucunya yang ke lima baru lahir bulan puasa kemarin,” jawabku di antara uap air membumbung ketika air dari mulut teko meluncur ke dua cangkir. Wangi the melati dan gula mengisi rongga hidungku. “Kamu ada rencana mau ke Pariaman?”

“Hmmm, enggak. Aku take-off besok sore jam empat.”

“Oh. Cepat.”

“Mau latihan. Ada materi baru buat album baru.”

“Oh ….”

Lihat selengkapnya