Desember 2024.
Meskipun musim panas mulai menjelang, udara siang di Canberra tetap terasa menggigit bagi Vera. Ia yang tumbuh besar di kota di mana panas bisa membuat telur matang hanya dengan ditaruh di atas aspal, masih saja merasa perlu mengenakan jaket tebal. Bahkan kedua tangannya itu mengepal masuk ke dalam saku hoodie merahnya. Ia duduk di sebuah bangku perpaduan besi dan kayu di halaman kampus bersama beberapa orang lainnya yang tampak larut dalam percakapan berbahasa Inggris. Dari potongan-potongan kalimat yang sempat ditangkapnya, Vera menduga mereka adalah panitia penyelenggara pameran yang akan digelar besok di salah satu aula jurusan Sejarah Seni dan Kuratorial. Handphone-nya berdering. Adiknya di Jakarta menelepon. Mereka berbicara agak lama; Vera bercerita bahwa ia sudah tiba di lokasi tempat acara besok akan dilangsungkan dan sedikit memberi gambaran tentang kampus itu. Obrolan mengalir santai, hingga tanpa sadar, gerombolan tim yang sedari tadi duduk di bangku sebelahnya telah bubar, menyisakan hanya satu laki-laki. Saat Vera menutup telepon, ia melirik ke arah lelaki itu. Dan dari sorot matanya, ia tahu laki-laki itu seperti menunggunya selesai berbicara dengan siapa pun yang ada di ujung telepon. Karena Vera merasa laki-laki itu hanyalah mahasiswa iseng saja, ia berencana pergi. Sebelum terjadi bencana, pikirnya.
“Tunggu!” Laki-laki itu berseru sesaat Vera akan bangkit.
Vera ingin sekali melenggang dan pura-pura tak dengar, tapi pura-pura tak dengar itu rasanya akan membuat salah paham bahwa telinganya bermasalah, lagi pula, Vera heran, laki-laki bisa-bisanya menebak bahasa Vera kemudian memanggilnya dengan percaya diri, karena itu ia menoleh.
“Ya?” tanya Vera.
“Orang Jakarta?” tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu, Vera menggagalkan niatnya untuk minggat. “Bukan.”
“Oh.” Laki-laki itu mengangguk. “Saya baru lihat Mbak-nya di sini. Di kampus ini,” sambungnya lagi sambil menepis-nepis bagian pahanya sebab ada sisa remahan keripik kentang yang menjadi camilannya selama perbincangan sesama panitia.
“Oh, kalau itu … saya memang baru datang tadi pagi.”
“Mahasiwa mutasi? Transfer?” tanya laki-laki itu dengan raut keingintahuan luar biasa.
Lawan bicaranya hanya menaikkan bahu tampak tak peduli. Aneh, pikir Vera. Wajahnya tipikal bule tapi ia berambut hitam, bahkan alis, dan jambangnya. Mungkin saja rambut sebahu itu di cat hitam, atau bisa jadi, jika dilihat dari logat Indonesianya yang baik, ia adalah orang Indonesia dengan ibu atau ayah bule. Si laki-laki separuh bule itu buru-buru mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Dua lembar flyer.
“Saya mahasiswa di sini. Ini komunitas mahasiswa Indonesia di jurusan ini,” katanya sambil mengulurkan satu flyer berwarna dominan merah dan putih. “Nah, kalau yang ini undangan. Besok datanglah. Di sana,” ia menunjuk satu gedung di depan mereka, “akan ada pameran lukisan tokoh-tokoh perempuan Indonesia.”
Vera menerima satu flyer lagi berwarna keemasan. Dibacanya undangan itu. “Museum dan Memori: Mengarsipkan Perempuan dalam Sejarah Kolonial,” Vera mengangguk-angguk kecil. “Judul yang bagus.”
“Ya. I know. Itu judul yang diajukan salah satu narator di acara itu. Saya sendiri pengen tahu orangnya yang mana.”
“Untuk apa?”
“Untuk berterima kasih. Selain ngasih judul acara yang bagus, dia juga ngirimin teks narasi yang luar biasa untuk beberapa lukisan.”
Vera manggut-manggut lagi meskipun masih membaca informasi di flyer itu. “Saya. Sih, enggak masalah kalau harus menerima ucapan terima kasih lebih dulu.”
Si setengah bule terkejut. Ia menoleh pada Vera dengan tanda tanya dan tanda seru berdampingan di wajahnya. “Mbak Vera?” tanyanya dengan awas.
“Ya.” Vera menjulurkan tangan. “Vera. Vera Mahadewi.”
“Astaga!” Laki-laki itu menyambut uluran tangan Vera. “Maaf, Mbak. Saya sempat mikir tadinya mbak mahasiswa di sini. Habisnya awet muda!”