Melodi terakhir yang lembut mengalun dari gitar Zen, menggantung di udara sore yang tenang di taman kampus. Senarnya berhenti bergetar, namun suara nyanyiannya masih terngiang di telinga Zoya, meninggalkan getaran halus yang menyenangkan. Sebagai seseorang yang menyukai alat musik seperti gitar, dan gemar mendengar orang bernyanyi dengan iringan petikan senar, Zoya merasakan koneksi yang aneh, tertarik pada melodi yang baru saja ia dengar.
Zen meletakkan gitarnya di pangkuan, tatapannya beralih dari senar ke Zoya. Matanya yang gelap memancarkan ketenangan yang tak terbaca. Zoya merasakan senyum tipis mengembang di bibirnya. "Lagu ini... terdengar seperti untukku," bisiknya, suaranya pelan, setengah bertanya, setengah menyatakan sebuah intuisi.
Zen menatap Zoya, senyum tipis merekah di bibirnya yang biasanya datar. "Benar 'kan, kamu bisa mengerti pesan di balik lagunya?" Ada nada kepuasan dalam suaranya.
Zoya menghela napas, pandangannya beralih pada keramaian di sekitar yang kini mulai berbisik-bisik, namun bukan karena malu atau peduli dengan gosip yang mungkin beredar. Ia hanya tidak suka menjadi pusat perhatian. "Aku tidak peduli dengan pandangan orang-orang tentang diriku," jelas Zoya, suaranya serius, "Aku hanya tidak suka menjadi pusat perhatian."
Zen terdiam, menatap lurus ke mata Zoya. Kemudian, sebuah kalimat meluncur darinya, rendah namun menggetarkan, membuat jantung Zoya sedikit berdesir. "Jadi, tidak masalah kan jika aku berada di sekitarmu?"
Zoya terdiam, pandangannya mengabur. Pertanyaan itu begitu lugas, begitu berani, membuatnya terpaku. Otaknya memerintahkannya untuk menjawab, namun lidahnya kelu. Berpura-pura tidak mendengar, ia segera merapikan barang-barangnya. "Aku... harus pergi duluan," pamitnya, berdiri dengan gerakan cepat, menghindari tatapan Zen. Ia berbalik dan melangkah pergi, tanpa menoleh.
Zen hanya menatap punggung Zoya yang menjauh, senyum tipis dan tenang masih terukir di bibirnya. Matanya memancarkan kepuasan yang mendalam. Ia telah menyampaikan keinginannya, dan itu sudah cukup untuk saat ini..
Rasa kesal mencengkeram Yuna seperti cengkraman tak kasat mata, membakar dari dalam. Namun, saat bertemu dengan teman-temannya, ia memaksa bibirnya melengkung menjadi senyum manis, wajahnya memancarkan keceriaan yang biasa. Ia tertawa, mengobrol, dan bersikap seolah tidak ada yang mengganggu pikirannya.
Di tengah obrolan asyik mereka, percakapan justru berbelok ke topik yang paling ingin Yuna hindari.
"Apa kalian sudah dengar rumor tentang Senior Zen?" salah satu temannya, Hima, memulai, matanya berbinar penuh gosip. "Katanya dia sedang dekat dengan seorang wanita di kampus Toyama."
Yuki, teman lain di sampingnya, menyambung, "Aku juga sudah dengar! Yuna, apa itu benar?"
Yuna memaksakan senyum yang lebih lebar. "Oh, itu? Hanya rumor belaka," katanya manis, namun ada nada tipis yang dipaksakan. "Zen 'kan pria populer, jadi wajar saja ada berita miring seperti ini tentangnya."
Hima mendengus, nada mengejek samar. "Tapi aku melihat mereka tadi sore di taman kampus. Senior Zen memainkan gitar dan bernyanyi untuknya. Dan saat itu, Senior sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan mereka. Aku benar-benar iri!"
Yuki di samping Yuna menatapnya dengan tatapan ingin tahu. "Wah, Yuna, siapa wanita itu? Apa kamu mengenalnya? Aku tidak tahu ada wanita lain yang dekat dengan Senior Zen selain dirimu." Sebuah senyum sinis tersungging di bibir Yuki, seolah sengaja memancing reaksi.
Rasa kesal Yuna melonjak, namun ia tetap berusaha terlihat tenang. Ia menyesap minumannya, lalu meletakkannya dengan sengaja. "Mereka hanya tidak sengaja bertemu beberapa kali," jawab Yuna sombong, berusaha mengendalikan nada suaranya agar tetap santai. "Dan aku tegaskan, mereka sama sekali tidak punya hubungan apa-apa. Jika wanita itu kenalan Kak Zen, pasti aku juga tahu. Tapi Kak Zen tidak pernah menceritakan tentang dirinya padaku."
Hima hanya tersenyum tipis, tidak terlalu yakin dengan penjelasan Yuna. "Kamu harus hati-hati," katanya, "Aku melihat cara Senior Zen memperlakukannya agak berbeda. Aku pernah melihat mereka bersama beberapa kali."
Yuna hanya bisa membalas dengan senyum tipis, senyum yang gagal mencapai matanya. Di balik topeng manis itu, ia mulai menyimpan kebencian yang mendalam terhadap wanita tak dikenal yang entah bagaimana berhasil mencuri perhatian Zen, dan kini menjadi sumber bisik-bisik yang mengganggu.
Sebuah kerutan muncul di dahi Miya, teman lain yang diam saja dari tadi. "Sebenarnya siapa sih wanita itu? Ada yang tahu?"
Hima, yang tampaknya paling banyak tahu, menjawab dengan nada bergosip. "Aku tidak tahu namanya, tapi dia juga mahasiswa junior. Katanya dia mahasiswa internasional,aku tidak tahu asalnya dari mana. Tapi dilihat dari wajahnya, sepertinya dia orang Asia."
Mendengar detail itu, seringai tipis muncul di bibir Yuna. "Biar tidak penasaran, bagaimana kalau langsung kita temui saja?" usul Yuna dengan senyum manis, namun siapa pun yang melihatnya pasti mengerti senyum apa itu—senyum penuh rencana yang tidak baik.
Beberapa hari berikutnya, Yuna terus mengamati, tetapi ia belum berhasil menemui Zoya. Zoya, seolah menghilang, jarang terlihat di tempat-tempat umum yang biasa ia kunjungi.
Suatu siang, keramaian memenuhi kafetaria kampus. Yuna tengah duduk bersama dua temannya, Hima dan Yuki, di sebuah meja dekat jendela. Pandangannya menjelajah sekeliling hingga terhenti pada sosok yang baru saja masuk. Itu Zoya, bersama seorang temannya, berjalan menuju meja kosong di sudut paling ujung.