Vibration of Destiny

Milteay
Chapter #13

Chapter 13 Kamu Baik-baik Saja ?

  Langkah Zen yang tenang namun penuh otoritas sontak membekukan suasana di jalanan sepi itu. Pria penguntit yang tadi mencengkeram lengan Zoya buru-buru melepaskan tangannya, terkejut dan sedikit pucat melihat kehadiran Zen, Ichiro, dan Yuta. Ada kilatan ketakutan di matanya saat ia mengenali Zen.

Zoya terhuyung mundur, napasnya sedikit tersengal. Pandangannya bergantian antara pria penguntit yang kini tampak ciut, dan Zen yang berdiri di belakangnya.

Jantungnya berdebar, antara sisa ketakutan dan kebingungan akan kemunculan Zen yang selalu tak terduga.

Zen tidak membuang waktu. Dalam satu gerakan sigap, ia melangkah maju, meraih pergelangan tangan Zoya, dan menarik gadis itu kuat-kuat hingga kini Zoya berdiri tepat di belakang punggung Zen, terlindungi sepenuhnya. Tatapan tajamnya kembali menancap dingin pada pria penguntit itu.

"Bukankah sudah ku peringatkan untuk berhenti mengganggunya?" Suara Zen rendah, menusuk, dan penuh ancaman yang jelas. Tidak ada nada main-main di sana.

Pria penguntit itu gemetar hebat. Ia melirik Zoya yang kini berada di belakang Zen, lalu kembali ke sorot mata Zen yang mematikan. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan lari terbirit-birit, menghilang di tikungan jalan, terintimidasi penuh oleh aura Zen.

Ichiro dan Yuta, yang tadinya berjaga di belakang Zen dengan ekspresi siap siaga, tetap mengawasi area sekitar untuk memastikan tidak ada bahaya susulan. Begitu situasi aman, Ichiro segera mendekat ke arah Zoya, yang masih sedikit gemetar di balik punggung Zen.

"Nona, kamu baik-baik saja?" tanya Ichiro hati-hati, pandangannya mengawasi Zoya, siap membantu jika diperlukan.

Zen mengangguk tipis sebagai respons atas situasi yang terkendali, lalu dengan perlahan memutar tubuhnya menghadap Zoya. Ekspresinya yang mengeras perlahan melunak, meski masih ada ketegasan di sana. Sorot matanya kini tertuju penuh pada Zoya, memeriksa.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Zen, suaranya terdengar lebih pelan, namun kepeduliannya begitu kentara.

Melihat bagaimana Zen memperlakukan gadis itu,dari melindungi secara fisik di hadapan ancaman, dan nada suaranya yang melunak saat bertanya, membuat Ichiro dan Yuta sontak terkejut. Mereka saling pandang dan akhirnya menyadari,ini pasti adalah wanita yang digosipkan punya hubungan dekat dengan Zen beberapa waktu lalu.

Suasana di jalanan sepi itu masih terasa tegang meski sosok penguntit sudah lenyap. Zoya masih sedikit gemetar di belakang punggung Zen, jantungnya berpacu keras. Kepalanya mendongak menatap punggung Zen yang tegap. Ia tidak mengerti mengapa Zen selalu muncul di saat-saat paling genting dalam hidupnya.

Zen berbalik, tatapannya kini lurus pada Zoya, tanpa sedetik pun beralih. Tangannya yang tadi memegang pergelangan Zoya kini beralih memegang lengannya, memastikan Zoya benar-benar stabil. "Aku tahu kemana tujuanmu," kata Zen, nada suaranya berubah, ada nada khawatir yang tipis di sana. "Tapi kenapa kamu jalan sendirian, pria itu bisa melakukan apa saja di situasi seperti ini."

Zoya menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Aku mau mengunjungi Nenek Yori," jelasnya, suaranya masih sedikit bergetar. "Aku pikir beberapa hari ini dia tidak ada tanda-tanda di sekitarku, jadi kupikir mungkin pria itu sudah menyerah. Tapi bisa-bisanya dia muncul di sini."

"Itu artinya dia terus mengawasimu," jawab Zen, suaranya terdengar tegas namun ada kelembutan yang samar di dalamnya, seolah menegur sekaligus memberi peringatan.

Ichiro mendekat, menatap Zoya dengan prihatin. "Nona, kamu harus lebih berhati-hati. Sebaiknya jangan sendirian, apalagi di jalan pintas ini, hanya sedikit orang yang melintas di sini." Ia menjelaskan, suaranya menenangkan.

"Benar," tambah Yuta, kali ini dengan nada yang mencoba menakuti namun terdengar bercanda. "Beruntung kami lewat sini, coba bayangkan kalau tidak ada yang lewat."

Zen menatap Zoya lagi. "Sebaiknya kamu berkunjung lain kali saja, setidaknya bersama teman, jangan sendirian."

Zoya mengerti. Otaknya masih sedikit shock dengan kejadian barusan. Rasa takut merayap di benaknya, membayangkan ia akan dicegat lagi saat pulang, apalagi kini hari sudah mulai sore dan jalanan mungkin akan semakin sepi. Akhirnya Zoya mengangguk. Ia berpamitan dan sekali lagi mengucapkan terima kasih pada Zen dan teman-temannya.

"Tidak apa-apa kok," jawab Yuta. "Apa perlu kami antar sampai stasiun?" tawarnya.

Zoya menggeleng pelan. "Tidak usah, terima kasih. Aku tidak ingin merepotkan kalian." Ia memberi senyum tipis. "Aku akan melewati jalanan ramai dari sini, dan aku akan berteriak jika pria itu menggangguku lagi." Ia pun berbalik kembali, melangkah menuju arah dia datang.

Zen mengamati punggung Zoya sejenak, lalu menoleh pada kedua temannya. "Kalian duluan saja ke kafe. Aku akan menyusul."

Ichiro dan Yuta saling menatap. Sebuah senyum usil dan menggoda terukir di bibir mereka, seperti mengerti isi pikiran masing-masing. "Siap, Bos!" kata Ichiro dengan nada geli, lalu ia dan Yuta melangkah pergi, menuju arah yang berlawanan.

***

Zoya berjalan menyusuri trotoar yang kini relatif ramai, sama sekali tidak menyadari bahwa Zen mengikutinya dari jarak yang cukup jauh. Kejadian barusan masih terngiang-ngiang di kepalanya, membuatnya merasa gelisah. Andai saja Zen dan teman-temannya tidak lewat, entah apa yang akan terjadi. Ia merasa cengkeraman pria itu tadi sungguh kuat, berbeda dari sebelumnya. Kali ini, ia benar-benar khawatir bagaimana kalau pria itu akan menjadi jauh lebih nekat di lain waktu.

Pikiran itu membuat langkah Zoya goyah. Ia merasa sedikit tertekan. Memutuskan untuk menstabilkan pikirannya dulu sebelum melanjutkan perjalanan, ia berjalan ke pinggir, lalu duduk di kanstin trotoar. Ia menutup dan mengusap wajah dengan kedua tangannya, lalu menghela napas panjang,tidak habis pikir mengapa hal seperti ini harus menimpanya. Ia hanya ingin ketenangan, namun masalah terus-menerus datang menghampiri.

Zen, yang memperhatikan dari jauh, akhirnya menghampirinya. "Yo," sapanya singkat.

Zoya melihat ke arahnya, namun tetap diam, seolah belum menemukan kata-kata yang tepat. Zen ikut duduk di sampingnya, menjaga jarak. "Sepertinya kamu mulai tertekan," kata Zen, suaranya kini kembali datar, namun ada nada pengamatan yang tajam.

Lihat selengkapnya