Setelah 4 hari berlalu,hari itu Zoya melangkah keluar dari stasiun dengan napas yang memantapkan.Ia menatap langit yang cenderung cerah, meneguhkan hati bahwa ia tidak akan membiarkan bayangan penguntit itu lagi-lagi menguasai pikirannya. Hari ini, ia akan menjalani hari dengan kepala tegak.
Belum sempat Zoya melangkah jauh, sebuah suara familier memanggil namanya dari kejauhan. "Zoya!"
Zoya menoleh. Ami, sahabat karibnya, berlari ke arahnya dengan napas terengah, wajahnya dihiasi raut lega dan khawatir sekaligus. Tanpa banyak bicara, Ami langsung memeluk Zoya erat-erat.
"Astaga, Zoya! Aku khawatir sekali," bisik Ami, suaranya sedikit bergetar. "Aku sangat menyesal tidak ada bersamamu saat kejadian itu."
Zoya membalas pelukan Ami, menepuk punggung temannya dengan lembut. "Bukan salahmu, Ami. Itu bukan keinginanmu juga, aku paham." Zoya menenangkan Ami, meskipun ia tahu Ami adalah tipe yang selalu menyalahkan diri sendiri.
Setelah Ami sedikit tenang, mereka pun berjalan beriringan menuju kampus, membahas hal-hal ringan untuk mencairkan suasana.
Sepanjang perjalanan masuk ke dalam kampus, beberapa pasang mata mengikuti Zoya. Bisikan-bisikan samar terdengar di antara mahasiswa yang berlalu-lalang. Zoya tahu itu, namun ia memilih untuk tidak menghiraukannya, menjaga pandangannya tetap lurus ke depan.
Tiba-tiba, jalan mereka dihadang oleh empat orang wanita dengan wajah-wajah yang penuh rasa penasaran, bahkan cenderung ingin menginterogasi. Mereka mendesak Zoya untuk mengonfirmasi tentang hubungannya dengan Zen, senior populer di kampus. Zoya merasa muak. Ia tidak mengira ini masih akan terjadi. Namun, ia berusaha untuk tetap ramah.
Ia menjelaskan kembali bahwa tidak ada apa-apa antara mereka dengan tenang, senyum tipis di bibirnya.
Tapi, seperti biasa, setiap kali orang-orang itu datang bertanya, mereka selalu pergi dengan wajah tak percaya dan bisikan yang lebih keras. Zoya hanya bisa menghela napas pasrah.
***
Setelah menyelesaikan hari perkuliahan yang cukup melelahkan, Ami mengajak Zoya untuk bersantai di kafe sekitar kampus. Begitu mereka tiba, Sahoko justru sudah sampai duluan di tempat janjian mereka.
"Wah, tumben tepat waktu, Sahoko?" puji Ami, tersenyum lebar.
Sahoko terkekeh pelan. "Tugasku tidak terlalu banyak hari ini, jadi aku punya banyak waktu bersantai." Ia mengambil posisi duduk.
Sahoko kemudian memberitahu Zoya bahwa dia merasa prihatin untuk insiden penguntit yang menimpanya,lalu mulai memicingkan mata ketika bertanya tentang rumor dirinya dan si senior populer.
Pertanyaan itu langsung membuat raut wajah Zoya terlihat berubah. Ami menyadari temannya sudah merasa muak dengan pertanyaan yang sama di sepanjang harinya di kampus.
Ami kemudian mengambil alih, menjelaskan sesuai yang selalu Zoya katakan,dan tentu Sahoko hanya menanggapi dengan tatapan usil.
Saat mereka sedang asyik bercakap-cakap, tiba-tiba hadirlah tamu tak diundang: Yuna, dengan dua temannya, Miya dan Alin, yang mengekor di belakangnya. Tanpa basa-basi, Yuna langsung melontarkan kata-kata tak enak pada Zoya, nadanya merendahkan. "Dasar wanita murahan."
Zoya mengerutkan kening, namun wajahnya tetap tenang. "Atas dasar apa kamu menilaiku seperti itu?" tanyanya, suaranya terkontrol.
Yuna terkekeh sinis. "Aku sudah pernah mengingatkanmu agar menjauh dari Zen, kan? Tapi kamu ini wanita tidak tahu malu, sengaja membuat orang-orang berpikir kalian punya hubungan."
Ami yang tak tahan lagi mendengar tuduhan tak berdasar Yuna, langsung membuka suara. "Zoya tidak pernah membuat rumor apapun!"
Sahoko ikut menimpali. "Ada beberapa foto beredar di kampus yang tengah ramai jadi pembicaraan antar mahasiswa. Itu mungkin pemicunya, tapi sepertinya Zoya tidak tahu itu."
Yuna melirik Sahoko tajam. "Foto apa yang kau maksud?"
Sahoko kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto yang sedang viral di grup chat mahasiswa. Itu adalah foto ketika insiden di jalan,tepatnya saat Zoya berada dalam pelukan Zen, beberapa hari yang lalu.
Melihat foto itu, mata Yuna memerah karena marah, dipenuhi api cemburu yang membakar. Dalam hatinya terbesit bagaimana bisa foto itu sampai tersebar luas. Namun, ia segera menjadikan itu sebagai serangan lagi terhadap Zoya.
"Lihat baik-baik," desis Yuna, menunjuk ponsel Sahoko. "Aku yakin kamu pasti melakukan sesuatu yang membuat Kak Zen sampai memelukmu! Aku kenal Kak Zen dengan baik." Nada suaranya berubah menjadi mengejek. "Daripada menyebarkan rumor, lebih baik kamu fokus dengan kuliah agar beasiswa yang kamu dapat tidak sia-sia. Dan kamu," Yuna mendengus, "Seharusnya ingat umur, jangan menggoda pria yang lebih muda darimu!"
Zoya tersenyum tipis, sorot matanya kini tertuju tajam pada Yuna, namun suaranya tetap tenang, bahkan cenderung dingin. "Apapun yang terjadi, apa hubungannya denganmu? Dijelaskan pun kamu tidak akan mengerti, kan? Kamu siapa? Hanya kerabatnya. Jika kamu merasa kamu begitu kenal dia dengan baik, maka kamu tidak perlu khawatir dengan diriku." Zoya menarik napas. "Usia hanyalah angka. Usia juga tidak menjamin seberapa dewasa seseorang, tapi bagaimana cara dia berpikir dan menanggapi setiap hal. Perbaiki dulu cara pandangmu terhadap orang lain, sebelum ingin dianggap berharga oleh mereka."
Yuna tidak terima dibalas setenang itu, apalagi dengan kalimat yang menusuk. Wajahnya memerah padam. "Jalang!" desisnya, dan dengan cepat hendak mengambil gelas kopi hangat di hadapannya untuk menyiram ke wajah Zoya. Namun, Ami yang siaga, berhasil menutupi gelas itu dengan tangannya, hingga kopi itu mengenai lengan baju Ami yang panjang dan berwarna putih, meninggalkan noda cokelat yang kontras.
Zoya tidak tinggal diam. Ia segera berdiri, meraih gelas air putih di sampingnya, dan melemparkan isinya ke wajah Yuna yang membuatnya tersentak mundur.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Yuna, suaranya emosi sambil memegang wajahnya yang basah dan kini makeup-nya mulai luntur.