Zoya terbangun dengan perasaan yang tidak karuan. Kehadiran dua jaket Zen di dalam lemarinya terasa seperti sebuah beban yang aneh. Jaket-jaket itu bukan hanya sekadar pakaian; mereka adalah pengingat nyata akan kedekatan yang tiba-tiba muncul di antara dirinya dan pria itu. Zoya merasa tidak enak, bagaimana bisa seorang pria yang baru dikenalnya begitu saja membiarkan jaket-jaketnya yang terlihat mahal dan berharga ada padanya? Sejak kapan mereka sedekat ini?
Dengan tekad bulat, Zoya membungkus kedua jaket itu dengan hati-hati. Hari itu, ia membawa jaket tersebut ke kampus, berharap bisa berpapasan dengan Zen. Ia mencoba menunggu di sekitar area umum, di mana ia dan Zen biasanya bertemu. Namun, Zen tidak kunjung muncul. Hari berikutnya pun sama,saat ia mulai merasa frustrasi, ia berpapasan dengan Ichiro, teman Zen yang kebetulan berada di kampus yang sama dengannya.
"Hai," sapa Ichiro ramah, terkejut melihat Zoya di lorong itu.
Zoya melihatnya sebagai kesempatan. "Anda teman senior Zen, kan?" Ia menggenggam bungkusan berisi jaket itu sedikit lebih erat. "Aku punya titipan barang untuknya, ini jaket miliknya, tapi sudah dua hari ini aku tidak bertemu dengannya."
Ichiro tersenyum geli. "Oh, Zen? Sudah beberapa hari ini aku juga tidak bertemu dengannya. Kami sedang sibuk di fakultas masing-masing. Kurasa lebih baik kamu coba ke kampusnya saja. Siapa tahu bisa bertemu di sana."
"Oh, begitu, baiklah. Terima kasih," jawab Zoya, mengangguk mengerti, lalu pergi.
Ichiro menatap kepergian Zoya, senyumnya menghilang, digantikan dengan tatapan penuh arti.
'Zen tidak pernah menyingkirkan orang dari masalah hanya untuk dirinya sendiri, bahkan sampai membuat dirinya terlibat. Ditambah, wanita itu sampai membawa jaket kesayangannya... ini pasti bukan hal sepele. Apa Zen memang memiliki perasaan pada wanita ini?'
*
Mendengar perkataan Ichiro, Zoya mengerti bahwa Zen mungkin sedang sibuk karena tidak lama lagi liburan musim dingin. Demi ketenangan hatinya, ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya dengan langsung pergi ke kampus Zen. Zoya benar-benar sudah tidak tenang menyimpan barang-barang Zen terlalu lama.
Di sana, ia masih belum menemukan Zen. Namun, ia bertemu dengan Yuta. Dengan membawa dua jaket di tangannya, Zoya memberanikan diri untuk meminta tolong.
"Permisi, maaf anda teman senior Zen kan,bisa tolong berikan ini padanya? Ini adalah jaket miliknya."
Yuta, yang melihat ekspresi Zoya yang sedikit cemas, menggeleng pelan. "Lebih baik kamu berikan langsung padanya. Itu akan lebih baik dan lebih sopan, mengingat jika dia langsung yang memberikannya padamu, kan?"
Kata-kata Yuta membuat Zoya terdiam sejenak. Ia merasa Yuta benar. Zoya kemudian bertanya di mana Zen berada. Yuta hanya memberitahu Zoya letak kelas Zen, menambahkan bahwa Zen memang sedang sangat sibuk dengan berbagai kegiatan sebelum liburan musim dingin. Zoya mengangguk, lalu berbalik pergi.
**
Suhu dingin di Jepang mulai terasa menusuk tulang,Zoya pun hanya mengenakan sweater yang tidak terlalu tebal,karena ia buru-buru jadi dia lupa melapisinya dengan double baju.
Di hari ia mencoba mengunjungi Zen, ia tidak berhasil bertemu. Di hari berikutnya, ia kembali mencoba lagi. Namun kali ini, alih-alih bertemu Zen, ia justru bertemu dengan Yuna. Orang yang paling ingin ia hindari.
Yuna yang melihat Zoya, langsung menghampirinya dengan senyum sinis yang dibuat-buat.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya.
Zoya menjawab dengan ringan. "Tidak ada larangan bagi mahasiswa untuk berkunjung ke kampus lain, kan?"
"Tidak biasanya," balas Yuna. "Apa kamu mencari Kak Zen? Wah, sampai datang kemari?" Yuna menyindir, senyumnya berubah menjadi seringai sombong.
Zoya tidak ambil pusing. Matanya terus berusaha mencari Zen, berharap pria itu lekas ia temukan. Yuna memandang Zoya dengan ekspresi sinis, namun pandangannya jatuh pada jaket yang dipegang Zoya. Tanpa permisi, Yuna mengambil salah satu jaket yang ia kenali. "Ini kan punya Kak Zen! Bagaimana bisa ada padamu?" tanyanya, matanya melotot.
"Yang jelas tidak kucuri. Kembalikan," jawab Zoya dingin.
"Beritahu aku dulu, bagaimana bisa jaket Kak Zen ada padamu?" Yuna masih melotot.
Yuta yang kebetulan lewat dan melihat kejadian itu, lantas bergegas mencari Zen, khawatir kedua wanita itu akan bertengkar.
"Dia pinjamkan. Puas?" balas Zoya, menatap Yuna sekilas lalu kembali mencari Zen. "Aku ke sini untuk mengembalikannya."
Yuna mendengus, lalu merampas jaket yang satu lagi dari tangan Zoya. "Biar aku yang berikan."
Zoya seketika teringat dengan nasihat Yuta. 'Lebih baik langsung saja kembalikan pada orangnya. Kamu pasti dapat jaket itu secara langsung, maka kembalikan juga secara langsung.'
Zoya mengambil paksa kedua jaket itu kembali dari tangan Yuna. "Tidak perlu repot-repot," jawab Zoya, tersenyum paksa dan singkat. "Akan ku kembalikan sendiri."
Namun Yuna tidak setuju. "Ada apa denganmu? Berikan jaketnya padaku!" paksa Yuna.
Zoya tetap kukuh, menggenggam jaket itu dengan erat.
"Kamu ingin mencari muka di depan Kak Zen, ya?" tuduh Yuna dengan nada menghina.
"Oh, aku tidak sepertimu," balas Zoya singkat, terlihat muak.
"Hah, tapi buktinya sudah jelas. Untuk apa kamu repot-repot mencarinya secara langsung sementara kamu bisa berikan pada ku?" desak Yuna lagi, wajahnya penuh kecemburuan.
Zoya sudah terlalu lelah dengan perdebatan ini. "Aku malas berdebat," katanya setelah berhasil mengamankan jaket-jaket itu,dan memutuskan untuk pergi.
Namun, Yuna menahannya. Dengan kasar, ia menarik lengan Zoya. Kuku-kukunya yang panjang dan tajam terasa menusuk, membuat Zoya meringis perih. Zoya lantas menghempaskan tangan Yuna. Tanpa sengaja, pergelangan tangan Yuna mengenai gantungan kunci tas Zoya. Kulitnya tergores dan mengeluarkan darah.
Zoya yang menyadari hal itu, merasa bersalah. "Maaf," gumam Zoya pelan.
Yuna, dengan mata melotot penuh amarah, tidak mau menerima maaf. Dengan cepat ia mendorong Zoya, namun tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menahan tubuhnya. Itu Zen. Yuta juga berada di belakangnya.
"Ada apa ini ?" tanya Zen, suaranya dingin dan tanpa emosi.
Ia membantu Zoya menyeimbangkan badannya, lalu beralih menatap Yuna.
Yuna langsung berlagak menjadi korban. Dengan nada merengek, ia menunjukkan goresan di lengannya. "Kakak lihat ? Dia melukai tanganku!"
Zen mendekati Yuna, memeriksa goresan di pergelangan tangannya. Kemudian, ia berbalik menatap Zoya. "Apa yang terjadi?"
Zoya hendak menjelaskan, tapi Yuna langsung memotong dengan nada manja yang dibuat-buat. "Aku hanya ingin meminta jaket kakak, tapi dia tidak memberikannya. Lalu dia menghempas tanganku sampai terluka seperti ini, kasar sekali."
Mendengar kebohongan itu, ekspresi Zoya berubah. Dari yang tadinya khawatir, kini menjadi geli. Ia tidak habis pikir dengan wanita ini.
Zen mengeluarkan plester dan membalut goresan di lengan Yuna, tanpa ekspresi yang jelas. Gerakannya dingin tanpa kata. Hati Zoya mendadak terasa perih. Ia berpikir Zen mungkin akan menyalahkannya dan percaya pada kebohongan Yuna. Entah mengapa, ada rasa kesal yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.