Vibration of Destiny

Milteay
Chapter #16

Chapter 16 Nomor Tidak Dikenal !

 Ini adalah hari pertama liburan musim dingin, dan udara di luar jendela kamar Zoya telah berubah menjadi pemandangan yang tenang. Angin dingin berembus pelan, membuat kaca jendela berembun. Zoya duduk di kursi favoritnya, memegang cangkir kopi yang hangat, uapnya mengepul ke udara dingin di dalam ruangan. Di luar sana, dunia tampak bepergian menuju destinasi liburan, penuh dengan tawa dan kegembiraan. Namun, Zoya memilih untuk menghangatkan diri di dalam, menikmati keheningan yang terasa seperti pelukan. Sebuah melodi lembut mengalun dari pemutar musik kecil di sudut ruangan, menyempurnakan suasana damai.

"Zoyaa!" Suara Viona memecah keheningan. Pintu kamar terbuka, dan Viona masuk dengan langkah cepat, wajahnya yang cantik dipenuhi semangat.

"Mau ikut denganku tidak? Nanti sore aku ada acara makan-makan bersama teman-teman kantorku," tanyanya, matanya berbinar.

Zoya menggeleng pelan, senyum tipis di bibirnya. "Aku rasa tidak bisa, Vio. Cuaca mulai sangat dingin bagiku, aku merasa tidak sanggup untuk berkeliaran di luar."

"Aaaah, aku ingin kamu ikut! Ayolah! Lagi pula acaranya bukan di luar ruangan, tapi di dalam restoran yang hangat," ucap Viona, wajahnya mulai cemberut, bibirnya mengerucut.

Zoya menatap Viona dengan lembut. "Aku tahu kamu hanya tidak ingin meninggalkanku sendiri, kan?"

"Kalau sudah tahu kenapa bertanya?" jawab Viona, pandangannya melirik ke arah lain, menghindari kontak mata, "Aku tahu,kamu tidak mau ikut karena mereka asing bagimu kan", sambungnya lagi.

Zoya terkekeh pelan. "Kalau sudah tahu kenapa bertanya?" Ia meniru nada bicara Viona. "Vio, sebenarnya ini bukan soal aku kenal mereka atau tidak. Ini acara kalian. Kamu tidak perlu khawatir tentang aku."

"Tapi aku tidak mau meninggalkanmu sendirian." Viona bersikeras.

"Aku bukan anak kecil. Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu," jelas Zoya, suaranya mengandung tawa.

Namun Viona tetap gigih membujuk. Tidak heran. Ini adalah akibat dari kejadian empat hari lalu saat Zen mengantar Zoya untuk kedua kalinya. Saat itu, Viona juga baru pulang kerja dan melihat Zen mengantar Zoya. Zen menjelaskan apa yang terjadi, yang tentu saja semakin menambah kekhawatiran Viona. Sejak saat itu, Viona menjadi lebih protektif.

Namun Zoya membujuk Viona, meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja.

  Sore harinya, Viona pamit dan Zoya mengantarnya sampai ke depan pintu. Viona pergi dengan senyum dan lambaian tangan, meski keraguan masih terlihat jelas di matanya.

Keheningan kembali menyelimuti rumah. Zoya, yang memang menyukai ketenangan, sama sekali tidak terpengaruh. Ia berjalan ke depan kanvasnya yang belum selesai, sebuah lukisan bunga sakura yang mekar di bawah sinar rembulan. Ia mengambil palet cat, mencampurkan warna-warna pastel, lalu dengan hati-hati mencelupkan kuasnya. Jemari lentiknya bergerak lincah, sapuan kuasnya lembut, menari-nari di atas kanvas, melengkapi kelopak bunga yang hampir sempurna. Ia tenggelam dalam dunianya, melukis sampai lupa waktu.

Ponselnya bergetar. Sudah berkali-kali sejak tadi, tapi Zoya tidak menghiraukannya. Ia tidak suka diganggu saat sedang berurusan dengan kanvas dan imajinasinya. Namun, entah sudah yang ke berapa kali, getaran itu terasa begitu gigih. Zoya menghela napas, terpaksa meletakkan kuasnya dan mengambil ponsel.

Nomor tidak dikenal !

Sebuah pertanyaan terbesit dalam pikiran Zoya. Sejauh yang ia ingat, ia tidak pernah memberikan nomornya pada orang asing,lalu siapa yang menelepon? Zoya memutuskan untuk mengangkatnya, siapa tahu ada sesuatu yang penting.

"Halo... dengan siapa ini?" tanyanya hati-hati.

"Hai" sebuah suara bariton yang dalam terdengar dari seberang. Zoya semakin bingung.

"Apa kamu sedang sibuk?"

Dari nada yang panjang dan jeda yang khas, Zoya mulai mengenali suara itu. Perasaannya mulai tidak enak.

"Aku mulai kedinginan di luar sini," suara itu melanjutkan, dengan nada yang dibuat-buat, "boleh minta secangkir kopi hangat?"

Tanpa ragu, Zoya seketika berjalan ke jendela. Ia melihat ke luar, dan benar saja, di bawah lampu jalan yang remang, ada sosok Zen yang sedang bersandar di motornya, membelakangi rumah.

Dengan cepat Zoya mengenakan mantel, lalu bergegas keluar menghampiri Zen. "Apa yang kamu lakukan di sini? Udaranya dingin," tanyanya, suaranya dipenuhi rasa tak percaya.

"Bisa bertanya nanti saja? Aku akan menjadi patung es," jawab Zen, suaranya terdengar bergetar karena kedinginan.

Awalnya Zoya ragu-ragu untuk mengizinkan Zen masuk karena dia hanya sendirian di rumah. Namun, melihat keadaan Zen yang menggigil, membuatnya tidak tega. Ia pun mempersilakan Zen masuk, lalu segera menuju dapur untuk membuatkannya kopi hangat.

"Sudah berapa lama kamu berada di luar?" tanya Zoya sambil menyodorkan cangkir berisi kopi panas.

Lihat selengkapnya