Cuaca dingin seperti hari-hari kemarin, seolah alam semesta ingin menghapus kenangan kelam yang terjadi beberapa malam lalu. Zoya duduk di teras depan, menikmati secangkir teh hangat. Udara pagi terasa sejuk, dan ia membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan yang damai. Namun, pikirannya kembali pada percakapan kemarin, pada kata-kata Viona yang begitu yakin bahwa Zen menyukainya. Ia mencoba mengabaikannya, tapi wajah Zen mulai bermunculan di pikiranya.
Pandangan Zoya beralih ke Viona yang sedang duduk di kursi seberang, tampak gelisah, sesekali melihat ke arah ponselnya, lalu ke arah jalanan.
"Vio," panggil Zoya lembut. "Apa yang kamu tunggu? Apa seseorang akan menjemputmu?"
Viona hanya tersenyum tipis, menatap jalanan.
"Atau jangan-jangan..." kata Zoya, suaranya mengecil. Firasat kuat tiba-tiba muncul di benaknya.
Belum sempat Zoya menyelesaikan perkataannya, sebuah motor besar berwarna hitam melaju pelan, lalu berhenti tepat di depan pagar rumah. Sosok pengendaranya yang tinggi tegap turun dari motor, melepas helm, dan menatap mereka. Itu Zen.
Zoya seketika menoleh ke arah Viona. Matanya membelalak, dugaannya ternyata benar.
"Vio," panggilnya, nada suaranya sedikit kesal. "Kenapa kamu menyuruhnya datang lagi?"
Viona hanya tersenyum canggung. Ia segera mengenakan tas selempang, lalu meraih tas kantornya yang terletak di kursi sebelahnya. "Zo, aku harus pergi. Ada urusan mendesak di kantor."
"Tapi kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" Zoya bangkit dari kursinya, mengikuti Viona yang sudah berjalan cepat menuju pintu pagar.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian!" balas Viona tanpa menoleh. Langkahnya dipercepat seolah ia tidak ingin mendengar ocehan Zoya.
Di depan pagar, Zen tersenyum tipis. "Selamat pagi"
"Selamat pagi !" jawab Viona dengan napas sedikit terengah. "Terima kasih banyak sudah mau datang. Aku punya pekerjaan yang sangat mendesak, dan aku tidak bisa menghubungi teman-teman Zoya karena mereka sedang di luar kota." Viona menatap Zen dengan penuh rasa percaya. "Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian. Jadi... aku titip Zoya."
Sebelum Zen sempat merespons, Viona langsung berjalan cepat menuju jalan raya, melambaikan tangan tanpa menoleh. Zen menatap punggung Viona yang menjauh, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zoya yang masih berdiri di teras dengan wajah campur aduk.
***
Hening. Itulah kata yang paling tepat menggambarkan suasana di dalam rumah. Bukan hening yang damai, melainkan hening yang tebal, penuh dengan kecanggungan yang tak terucapkan. Aroma kopi mengepul, mengisi ruang tamu dengan kehangatan, sementara Zen duduk di sofa, telapak tangannya menangkup cangkir, menghangatkan jemari yang terasa dingin. Ia sengaja berkendara secepat kilat agar bisa sampai tepat waktu.
Zoya duduk di sofa seberang, dekat dengan jendela, memegang sebuah buku. Wajahnya terlihat tenang, seolah tenggelam dalam bacaan, namun di balik ketenangan itu, ia berusaha keras menyembunyikan rasa canggung yang menusuk. Kehadiran Zen di ruang tamu mereka, sendirian, terasa sangat berbeda dan asing.
Jemarinya yang memegang buku terasa kaku, ia membolak-balik halaman tanpa benar-benar mencerna isinya. Pikirannya, yang seharusnya sibuk dengan kata-kata di buku, justru melayang, mencari Zen.
Zoya merasa bingung dengan dirinya sendiri. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya, perpaduan antara ketidaknyamanan, rasa aman, dan rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan. Perasaan yang membingungkan ini membuatnya tidak nyaman. Ia benci bahwa hatinya bereaksi terhadap kehadiran Zen. Ia benci bahwa ia mulai terbiasa dengan pria ini.
Zen memecah keheningan dengan suara baritonnya yang dalam. "Bagaimana kabarmu? Apakah masih ada gangguan selama beberapa hari ini?" tanyanya, suaranya tenang, namun tatapannya tak lepas dari Zoya.
Zoya melirik sekilas ke arah Zen. "Tidak. Sepertinya tidak ada," jawabnya singkat, lalu kembali menunduk ke arah buku.
"Syukurlah," Zen mengangguk pelan. "Lalu, apa saja kegiatanmu belakangan ini?"
"Melukis. Membaca. Tidur," jawab Zoya, nadanya datar. Ia menoleh, menatap Zen lurus-lurus. "Dan melakukan hal-hal yang dilakukan manusia."
Zen tersenyum tipis. Sebuah senyum yang jarang terlihat, hanya muncul di hadapan Zoya. "Hmm, manusia-manusia di luar sana sedang sibuk jalan-jalan, berlibur. Mereka menikmati musim dingin di tempat-tempat indah. Hal-hal yang tidak kamu lakukan !" Ia berkata dengan nada jenaka, seolah mencoba memancing reaksi dari Zoya.
Zoya mengangkat bahu, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Aku tidak begitu suka cuaca dingin" katanya.
"Jadi, kamu tidak bosan berada di rumah terus-menerus, dengan kegiatan yang sama berulang-ulang?" tanya Zen, kali ini suaranya lebih lembut.
"Tidak," jawab Zoya dengan yakin. "Selama aku merasa nyaman, aku tidak keberatan meskipun aku harus duduk sampai kram."
Zen tersenyum kecil. Ada kehangatan yang tak bisa ia jelaskan di dadanya saat mendengar Zoya begitu jujur tentang kesendiriannya.
Kruuuk...
Suara perut Zen berbunyi, memecah kesunyian di antara mereka. Ia tidak sempat sarapan karena buru-buru.
Zen seketika menunduk, wajahnya sedikit merona. Zoya berusaha menahan tawa, ia segera berdiri, meletakkan bukunya di atas meja. "Aku akan siapkan sesuatu," katanya, tanpa menatap Zen, lalu berjalan ke dapur.
Tidak berselang lama, Zoya memanggilnya dari dapur.
Zen berjalan ke dapur dan mendapati hidangan sudah tersedia di atas meja. Zoya mempersilakannya untuk duduk dan makan. Zen pun duduk.
"Kamu tidak ikut makan?" tanya Zen.