Vibration of Destiny

Milteay
Chapter #18

Chapter 18 Apakah Ini Kencan?

  Kedinginan mencengkeram. Angin musim dingin menusuk tulang, namun di sudut-sudut tersembunyi sekitar sebuah rumah berarsitektur Jepang modern yang tenang, empat sosok berjaket tebal bergerak senyap dalam kesunyian. Mereka berjaga, tanpa terlihat. Di kejauhan, seorang pria bersandar pada mobil hitamnya, ponsel menempel di telinga. Suara beratnya terdengar samar di tengah dinginnya udara.

"Ada empat orang yang berjaga di sekitar rumah itu, dua puluh empat jam penuh," bisiknya ke telepon. Nada suaranya penuh perhitungan, ada nada kekesalan yang samar di sana. "Aku kesulitan mendekat dan memantau. Aku akan cari cara untuk mendekatinya." Pria itu menutup telepon, tatapan matanya tajam, terpaku pada siluet rumah yang diselimuti kabut pagi. Ia tidak bisa bergerak sembarangan,tidak di sangka keadaannya akan seperti ini.

**

  Embun masih menempel di daun-daun, dan hawa dingin masih terasa menusuk. Viona membuka pintu rumah, bersiap berangkat bekerja. Namun, langkahnya terhenti. Di ambang pintu, Zen sudah berdiri tegak, dengan jaket tebal dan aura dingin yang khas. Viona berdiri mematung, bingung. Ia tidak menghubungi Zen.

Dari dapur, Zoya menghampiri, membawa sisa sarapan di tangannya. Matanya membelalak kaget melihat Zen. Ia menatap Viona, seolah memberi isyarat bertanya, kenapa dia ada di sini? Bukankah mereka sudah sepakat untuk tidak mengganggunya lagi? Namun, Viona hanya mengangkat bahu, sama bingungnya.

Zen, tanpa membuang waktu, langsung pada intinya. "Aku datang ingin mengajak Zoya keluar," katanya, menatap Zoya. Kemudian ia menoleh pada Viona. "Aku izin padamu."

Viona, yang tadi bingung, kini tersenyum jahil, menatap Zoya penuh arti. Zoya menyadari arti tatapan itu dan menggelengkan kepala, memberi isyarat agar Viona diam.

"Keputusan ada di tangan Zoya," kata Viona, lalu ia melirik jam tangannya. "Aku harus pergi, atau aku akan terlambat." Viona bergegas pamit, melambaikan tangan sekilas, lalu menghilang di balik pintu, meninggalkan Zoya dan Zen saling berhadapan dalam keheningan yang tiba-tiba terasa tebal.

Zen menatap Zoya. "Bagaimana, apa kamu bersedia?" tanyanya, suaranya lembut, namun matanya penuh keyakinan.

Zoya mematung sejenak, terkejut dengan pertanyaan langsung itu. Pikirannya bergejolak. Ia ingin menolak, mengatakan bahwa ia lebih suka di rumah. Tapi ia tidak bisa. Itu akan terdengar kasar, tidak menghargai.

"Masuklah dulu," tawarnya, mencoba mengulur waktu.

Namun, Zen tetap berdiri di ambang pintu, bersih keras meminta jawaban. "Aku ingin jawabanmu sekarang."

Zoya menghela napas, mencari alasan. "Cuaca dingin," katanya, suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak tahan dengan dingin."

Zen tersenyum tipis. Ia mengulurkan sebuah bingkisan yang sedari tadi ia pegang. Zoya menerima dengan wajah bingung. "Itu untukmu," ungkap Zen.

Dengan hati-hati, Zoya membuka bingkisan itu. Matanya membelalak melihat isinya,sebuah jaket tebal dan sweater.

"Keduanya terbuat dari bahan thermal," Zen menjelaskan. "Jadi, kamu akan tetap hangat di luar."

Zoya merasa tidak enak. Ini terlalu banyak. Ia mengangkat tangan. "Kamu tidak perlu memberikanku ini."

Zen tidak mendengarkan. Ia hanya menatap Zoya dalam-dalam. "Aku hanya ingin mengajakmu pergi," katanya, suaranya melembut, tapi ada ketegasan di sana. "Aku akan menunggu di motor." Tanpa menunggu respons Zoya, Zen berbalik, melangkah menuju motornya.

Zoya terdiam sejenak, melihat punggung Zen yang menjauh. Ia menghela napas panjang. Bukan karena senang, tapi karena merasa terdesak. Ia tidak ingin terlihat tidak sopan atau tidak menghargai, Zen sudah jauh-jauh datang tidak mungkin ia menolak begitu saja, batinnya mulai berperang.

Zoya memilih mengenakan rok berbahan wol berwarna cokelat, dipadukan dengan sweater putih dan jaket cokelat susu yang diberikan Zen. Ia mengikat rambutnya dengan gaya half updo yang simpel, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat lebih hangat dan... berbeda. Namun, senyumnya tidak sepenuhnya tulus. Ada campuran rasa pasrah dan bingung di sana.

Zoya menarik napas dalam, merasakan udara dingin mengisi paru-parunya. Setelah memastikan setiap pintu dan jendela terkunci, ia melangkah keluar, menghampiri Zen yang sudah duduk di atas motor, mesinnya menderu pelan. Jaket thermal yang ia kenakan terasa seperti perisai, hangat dan berat, namun tetap tidak bisa meredam gejolak aneh yang menari di dadanya.

Zen menoleh. Ada senyum tipis di sudut bibirnya, sepintas kilas yang begitu cepat sehingga Zoya tidak yakin ia benar-benar melihatnya. Zoya sendiri menolak untuk balas menatap, ia lebih memilih fokus pada kehangatan samar yang keluar dari mesin motor, atau apapun itu, yang bisa mengalihkan perhatiannya dari perasaannya sendiri.

Zen mengulurkan helm. Zoya menerimanya, tapi hanya memandangi benda itu, enggan memasangnya. Ia merasa terlalu banyak perhatian yang diberikan Zen padanya, dan ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi.

Zen turun dari motor, mengambil helm itu kembali dari tangan Zoya. Gerakannya begitu pasti, seolah tahu apa yang akan terjadi. "Apa aku yang harus memakaikannya?" tanyanya, suaranya tenang.

"Sebenarnya, kita mau ke mana?" Zoya balik bertanya, mencoba mengendalikan situasi.

Tanpa menjawab, Zen mengangkat helm itu. Tangannya yang besar dan hangat menangkup kepala Zoya, dengan lembut memasangkan helm di sana. Zoya merasakan dunia di sekitarnya mengecil, hanya menyisakan kehadiran Zen. Suara gesper yang berbunyi klik terdengar begitu dekat, diiringi bisikan Zen yang merambat masuk ke dalam telinganya. "Kita akan pergi ke tempat yang akan membuatmu nyaman."

Ia kemudian menutup kaca helm Zoya. Di balik kaca gelap itu, Zoya melihat bayangan Zen yang tersenyum, seolah ia berhasil melakukan sesuatu yang besar.

Zoya tidak lagi melawan. Ia naik ke boncengan motor, membiarkan Zen membawanya pergi. Rasa penasaran yang aneh mengalahkan semua keraguan. Tempat seperti apa yang Zen maksud? Di luar kamarnya sendiri, Zoya merasa sulit menemukan kenyamanan.

Angin musim dingin menerpa mereka, namun jaket Zen menjaga kehangatannya. Zen memacu motornya dengan santai. Zoya bisa merasakan Zen menikmati momen ini. Momen di mana mereka hanya berdua, membelah jalanan Tokyo yang ramai. Zen mencatat setiap detik dalam memorinya, dan ia berharap Zoya akan mengingat momen ini.

Motor Zen berhenti. Zoya turun, melepas helm, dan matanya membelalak tak percaya. Mereka berada di depan Mori Art Museum. Senyum yang benar-benar tulus akhirnya terbit di wajah Zoya. "Aku pernah berencana ke sini," gumamnya, matanya menelusuri fasad bangunan. "Tapi selalu malas untuk keluar."

Lihat selengkapnya