Takdir terkadang memiliki selera humor yang aneh, atau mungkin, ia hanya suka bermain-main di malam pergantian tahun. Di tengah lautan manusia yang berdesakan di sekitar Kuil Zōjōji, di mana udara dingin beradu dengan hangatnya antusiasme ribuan orang, Viona membeku.
Di hadapannya, berdiri Kento. Pria yang pesannya telah menghantui ponsel Viona sepanjang malam. Pria itu tampak sedikit terengah, seolah baru saja berlari menerobos kerumunan, matanya mencari-cari hingga akhirnya menemukan Viona.
Zoya melihat momen itu—keterkejutan yang segera berganti dengan binar kerinduan yang tak bisa disembunyikan di mata sahabatnya. Itu adalah jenis tatapan yang tidak boleh diabaikan oleh siapa pun.
"Pergilah," bisik Zoya, menyenggol lengan Viona pelan.
Viona menoleh, matanya melebar panik. "Apa? Tidak! Aku tidak bisa—"
"Vio," potong Zoya, suaranya lembut namun tegas, menembus kebisingan di sekitar mereka. "Lihat dia. Dia datang mencarimu di tengah kekacauan ini. Jangan bodoh."
Viona menggigit bibirnya, dilema yang menyakitkan terpampang jelas di wajahnya. "Tapi janji kita... aku tidak mau meninggalkanmu sendirian."
"Aku tidak ingin menjadi tembok pemisah di antara kalian," kata Zoya, memberikan senyum tulus yang langka.
Ia tahu Viona menginginkan ini sama besarnya dengan ketakutannya meninggalkan Zoya. "Ini malammu juga. Jangan korbankan kebahagiaanmu hanya karena rasa bersalah yang tidak perlu."
"Tapi ini Tokyo saat malam tahun baru, Zoya! Sangat ramai. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Keramaian bisa berarti dua hal: orang-orang akan sadar jika kau butuh bantuan, atau mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri hingga tidak peduli." Kecemasan Viona meluap.
Zoya meraih kedua bahu Viona, menatap lurus ke dalam matanya. "Dengarkan aku. Aku bukan putri dalam menara yang tidak berdaya. Aku tidak akan berlagak lemah jika ada yang mencoba macam-macam. Aku punya sejuta cara untuk melawan, Vio. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Viona menatap sahabatnya itu. Ia tahu Zoya sedang berusaha keras meyakinkannya, mungkin sedikit melebih-lebihkan keberaniannya demi membuat Viona merasa lebih baik. Zoya yang keras kepala, yang selalu menempatkan orang lain di atas dirinya sendiri. Kata-kata itu adalah penghiburan yang Viona butuhkan untuk meredakan rasa bersalahnya karena melenceng dari rencana awal mereka.
Akhirnya, dengan berat hati dan setelah pelukan erat yang terlalu lama, Viona berjalan menuju Kento yang menunggunya dengan senyum lega.
***
Zoya sendirian sekarang. Ia berjalan menyusuri trotoar yang padat, lampu-lampu kota berpendar di matanya. Namun, ketenangannya terus terusik oleh getaran ponsel di sakunya. Pesan dari Viona masuk bertubi-tubi.
Kau di mana?
Apa kau sudah makan?
Maafkan aku, Zoya.
Aku terus kepikiran kamu.
Zoya menghela napas. Rasa tidak enak merayap di hatinya. Bagaimana bisa Viona menikmati kencannya jika pikirannya terus tertuju padanya? Itu tidak adil bagi Kento.
Zoya berhenti sejenak di bawah lampu jalan, mengetik balasan dengan cepat: Vio, berhentilah. Fokus saja pada kencanmu. Hargai pria yang ada di hadapanmu. Aku baik-baik saja. Jangan kirim pesan lagi sampai kau pulang.
Ponselnya terdiam beberapa saat, sebelum satu pesan terakhir masuk: Baiklah. Tapi segera hubungi aku jika terjadi sesuatu. Janji?
Zoya tersenyum kecil melihat pesan itu, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Ia membutuhkan kehangatan. Berdasarkan pencarian singkat di peta digitalnya tadi, ada sebuah kedai ramen kecil tak jauh dari situ yang tampaknya menjanjikan.
Ia pun menyadari, sejak Viona pergi, tiga pasang mata telah mengawasinya dari bayang-bayang gang. Tiga pria dengan gelagat gelisah dan seringai yang tidak menyenangkan.
Saat Zoya berbelok masuk ke kedai yang untungnya tidak terlalu penuh, mereka mengikutinya. Zoya memilih meja di sudut, berharap mendapatkan sedikit ketenangan sambil menunggu pelayan. Namun, ketenangan itu berumur pendek.
Tiga pria itu tidak mengambil meja kosong lainnya. Setelah memindai ruangan dan memastikan Zoya benar-benar sendiri, mereka berjalan lurus ke arah mejanya.
Aroma alkohol murahan dan asap rokok menguar saat mereka mengepungnya.
"Sendirian saja, Nona?" tanya salah satu dari mereka, tanpa basa-basi.
Zoya tidak menjawab, tatapannya tetap lurus ke depan, berpura-pura membaca menu yang sudah ia hafal.
"Sombong sekali," timpal yang lain, nada suaranya sok yakin. "Bagaimana bisa wanita secantik dirimu jalan-jalan sendiri di malam perayaan seperti ini? Pacarmu pasti bodoh sekali."