Victoria

Blarosara
Chapter #3

Chapter 2

Tersembunyi di balik kabut abadi dan awan kelabu yang tak pernah benar-benar pergi, berdirilah Kerajaan Vladareth—tempat di mana malam tak pernah sepenuhnya berakhir.


Sebuah kastil megah menjulang sombong di atas tebing curam, tampak seperti reruntuhan yang dilupakan waktu. Namun, di balik dinding-dinding bisunya, bersemayam makhluk yang tak hidup, dan tak pula mati.


"Sepuluh tahun lagi," gumam Draicelus dengan seringaian. Fisiknya tak menua sedikit pun sejak delapan tahun yang lalu. Kini dia duduk di atas singgasana yang didominasi warna merah dan hitam.


"Benar, Yang Mulia. Para manusia itu mengira bahwa delapan belas tahun adalah waktu yang lama. Tapi bagi kita, rasanya hanya menunggu delapan belas hari saja," sahut orang kepercayaannya. Dia bernama Hilderic, seorang vampir yang seusia dengan Draic.


"Tapi, kenapa kita harus melepaskan Victoria selama itu jika kita bisa memilikinya saat ini juga?" tanya Lilith—bibi Draic, wanita itu tampaknya tak setuju dengan keputusan keponakannya.


"Kita tidak bisa mengurus bayi kecil, Bibi. Biarkan dia menikmati kehidupannya di Velendria. Setelah itu, dia akan menjadi ratu di Vladareth," ujar Draic seraya bangkit dan turun dari singgasana, "untuk sementara," tambahnya.


Dia berjalan dengan langkah tegas menuju ruang bawah tanah. Sebuah ruangan lembap yang hanya diterangi lilin-lilin kecil di dindingnya.


Di ujung ruangan, tampak dua buah peti mati—berdiri tegak dengan dua tubuh yang telah tertidur selama lima ratus tahun di dalamnya. Seorang pria dan wanita yang mengenakan pakaian serba hitam. Draic berdiri di hadapan keduanya. Mendongak, memandangi mereka dengan tatapan sayu.


"Untuk ribuan kalinya, maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku pada kalian. Bersabarlah," katanya lirih.


Lalu, Draic mundur beberapa langkah dan duduk bersandar di sebuah kursi di tengah ruangan. Matanya memandang ke langit-langit. Terukir empat gambar mirip simbol. Mawar, tetesan darah, mahkota, dan seorang gadis. Tepat di tengah simbol-simbol itu, terdapat ukiran berbentuk bulan berukuran besar.


Draic menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Seketika bayangan masa lalu—tepatnya lima ratus tahun silam—kembali menghampiri ingatannya.


Saat itu, Draic yang masih berusia dua ratus tahun, tak sengaja sampai di Wyvernland. Dia meninggalkan Vladareth karena merasa kesal dimarahi kedua orang tuanya, perkara bersikap tak sopan saat jamuan makan malam bersama para petinggi kerajaan.


Draic berjalan dengan kaki mengentak-entak tanah. Tatapan tajamnya mengarah ke depan, dan bibirnya mengerucut.


Sesekali Draic menoleh ke belakang sambil menggerutu. "Karena hal kecil mereka memarahiku di depan banyak orang. Mau ditaruh di mana harga diriku ini."


Dia terus melangkah hingga memasuki sebuah desa penyihir di dalam hutan yang letaknya cukup jauh dari Vladareth. Dedaunan di sana tak hanya berwarna hijau. Ada yang merah tua, ungu, kuning keemasan, bahkan biru tua. Tanaman-tanaman sulur memenuhi sisi kanan dan kiri jalannya yang terbuat dari batu bersusun dengan ukiran mantra-mantra magis. Kunang-kunang beterbangan layaknya penerangan alami desa tersembunyi itu.


Langkah Draic terhenti sebelum menginjak bebatuan jalan itu. Dia mengedarkan pandangan, memperhatikan pepohonan di sana. Sekali lagi dia menoleh ke belakang. Sadar bahwa dia sudah jauh meninggalkan rumah. Tapi, rasa kesal mengalahkan akal sehatnya. Daripada kembali ke kastilnya, dia lebih memilih masuk semakin dalam ke desa itu.


Tak lama kemudian, rumah-rumah dengan ukuran mini yang terbuat dari batu yang dipahat, semakin membuat rasa penasaran Draic memuncak. Dia mengendap-endap. Mematai para penghuni desa yang hampir semuanya mengenakan baju panjang cokelat serta topi runcing.


Tepat di tengah-tengah desa, terdapat sebuah menara yang menjulang tinggi. Sangat jauh berbeda ukurannya dengan rumah-rumah mereka yang tampak seperti rumah kurcaci.


Draic terus memperhatikan, ketika salah satu dari mereka sedang memimpin perkumpulan. Dia adalah Olore, seorang tetua di desa itu. Caranya berpakaian berbeda dari yang lain. Bukan hanya dia, tapi wanita di sebelahnya juga. Mereka berdua mengenakan pakaian panjang berwarna hitam dilengkapi kalung yang Draic yakini menyimpan kekuatan besar. Terlihat dari warna batunya yang menyala.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" gumam Draic bertanya-tanya.


Olore mengangkat tongkatnya. Dalam sekejap mata, seberkas cahaya merah menyalur dari menara ke tongkat pria itu. Dahi Draic semakin berkerut hingga cahaya itu menghilang.


"Tower ini adalah sumber kekuatan di desa kita. Kita semua harus menjaganya dengan segenap jiwa dan tanpa rasa takut untuk mati!" ucap Olore dengan tegas. Para penyihir di sekelilingnya mengangguk mantap—menyetujui sang tetua.


Lihat selengkapnya