Fajar mulai menyingsing ketika Arman tiba di kaki sebuah gunung yang menjulang tinggi. Kabut tebal menyelimuti jalan setapak menuju puncak. Di balik kabut itu berdiri sebuah bangunan kuno yang telah ada sejak ribuan tahun lalu—Kuil Langit Ketujuh.
Setiap langkah yang diambil Arman terasa semakin berat. Lambang VII di lengannya memancarkan cahaya redup, seolah menunjukkan arah yang benar.
Ketika ia tiba di gerbang kuil, dua patung raksasa berbentuk kesatria perlahan bergerak. Mata batu mereka menyala biru, lalu sebuah suara bergema.
"Hanya pewaris VII Deibus yang dapat memasuki kuil ini. Buktikan bahwa kau pantas."
Belum sempat Arman menjawab, kedua kesatria batu itu menghunus pedang dan menyerangnya.
Arman segera mengangkat pedang hitam warisan VII Deibus. Dentingan logam menggema di seluruh halaman kuil. Serangan demi serangan berhasil ia hindari, tetapi tenaga Arman mulai terkuras.