Bunyi itu terlalu keras. Seperti hantaman godam yang memecah malam.
Tak ada satu pun insan di sana yang tenang. Semua kaget, tegang, sebagian pedestrian histeris. Mobil-mobil terpaksa berhenti, macet. Hanya sebentar klakson mengudara sebelum semua berubah membeku ketika memahami apa yang tengah terjadi.
Satu pintu mobil bagian pengemudi menguak. Dalam keadaan yang begitu kacau dia bergerak; lelaki berjaket hitam itu. Kedua kakinya lemah, hampir tidak kuat melangkah usai keluar sempurna dari Altis peraknya.
Mulutnya terbuka sedikit, tapi dia keburu jatuh tersandung sepatunya sendiri. Kedua telapak tangan turut terempas di atas genangan merah yang terus merambati aspal.
"A ... Aren ...." Dia berbisik. Tubuhnya bergerak sedikit demi sedikit ke arah perempuan yang terbujur. Mata indah itu terjaga, tapi tiada sorot optimis seorang manusia.
"AREN!"