Aren bermimpi malam itu.
Sana sini gelap. Aren duduk di kursi memanjang. Laki-laki tidak dikenal memuji bumbu kacang buatan Aren yang tersedia di atas sate. Sementara perempuan lain—juga tidak dikenal—berdiri di depan gerobak, membumbui sate hanya dengan kecap dan irisan bawang merah.
Aren menjadi orang ketiga di situ.
Bumbu kacang kamu enak.
Aku bosen sama sambal kecap terus.
Ada kebanggaan sebab dipilih, dan ganjil sekaligus. Lalu keadaan menegang ketika Aren melangkah keluar gang.
Aspal berlubang menghalangi Aren berjalan cepat. Becek mengenai punggung kaki, istri dari lelaki tak dikenal mengikuti Aren di belakang. Tangan satu memegang pisau, dan satunya talenan.
Sampai di dalam kendaraan umum, perempuan itu masih mengikuti Aren dengan benda yang sama.
Cemas, tidak aman, takut, semua itu mengelilingi perasaan Aren.
Angkot kemudian memasuki terowongan. Di sana amat terang, Aren memejam dan perempuan itu menghilang. Fragmen berganti, suasana lebih nyaman. Aren duduk di sofa rumahnya. Tidak asing. Ia melakukan hal persis di hari-hari biasa jika pekerjaan rumahnya sudah selesai.
Jempolnya menggulir layar. Membaca curahan hati orang-orang melalui Threads.
Postingan berisi keluh kesah seorang menantu menjadi perhatian Aren.
Masuk kolom komentar, balasan mereka yang mengalami hal serupa ikut menumpuk, selayaknya meja pertandingan soal siapa yang lebih menderita.
Berbagai masalah terkait mertua tidak ada habisnya. Seperti mertua yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya, mertua yang menggunakan perabot menantu tidak dikembalikan lagi ... Aren lantas memahami bahwa ada banyak cobaan ketika kita mulai berumah tangga. Namun, mengapa Tuhan beri Aren cobaan suami berpaling hati?
Ketakutan dan rasa tidak aman kembali mendominasi ketika suara-suara tidak jelas asalnya menyeruak.
Aren masih bisa toleransi seandainya harus tinggal bersama mertua.
Aren akan sabar jika konflik hanya seputar mertua.
Ini tidak adil.
Ini menyakitkan.
Kedua mata Aren membuka spontan, badannya tegang. Kaki terasa kaku. Aroma asing menyapa dinding hidung, dan ... selang infus membuat tangannya pegal.
Aren sempat lupa apa yang terjadi, tapi satu yang pasti, perutnya nyeri sekali.
•••
"Perempuan yang kamu nikahi, apa bener kamu mencintainya, seperti kamu mencintai aku?"
Iya.
Tentu saja.
Sekarang, jika kalimat itu ditanyakan sekali lagi, Senan akan menjawab tegas, dengan keyakinan penuh, tanpa perlu melihat bagaimana lukanya.
Anggap Senan memang masih menyimpan cinta untuk Sania, tapi rasa itu bukan apa-apa dibanding sayangnya kepada Aren. Perasaan sesaat bikin jalan Senan tersesat.
"Aku yang salah."