Rumah ini tidak berteriak. Tidak ada piring yang dilempar ke lantai hingga hancur berkeping-keping, tidak ada suara pintu yang dibanting dengan kemarahan yang meluap-luap, dan tidak ada makian yang memecah keheningan malam ini. Yang ada hanyalah sunyi. Sunyi yang sangat pekat, sunyi yang menekan dada, sunyi yang seolah-olah punya beratnya sendiri.
Aku duduk di sofa tua di ruang tamu kami. Sofa ini warnanya sudah agak memudar, mungkin karena dimakan usia atau mungkin karena aku terlalu sering duduk di sini, merenung, menatap jam dinding yang detaknya terasa begitu lambat dan menyiksa. Tik-tak, tik-tak. Setiap detik seolah mengejek ku, mengingatkanku bahwa waktu yang kuhabiskan di sini hanyalah sebuah pemborosan.
Satu setengah tahun. Itu saja waktu yang kami miliki.
Dunia mungkin bilang satu setengah tahun itu singkat. Tapi bagiku, itu terasa seperti satu abad yang melelahkan. Aku menatap lurus ke arah pintu kamar kami yang kosong tertutup rapat. Karena Maya sudah pergi dari rumah ini, dan tinggal dengan orang tuanya setelah keputusan ku. Kami tidak lagi bicara. Bukan karena kami benci sampai ingin saling membunuh, tapi karena kami sudah benar-benar kehabisan kata-kata. Kami sudah sampai di titik di mana setiap percakapan hanya akan berujung pada pertengkaran kecil yang tidak ada ujungnya, atau lebih buruk lagi, pada keheningan yang panjang dan mematikan.
Aku bukan pria yang punya banyak teori tentang hidup. Aku hanyalah pria biasa. Tidak ada gelar prestisius yang bisa dibanggakan, tidak ada harta yang berlimpah untuk dipamerkan di meja makan. Dulu, saat kami memutuskan untuk menikah, aku merasa aku adalah orang paling beruntung di dunia. Aku pikir, kalau aku cukup sabar, kalau aku cukup bekerja keras, dan kalau aku bisa menjadi pendengar yang baik, semuanya akan baik-baik saja. Aku pikir cinta adalah bahan bakar yang cukup untuk membuat mesin pernikahan ini terus berjalan.
Ternyata aku naif. Sangat naif.
Ternyata, cinta—atau apa pun perasaan yang dulu kami sebut sebagai cinta saat kami berdiri di depan altar—tidak pernah cukup untuk menambal jurang perbedaan yang makin hari makin lebar di antara kami. Kami seperti dua garis yang awalnya terlihat sejajar, namun perlahan tapi pasti, semakin lama kami berjalan, semakin jauh kami menjauh. Aku melihat semua keadaan itu dari ambang pintu, dan aku sadar, kebohongan terbesar yang pernah kukatakan adalah kepada diriku sendiri, bahwa "nanti juga akan membaik."
Tidak ada yang membaik. Semuanya memburuk secara perlahan, seperti tetesan air yang perlahan-lahan mengikis batu karang. Dulu, mungkin kami bisa tertawa karena hal-hal kecil. Sekarang, bahkan suara napas satu sama lain pun terasa mengganggu. Aku merasa seperti orang asing yang tinggal di rumah sendiri. Aku adalah tamu yang tidak diinginkan di dalam pernikahan yang kubangun dengan tanganku sendiri.