Proses perceraian itu sendiri tidak se-dramatis film-film yang sering ditonton. Tidak ada teriakan di ruang sidang, tidak ada bantingan pintu yang memekakkan telinga saat kami keluar dari gedung pengadilan. Yang ada hanyalah kertas-kertas formal, stempel basah yang membubuhkan kata "Sah" di atas keputusan hukum, dan keheningan yang memuakkan. Semuanya berjalan cepat, dingin, dan sangat klinis. Seolah-olah sepuluh menit di depan hakim mampu menghapus satu setengah tahun sejarah kami begitu saja.
Setelah semuanya selesai, Maya pergi dengan dunianya sendiri, dan aku... aku kembali ke rumah yang dulu kami sebut sebagai tempat bernaung. Namun, begitu aku melangkah masuk ke dalam rumah itu, suasananya sudah berubah total. Bukan karena furniturnya berpindah, bukan karena cat temboknya memudar, melainkan karena "jiwa" dari rumah itu sudah hilang. Rumah itu tidak lagi terasa seperti rumah; ia hanyalah sekumpulan batu bata, semen, dan atap yang menaungi ruang-ruang kosong.
Satu minggu pertama setelah perpisahan adalah masa yang paling menyesakkan. Aku merasa seperti orang yang baru saja selamat dari kecelakaan besar, terdampar di pantai sendirian, dan harus belajar berjalan lagi dengan kaki yang pincang. Setiap sudut rumah mengingatkanku pada sesuatu. Di meja makan itu, kami pernah duduk berdua, mencoba berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja meski di dalam hati kami tahu ada api yang mulai membakar pondasi hubungan kami. Di sudut ruang tamu itu, ada kenangan tentang malam-malam di mana kami memilih untuk diam daripada berdebat.
Aku bukan pria yang punya banyak pelarian. Aku tidak pergi ke bar, aku tidak mencari hiburan malam, dan aku tidak punya teman yang bisa kupanggil untuk sekadar menemaniku. Aku lebih memilih untuk tenggelam dalam kesunyian ku sendiri. Kesunyian itu terkadang terasa seperti air yang menenggelamkan, pelan-pelan mengisi paru-paruku sampai aku sulit bernapas.
Tantangan tersulit sebenarnya bukan soal kehilangan Maya sebagai pasangan, melainkan soal menjawab pertanyaan dunia luar. Setiap kali bertemu teman lama, rekan kerja, atau kerabat, pertanyaan yang sama selalu muncul dengan nada yang berbeda-beda. "Kok bisa? Ada apa? Siapa yang salah? Kenapa tidak dipertahankan?"
Awalnya, aku mencoba menjawab. Aku mencoba menjelaskan bahwa kami sudah tidak cocok, bahwa perbedaan prinsip kami terlalu tajam untuk disatukan. Tapi kemudian aku sadar, orang-orang tidak benar-benar menginginkan jawaban. Mereka hanya ingin tahu siapa yang harus disalahkan. Bagi mereka, sebuah perceraian selalu punya pelaku dan korban. Dan karena aku adalah pria yang "biasa", pria yang tidak punya karir cemerlang yang bisa dibanggakan atau kekayaan yang bisa menutupi kekurangan, aku sadar posisiku di mata masyarakat saat itu, akulah yang kemungkinan besar dianggap "tidak becus" mengurus rumah tangga.
Aku tidak menyalahkan mereka. Bagaimana mungkin mereka mengerti? Bagaimana mungkin aku menjelaskan bahwa pernikahan adalah dua orang yang mencoba menjadi satu, dan ketika salah satu atau keduanya lelah berpura-pura, ikatan itu akan putus dengan sendirinya? Aku mulai menarik diri. Aku berhenti menjawab pesan, aku menolak ajakan makan siang, dan aku mulai menjadi sosok yang tidak terlihat di lingkunganku.