Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #3

Chapter #3 Menghapus Jejak dan Memulai dari Titik Nol

​Setelah palu hakim diketuk, aku menyadari satu hal dimana aku tidak bisa lagi tinggal di tempat yang sama. Proses perceraian yang memakan waktu enam bulan sejak pengajuan di KUA itu akhirnya sampai di ggaris akhir Ada sebuah ironi pahit yang membuatku tertegun saat memegang surat cerai itu. Tanggal dan bulan putusan perceraian kami ternyata sama persis dengan tanggal dan bulan saat kami dulu mengikat janji pernikahan, hanya terpaut tahun yang berbeda. Seolah-olah takdir sedang mengejekku; menutup buku yang sama di hari yang sama pula.

​Rumah itu, dengan setiap sudutnya yang menyimpan memori tentang kegagalan pernikahan kami, perlahan-lahan mulai terasa seperti racun bagi kewarasanku. Aku memutuskan untuk melakukan pembersihan total. Aku menjual rumah itu dan kendaraan yang dulu kami gunakan bersama. Banyak orang bilang aku naif. Mereka tidak mengerti bahwa bagiku, harta itu adalah beban masa lalu yang harus kubuang agar aku bisa bernapas.

​Keputusanku bulat yaitu aku membagi hasil penjualan harta itu menjadi dua bagian. Lima puluh persen kuberikan sepenuhnya kepada mantan istriku, dan lima puluh persen sisanya kuberikan untuk anak kami yang saat itu baru berusia satu tahun empat bulan Aku tidak mengambil sepeserpun untuk diriku sendiri. Aku ingin memutus semua rantai yang mengikatku dengan masa lalu. Aku tidak ingin mengingat, tidak ingin menghitung, dan tidak ingin ada urusan harta lagi yang menyisakan benci di kemudian hari. Aku hanya ingin pergi dengan bersih.

​Namun, bagian yang paling menghancurkan dalam proses ini bukanlah soal harta, melainkan soal anakku. Secara hukum, hak asuh anak sebenarnya jatuh ke tanganku. Tapi aku mengambil keputusan yang paling menyakitkan bagi seorang ayah yaitu aku membiarkan anakku pergi dibawa mantan istriku ke kota asalnya.

​Orang mungkin menganggapku gila atau menyerah. Tapi, saat itu, aku melihat anakku sebagai satu-satunya alasan mengapa aku bisa bertahan dalam badai pernikahan yang berantakan selama satu setengah tahun. Anak itu adalah cahayaku. Dan karena aku begitu mencintainya, aku tidak ingin dia tumbuh besar di dalam rumah tangga yang hancur, mendengar pertengkaran kami, atau merasakan ketegangan yang menyesakkan setiap hari. Aku takut kesehatan mentalnya akan terganggu. Aku memilih untuk melepaskannya ke tempat yang, menurut pikiranku saat itu, akan lebih damai baginya daripada harus tinggal bersamaku di tengah kehancuran ini.

​Hingga hari ini, aku masih sangat mencintainya. Meski jarak memisahkan kami, aku selalu berusaha mengontrol dan memantau perkembangannya sebisa mungkin. Dia adalah separuh jiwaku yang terpaksa kutinggalkan demi kebaikannya sendiri.

​Setelah semua urusan selesai, aku benar-benar berada di titik nol. Aku melepaskan segalanya. Aku juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku di perusahaan asing asal Amerika. Di kantor, aku adalah sosok yang dihormati, memiliki posisi tinggi, dan berprestasi. Tapi, ironinya, mantan istriku tidak pernah benar-benar tahu apa pekerjaanku, apa jabatan ku, atau bagaimana kerasnya aku bekerja. Baginya, aku hanyalah mesin pencetak uang. Dia tidak pernah bertanya bagaimana lelahnya aku, dia hanya bertanya kapan gaji bulanan akan turun.

Lihat selengkapnya