Setelah beberapa bulan menjalani hidup sebagai "si pria biasa" di tempat kerja yang baru, aku merasa seperti seseorang yang baru saja bangun dari koma panjang. Aku menikmati anonimitas itu. Tidak ada yang tahu bahwa dulu aku adalah orang yang memegang jabatan krusial di perusahaan asing Amerika. Tidak ada yang tahu bahwa aku pernah memiliki rumah, mobil, dan kehidupan yang tampak mapan di mata orang luar. Di tempat kerja yang baru ini, aku hanyalah salah satu staf di antara ratusan orang lainnya. Aku datang pagi, pulang sore, mengerjakan tugasku dengan rapi, lalu kembali ke kontrakanku yang sederhana.
Itu adalah kehidupan yang damai. Aku tidak lagi merasa dipantau, tidak lagi harus menanggung ekspektasi tinggi, dan yang paling penting, tidak ada lagi drama rumah tangga yang menguras emosi. Aku merasa seperti air yang mengalir tenang di selokan, tidak menarik perhatian, tapi tetap bergerak maju.
Namun, hidup punya caranya sendiri untuk mengingatkan bahwa masa lalu—terutama keahlian yang sudah tertanam di dalam dirimu—tidak bisa disembunyikan selamanya. Seberapa keras pun aku mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja, jam terbang yang kubawa dari perusahaan lamaku membuatku memiliki insting profesional yang sulit untuk dimatikan. Saat ada masalah teknis atau kebuntuan dalam proyek di kantor baru, aku seringkali secara tidak sengaja memberikan solusi yang seharusnya tidak terpikirkan oleh staf level bawah. Aku melakukan itu karena naluri, bukan karena ingin pamer. Tapi, di dunia korporat, efisiensi selalu punya mata.
Suatu hari, perusahaan mengadakan pertemuan besar yang melibatkan departemen strategis. Aku, yang biasanya hanya duduk di barisan belakang dalam rapat-rapat kecil, mendadak dipanggil untuk masuk ke dalam tim ad-hoc karena keahlian yang kubutuhkan dianggap krusial untuk proyek tersebut. Aku menghela napas panjang saat menerima memo itu. Aku tidak ingin menonjol, tapi aku juga tidak bisa menolak tugas tanpa terlihat seperti orang yang tidak berkompeten.
Hari itu, suasana kantor mendadak berubah. Ada desas-desus bahwa petinggi dari kantor pusat, akan datang untuk melakukan peninjauan langsung. Semua orang di kantor tampak sibuk, memakai pakaian terbaik mereka, dan berusaha memberikan kesan pertama yang sempurna. Aku? Aku hanya memakai kemeja yang rapi—sederhana dan apa adanya. Aku tidak peduli pada kesan apa yang akan kudapatkan. Fokusku hanyalah menyelesaikan proyek ini dan kembali ke meja kerjaku yang tenang.
Lalu, dia masuk ke ruangan rapat.
Saat itu juga, suasana ruangan yang tadinya bising mendadak senyap.
Dia berjalan dengan langkah yang pasti dan penuh wibawa. Fisiknya langsung menarik perhatian siapa saja yang ada di ruangan itu. Tubuhnya tinggi ramping, dengan postur tegak sempurna, seolah-olah dia selalu siap untuk berjalan di runway. Rambut hitamnya tergerai lurus dan rapi, membingkai wajahnya yang memiliki perpaduan unik ada garis rahang yang tegas khas Eropa, namun dengan mata berbentuk almond yang tajam dan misterius, sebuah warisan dari darah Jepang dan Tionghoa yang mengalir di nadinya.
Dia tampak seperti seseorang yang terbiasa memerintah dan dihormati. Auranya dingin—sangat dingin—dan intimidatif bagi siapa saja yang baru pertama kali bertemu dengannya. Dia tidak menebar senyum murah. Dia memindai ruangan itu dengan tatapan mata yang tajam, seolah sedang menganalisis setiap detail, setiap orang, dan setiap kelemahan yang ada di sana.
Aku, yang duduk di kursi sudut, hanya memperhatikannya sekilas sebelum kembali menunduk ke arah dokumen di depanku. Aku tidak tertarik pada drama atau politik kantor, apalagi pada wanita-wanita dari kalangan "atas" seperti dia. Dunianya dan duniaku adalah dua garis yang tidak akan pernah bersinggungan. Dia adalah bintang di langit yang tinggi, dan aku hanyalah kerikil di tanah.