Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #5

Chapter #5 Tinjauan di Bawah Terik

Pagi itu, udara terasa lebih berat dari biasanya. Aku berdiri di depan lobi kantor, menunggu jemputan yang dijanjikan. Mengenakan kemeja katun standar dan celana bahan yang sudah mulai menipis warnanya, aku merasa sangat kontras dengan gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi area ini. Hidupku selama beberapa bulan terakhir telah membentuk ritme yang tenang dimana bangun pagi, sarapan sederhana di warung pinggir jalan, lalu naik angkutan umum menuju kantor. Tidak ada ekspektasi tinggi, tidak ada dasi yang mencekik, tidak ada rapat-rapat yang menentukan nasib ratusan karyawan.

​Namun, hari ini, ritme itu terganggu. Sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik meluncur pelan dan berhenti tepat di depanku. Kaca jendela belakang perlahan turun, memperlihatkan sosok Citra. Dia mengenakan kacamata hitam dengan bingkai elegan, namun tatapannya dari balik lensa itu seolah bisa menembus apapun yang dia lihat. Dia tidak melambaikan tangan, hanya memberikan anggukan kecil—sebuah instruksi tanpa kata agar aku segera masuk.

​Aku membuka pintu mobil itu, dan seketika, aroma parfum yang mahal namun lembut menyambutku. Di dalam mobil, suasananya senyap. Sopir pribadinya duduk diam, sementara Citra tampak sibuk dengan tablet di tangannya. Aku memilih untuk duduk di sudut, menatap ke luar jendela, memandangi kota yang perlahan terbangun. Aku ingin menjaga jarak, ingin menunjukkan bahwa aku hanyalah staf teknis yang kebetulan diminta bantuannya, bukan seseorang yang sedang berusaha mencari perhatian.

"Kamu sudah pelajari dokumen yang aku kirimkan semalam?" tanyanya tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet. Suaranya dingin, namun memiliki nada perintah yang tidak bisa dibantah.

"Sudah, Citra," jawabku singkat. Aku tidak menyebutnya "Bu" karena dia memintaku memanggil namanya, meski aku tahu itu adalah ujian tersendiri.

"Dan?" dia menunggu kelanjutannya.

"Ada beberapa poin di bagian logistik yang menurut saya kurang efisien untuk kondisi lapangan saat ini. Kita tidak bisa menggunakan sistem just-in-time sepenuhnya di lokasi tersebut karena akses jalan yang sulit. Kita butuh stok cadangan di tempat," jelas ku tenang.

​Citra terdiam sejenak. Dia menurunkan tabletnya, lalu melepas kacamata hitamnya. Mata almond-nya yang tajam menatapku—tatapan yang benar-benar membedah. Itu bukan tatapan wanita yang sedang menggoda, melainkan tatapan seorang predator bisnis yang sedang mengukur kemampuan mangsanya. "Menarik. Tim sebelumnya bersikeras bahwa sistem yang sekarang sudah yang terbaik. Mereka tidak mau mengambil risiko stok berlebih karena biaya gudang."

"Sistem itu terlihat bagus di atas kertas, di kantor pusat yang AC-nya dingin," sahutku pelan. "Tapi di lapangan, kalau truk terjebak lumpur atau ada hambatan teknis, teori itu akan hancur berantakan. Biaya keterlambatan akan jauh lebih mahal daripada biaya sewa gudang sementara."

​Citra tidak menjawab. Dia hanya kembali menatap layar tabletnya. Aku merasa lega dia tidak bertanya lebih jauh. Aku tidak ingin dia tahu bahwa cara berpikir aku seperti ini adalah hasil dari bertahun-tahun aku memegang posisi manajerial di perusahaan asing yang menuntut efisiensi hingga ke titik koma. Aku ingin tetap menjadi Yos yang "biasa", pria yang hanya tahu caranya bekerja dengan benar, bukan pria yang punya ambisi untuk merangkak naik kembali ke puncak.

​Sesampainya kami di lokasi proyek—sebuah area pengembangan yang masih berantakan dengan tanah merah dan alat berat—Citra menunjukkan sisi lain dari dirinya. Dia tidak memakai sepatu hak tinggi seperti yang kupikirkan. Dia mengenakan sepatu bot yang praktis, meski tetap terlihat berkelas dengan kemeja putih yang digulung lengannya. Dia berjalan di atas tanah yang becek dengan langkah yang percaya diri. Beberapa mandor proyek tampak gugup saat melihatnya datang. Mereka mencoba memberikan penjelasan yang berbelit-belit, penuh dengan alasan kenapa progres proyek melambat.

​Citra mendengarkan dengan sabar, namun raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan yang nyata. Dia membiarkan para mandor itu bicara, lalu dengan satu-dua pertanyaan tajam, dia meruntuhkan argumen mereka. Itu adalah tontonan yang menarik. Dia memiliki otoritas yang tidak perlu diteriakkan; cukup dengan tatapan mata dan pertanyaan yang tepat sasaran, orang-orang di depannya sudah merasa terintimidasi.

Lihat selengkapnya