Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #6

Chapter #6 Di Balik Pintu Ruang Direksi

Esok harinya di Kantor Pusat.

​Pintu ruang rapat itu terasa seberat gerbang kastil yang kuno dan dingin. Saat aku melangkah masuk, suara percakapan yang tadinya riuh mendadak meredup, menyisakan denting cangkir kopi yang beradu dengan tatapan-tatapan tajam dari para petinggi perusahaan. Di tengah meja marmer yang panjang dan megah itu, Citra duduk dengan posisi yang dominan. Dia tampak seperti seorang ratu yang sedang mendengarkan laporan dari para menterinya.

​Aku merasa seperti orang asing yang salah masuk ruangan. Kemeja katun yang kupakai, meski rapi, terasa sangat tidak pas di tengah deretan jas mahal dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan orang-orang di sana. Aku ingin sekali memutar balik badan dan lari kembali ke meja kerjaku yang berdebu di pojok ruangan, di mana hidup terasa jauh lebih sederhana dan aman.

"Silakan duduk, Yos," kata Citra, suaranya memecah keheningan dengan nada yang santai, namun bagi mereka yang berada di ruangan itu, itu adalah perintah mutlak.

​Aku menarik kursi kayu di ujung meja, posisi yang paling tidak menonjol. Aku menunduk, fokus pada dokumen di depanku. Aku tidak ingin bicara, aku tidak ingin terlihat, dan aku sangat berharap rapat ini akan segera berakhir tanpa ada yang menyadari keberadaanku. Tapi sepertinya, nasib punya selera humor yang buruk hari ini.

​Rapat dimulai dengan presentasi proyek yang cukup rumit. Namun, ada satu masalah besar yang sedang dihadapi perusahaan yaitu efisiensi distribusi yang tidak kunjung membaik. Para manajer di meja itu sibuk berdebat, memberikan argumen yang penuh dengan istilah-istilah korporat yang terdengar canggih namun sebenarnya kosong. Mereka berputar-putar dalam lingkaran teori yang tidak menyentuh akar permasalahan.

​Aku mendengarkan mereka dengan sabar, meski di dalam hati aku merasa gemas. Masalahnya sangat mendasar, namun tertutup oleh ego dan ketakutan untuk mengakui kesalahan sistem.

​Tiba-tiba, Citra memotong perdebatan itu. "Cukup," ucapnya dingin. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat padaku. "Yos, apa pendapatmu tentang ini? Kamu yang kemarin turun langsung ke lapangan."

​Jantungku berdegup kencang. Aku tahu ini adalah jebakan, atau mungkin sebuah ujian. Aku bisa saja memberikan jawaban standar, jawaban yang aman, jawaban yang tidak akan menyinggung siapa pun. Tapi, ingatan tentang bagaimana aku dulu bekerja—bekerja dengan hasil nyata, bukan omong kosong—bangkit kembali. Aku tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut hanya karena aku ingin menjadi "si pria biasa".

​Aku menarik napas panjang, menata suaraku agar tetap tenang. "Menurut saya," mulailah aku bicara, "masalahnya bukan pada sistem distribusi itu sendiri, tapi pada titik transfer di pusat logistik. Kita memaksa barang bergerak dalam satu alur yang kaku, padahal kondisi jalanan kita dinamis. Kita harus membagi alur itu menjadi dua jalur independen saat mencapai area transit. Biayanya memang akan sedikit naik di awal, tapi penghematan waktu pengiriman akan menutupi biaya itu dalam waktu kurang dari satu kuartal."

​Ruangan mendadak senyap. Tatapan para direktur itu beralih padaku. Ada keraguan, ada juga tatapan meremehkan. "Siapa staf ini?" gumam salah satu dari mereka. "Apakah dia tahu berapa besar biaya yang dia bicarakan?"

​Aku tidak gemetar. Aku sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Dulu, di perusahaan lamaku, aku adalah orang yang seringkali harus membenturkan logika dengan ego para atasan.

Lihat selengkapnya