Keesokan harinya, suasana kantor benar-benar berubah. Aku datang seperti biasa, berjalan di lorong dengan kepala tertunduk, berharap tidak ada yang menyapaku. Tapi itu hanya angan-angan. Orang-orang yang biasanya hanya melirik sekilas saat aku lewat, kini menoleh. Ada yang tersenyum canggung, ada yang berbisik-bisik, dan ada yang dengan sengaja melambat hanya untuk melihat wajahku. Aku tahu apa penyebabnya. Berita tentang "staf teknis yang membungkam para direktur" sudah menyebar secepat api di padang rumput kering.
Aku benci perhatian ini. Bagiku, anonimitas adalah pelindung. Selama orang tidak tahu siapa aku, selama mereka menganggapku sebagai "Yos si staf biasa", aku aman. Aku tidak perlu membuktikan apa-apa. Tapi sekarang, identitas itu hancur. Aku merasa seperti telanjang di keramaian.
Pagi itu, asisten pribadi Citra mendatangiku di meja kerja. Dia tidak lagi menunjukkan nada meremehkan yang biasanya digunakan kepada staf bawah. Sebaliknya, ada sedikit rasa hormat yang dipaksakan.
"Yos, Ibu Citra meminta kamu ikut aku ke kantor Pusat, dan segera ke ruangannya sekarang," ucapnya singkat.
Aku menghela napas panjang, menatap layar komputerku sebentar—seolah-olah pekerjaan itu bisa menjadi alasan untuk menolak—lalu bangkit. Aku ikut dengan asisten Citra menggunakan mobil perusaan menuju kantor pusat dan di antarkan naik lift menuju lantai paling atas dimana ruangan Citra berada. Setiap langkah terasa berat. Aku merasa seperti sedang berjalan menuju eksekusi. Aku ingin kembali ke hidup yang sederhana, ke hidup yang tanpa drama. Tapi aku sadar, pintu untuk kembali ke sana sudah tertutup rapat.
Ruangan Citra adalah dunia yang berbeda. Luas, dengan jendela kaca yang membentang dari lantai ke langit-langit, menampilkan pemandangan kota Jakarta yang sesak namun indah dari ketinggian. Citra sedang berdiri menghadap jendela itu, memunggungi pintu. Saat dia mendengar suara langkahku, dia tidak segera berbalik.
"Kamu tahu, Yos," suaranya lembut, namun penuh dengan otoritas. "Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang bisa bicara dengan indah. Mereka bisa menyusun presentasi yang memukau, mereka bisa memutar balik fakta dengan kata-kata manis. Tapi, hanya sedikit sekali orang yang bisa melihat masalah tepat di intinya dan memberikan solusi tanpa rasa takut."
Dia berbalik. Wajahnya tidak sedingin kemarin. Ada semburat kelelahan di sana, sebuah sisi manusiawi yang jarang dia tunjukkan. "Setelah rapat kemarin, ada tiga direktur yang meneleponku. Mereka menanyakan siapa kamu. Mereka ingin tahu kenapa staf teknis bisa punya wawasan seperti itu."
"Saya hanya menjawab apa yang perlu dijawab, Citra," jawabku, tetap berdiri di dekat pintu. Aku tidak berniat untuk duduk kecuali dipersilakan.
Citra tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini terasa lebih tulus. "Duduklah."
Aku melangkah maju dan duduk di kursi kulit di seberang mejanya.