Wajah Cinta

G Wira Negara
Chapter #8

Chapter #8 Langkah Pertama Kembali ke Arena

Pagi itu, langkah kakiku terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Aku tidak lagi berjalan menuju gedung kantor ku yang lama, tapi aku pagi ini langsung menuju ke kantor pusat. Hari ini, langkahku membawaku menuju lift lantai atas, menuju ruangan yang selama ini kulihat sangat tinggi.

​Aku sudah memutuskan. Semalam suntuk aku tidak tidur, memikirkan setiap sudut argumen mengapa aku harus menolak, dan mengapa aku harus menerima. Namun, pada akhirnya, jawabannya sederhana. Aku tidak lagi lari dari masa laluku. Jika kemampuan yang kumiliki adalah berkah, maka menguburnya dalam-dalam hanya karena trauma masa lalu bukanlah solusi. Menjadi "orang biasa" tidak seharusnya berarti memadamkan api yang ada di dalam diriku.

​Aku mengetuk pintu kantor Citra. Suara langkahku terdengar asing di lantai yang beralas karpet tebal ini.

"Masuk," suara Citra terdengar dari balik pintu.

​Saat aku masuk, dia sedang menatap layar besar di dinding yang menampilkan data proyek. Dia tidak langsung berbalik, seolah dia sudah tahu bahwa aku akan datang hari ini. "Kamu sudah buat keputusan?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Ya," jawabku, suaraku mantap meski jantungku berdegup kencang. "Saya akan menerima tawaran itu, Citra. Tapi saya punya syarat."

​Citra berbalik, kening nya sedikit berkerut karena penasaran. "Syarat? Jarang ada staf yang memberikan syarat kepada bosnya. Apa itu?"

"Saya tidak ingin ada drama kantor. Saya tidak ingin kehidupan pribadi saya dibicarakan, dan saya tidak ingin diperlakukan secara spesial hanya karena saya sekarang berada di tim Anda. Saya ingin diperlakukan berdasarkan hasil kerja saya, bukan berdasarkan hubungan dekat dengan atasan," kataku tegas.

​Citra terdiam sejenak, lalu dia tersenyum—sebuah senyum yang tipis namun menunjukkan rasa hormat. "Itu bukan syarat, Yos. Itu adalah cara kerja yang seharusnya. Kamu orang pertama yang membuatku merasa bahwa aku tidak perlu menjaga jarak karena posisi. Baiklah, syarat diterima."

​Mulai hari itu, duniaku berubah total. Aku dipindahkan ke ruangan kecil yang bersebelahan dengan ruang kerja Citra. Meja kerjaku bukan lagi meja kayu tua yang berderit, melainkan meja modern yang bersih dan ergonomis. Tidak ada lagi tumpukan kertas yang tidak jelas. Semuanya digital, semuanya terukur. Namun, yang paling terasa bukan perubahan fisiknya, melainkan perubahan tatapan orang-orang di sekitarku.

​Di kantor yang lama, rekan-rekan kerjaku melihatku sebagai "Yos yang pendiam". Sekarang, mereka melihatku sebagai "Yos yang tiba-tiba menjadi orang kepercayaan Citra". Bisik-bisik itu mulai terdengar lagi. "Kok bisa dia?" "Apa hebatnya dia?" "Pasti ada sesuatu di belakangnya."

​Dulu, gosip seperti ini akan membuatku marah dan ingin keluar dari kantor. Tapi kali ini, aku hanya menarik napas panjang dan mengabaikannya. Aku teringat Maya. Jika dulu aku masih bersama Maya, mungkin dia akan bangga dengan kenaikan posisiku ini, tapi bukan karena aku tumbuh secara profesional. Dia akan bangga karena gaji yang akan naik, karena prestise yang bisa dia pamerkan kepada teman-temannya. Dia akan memintaku untuk membeli barang-barang yang tidak perlu hanya untuk menunjukkan bahwa kami "sukses".

Lihat selengkapnya